SULAWESI UTARA
Sulut/block-7/#E4D932
Oleh: [Danil Ngabito]
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, muncul sebuah fenomena yang akrab di kalangan mahasiswa: cuan tipis, gaya mepet. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pemasukan terbatas, tetapi gaya hidup berusaha mengikuti tren yang sedang populer. Secara sekilas hal tersebut tampak sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun di baliknya terdapat risiko perilaku konsumtif yang dapat mengganggu stabilitas keuangan mahasiswa.
Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan pola konsumsi mahasiswa. Platform seperti Instagram, TikTok, dan berbagai aplikasi belanja daring menghadirkan gaya hidup yang serba menarik. Tidak sedikit mahasiswa merasa perlu mengikuti tren pakaian, nongkrong di kafe, membeli gawai terbaru, hingga berburu diskon dan flash sale agar tidak dianggap tertinggal.
Fenomena tersebut diperkuat oleh berbagai penelitian di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan dalam JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis (2025) menemukan bahwa gaya hidup hedonis berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Selain itu, pengelolaan uang saku dan literasi keuangan juga menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan berbelanja.
Temuan serupa dipublikasikan dalam At-Thullab: Jurnal Mahasiswa Studi Islam (2025). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa cenderung berlomba mengikuti tren gaya hidup sehingga pengeluaran untuk hiburan, barang bermerek, dan aktivitas konsumtif meningkat. Penulis penelitian menekankan perlunya peran kampus, keluarga, dan mahasiswa sendiri dalam membangun pola hidup yang lebih seimbang dan bertanggung jawab.
Perilaku konsumtif tidak selalu muncul karena kebutuhan, melainkan sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan akan pengakuan sosial (social recognition). Dorongan untuk tampil menarik di media sosial membuat sebagian mahasiswa rela menghabiskan sebagian besar uang sakunya demi menjaga citra. Akibatnya, tabungan menipis, muncul kebiasaan berutang melalui layanan paylater, bahkan sebagian mahasiswa mengalami tekanan finansial sebelum akhir bulan.
Ironisnya, mahasiswa merupakan kelompok yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Jika sejak masa kuliah sudah terbiasa mengutamakan gengsi dibanding kebutuhan, maka kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga kehidupan setelah lulus. Pendapatan yang meningkat di masa depan belum tentu memperbaiki kondisi keuangan apabila pola konsumsi tetap tidak terkendali.
Fenomena "cuan tipis, gaya mepet" seharusnya menjadi pengingat bahwa kesejahteraan bukan ditentukan oleh seberapa sering seseorang mengikuti tren, melainkan oleh kemampuan mengelola keuangan secara bijak. Literasi keuangan, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta keberanian untuk hidup sesuai kemampuan merupakan bekal penting bagi mahasiswa.
Menjadi mahasiswa tidak harus identik dengan hidup serba mewah. Prestasi akademik, pengalaman organisasi, kemampuan berwirausaha, dan pengembangan keterampilan justru merupakan investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar citra di media sosial. Pada akhirnya, gaya hidup sederhana bukan berarti tertinggal zaman, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengambil keputusan finansial.
Rep: JO
"Seorang pembaca menjalani seribu kehidupan sebelum ia meninggal. Seseorang yang tidak pernah membaca hanya menjalani satu kehidupan." — George R. R. Martin
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Universitas tidak hanya diukur dari jumlah lulusannya, capaian akreditasinya, atau megahnya bangunan yang berdiri di dalamnya. Lebih dari itu, universitas adalah ruang lahirnya tradisi berpikir. Tradisi itu bertumbuh dari satu kebiasaan sederhana yang sering kali luput dari perhatian: membaca.
Sebagai Kampus Peradaban, Universitas Negeri Gorontalo memikul identitas yang sarat makna. Peradaban dalam konteks akademik bukan sekadar slogan institusional, melainkan ekosistem yang menumbuhkan nalar kritis, rasa ingin tahu, dan keberanian melahirkan gagasan. Namun, sebuah pertanyaan layak diajukan: masihkah budaya membaca menjadi denyut kehidupan kampus kita?
Hari ini, pemandangan mahasiswa yang tenggelam dalam buku semakin jarang ditemukan. Layar gawai menjadi ruang paling ramai, sementara rak-rak buku perlahan kehilangan pengunjung. Persoalannya bukan semata-mata pergeseran dari buku cetak ke media digital, melainkan bergesernya cara kita berinteraksi dengan pengetahuan. Informasi dikonsumsi secara cepat, tetapi refleksi semakin dangkal; pengetahuan bertambah, tetapi pemahaman belum tentu tumbuh.
Filsuf Francis Bacon pernah mengatakan, "Reading maketh a full man; conference a ready man; and writing an exact man." Membaca membentuk keluasan berpikir, diskusi melatih kesiapan berargumentasi, dan menulis menempa ketepatan bernalar. Ketiganya adalah fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan akademik.
Ironisnya, budaya instan perlahan menggantikan tradisi intelektual. Banyak yang terbiasa membaca ringkasan, tetapi enggan menyelami gagasan utuh. Kita semakin cepat memperoleh informasi, tetapi semakin sedikit menyediakan waktu untuk merenungkannya. Padahal, kualitas seorang intelektual tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang ia temui, melainkan oleh seberapa dalam ia memaknainya.
Merah maron, warna yang melekat pada almamater Universitas Negeri Gorontalo, semestinya tidak berhenti sebagai simbol kebanggaan. Ia seharusnya menjadi representasi keberanian berpikir, kerendahan hati untuk terus belajar, dan komitmen menjaga tradisi literasi. Sebab identitas akademik tidak dibangun oleh warna almamater, melainkan oleh kebiasaan intelektual warganya.
Carl Sagan pernah mengingatkan, "One of the greatest gifts adults can give—to their offspring and to their society—is to read to children." Esensi pesan tersebut melampaui aktivitas membaca itu sendiri: peradaban yang maju selalu dibangun di atas tradisi literasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi saya, membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bentuk penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Buku mengajarkan bahwa setiap gagasan besar selalu lahir dari kesediaan untuk mendengar pikiran orang lain sebelum menyampaikan pikiran sendiri. Karena itu, saya percaya krisis terbesar yang dihadapi kampus bukanlah minimnya fasilitas, melainkan ketika rasa ingin tahu perlahan kehilangan rumahnya.
Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo, saya berharap Merah Maron tidak hanya menjadi warna yang kita banggakan di dada, tetapi juga menjadi keberanian untuk kembali akrab dengan buku, berdamai dengan sunyi, dan memuliakan ilmu melalui kebiasaan membaca. Sebab, kampus tidak dikenang karena ramainya lorong-lorong kelas, melainkan karena hidupnya tradisi berpikir yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penulis: Rafli Said
"Saya percaya krisis terbesar yang dihadapi kampus bukanlah minimnya fasilitas, melainkan ketika rasa ingin tahu perlahan kehilangan rumahnya."
Rep: JO
KAB. GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Tematik XXX Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) Posko Desa Limehu menggelar penyuluhan bertajuk "Pembuatan Pupuk Organik dari Limbah Sapi dan Kesehatan Hewan" di Aula Kantor Desa Limehu, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas peternak dalam memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk organik sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan hewan sebagai penunjang produktivitas peternakan.
Penyuluhan menghadirkan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, Dr. Ir. Ritha Suzzana Marwati Pombo, S.Pt., M.Si., IPM., sebagai narasumber. Kegiatan juga dihadiri Sekretaris Desa Limehu yang mewakili Kepala Desa, aparatur desa, mahasiswa KKD UMGO, serta masyarakat, khususnya para peternak sapi.
Dalam sambutannya, Sekretaris Desa Limehu mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKD UMGO yang menghadirkan program pemberdayaan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi peternak melalui pemanfaatan limbah yang selama ini belum dikelola secara optimal.
Pada sesi penyuluhan, Dr. Ritha Suzzana Marwati Pombo menjelaskan pentingnya penerapan manajemen kesehatan hewan, mulai dari pemeliharaan yang baik, pencegahan penyakit, pemberian vitamin, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala. Ia juga memaparkan tahapan pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas lahan pertanian.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, tim Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo bersama mahasiswa KKD UMGO memberikan layanan pemeriksaan kesehatan ternak dan pemberian vitamin secara gratis kepada sapi milik warga. Layanan ini bertujuan mendeteksi secara dini kondisi kesehatan ternak serta meminimalkan risiko penyakit yang dapat memengaruhi produktivitas peternakan.
Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi aktif para peternak selama kegiatan berlangsung. Selain mengikuti penyampaian materi, peserta juga memanfaatkan sesi diskusi untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan ternak maupun pemanfaatan limbah peternakan.
Koordinator Desa (Kordes) KKD Tematik XXX UMGO Posko Desa Limehu, Muammar Ilham S. Jasin, mengatakan bahwa program tersebut disusun berdasarkan hasil identifikasi potensi dan kebutuhan masyarakat selama pelaksanaan KKD.
"Kami melihat Desa Limehu memiliki potensi peternakan yang cukup besar. Karena itu, program yang kami laksanakan tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Kami berharap peternak mampu mengelola limbah ternak menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomis sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan ternak sebagai aset utama dalam usaha peternakan," ujarnya.
Muammar menambahkan, keberhasilan pembangunan desa memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, kehadiran mahasiswa melalui program KKD diharapkan mampu menjadi jembatan transfer pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang sesuai dengan potensi lokal.
"Kami berharap sinergi yang terbangun dalam kegiatan ini tidak berhenti pada penyuluhan semata, tetapi dapat menjadi awal dari upaya pemberdayaan yang berkelanjutan. Ketika ilmu pengetahuan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga berdampak pada peningkatan produktivitas pertanian, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat desa," katanya.
Melalui kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Pemerintah Desa Limehu, dan Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas peternak dalam mengelola usaha peternakan secara berkelanjutan. Di sisi lain, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik dan peningkatan layanan kesehatan hewan diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendukung pembangunan sektor peternakan yang produktif, ramah lingkungan, dan berdaya saing di Desa Limehu.
Rep: JO
Ditulis oleh Moh. Zainal Mooduto
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Keberhasilan sering kali dipersepsikan sebagai hasil dari kecepatan. Banyak orang berlomba menjadi yang pertama, mengejar pencapaian secepat mungkin, bahkan tanpa menikmati proses yang sedang dijalani. Padahal, kehidupan tidak pernah mengukur seseorang dari siapa yang lebih dulu sampai, melainkan dari siapa yang mampu bertahan dalam perjalanan, menjaga komitmen, dan menyelesaikan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab.
Proses merupakan ruang pembelajaran yang membentuk karakter seseorang. Di dalamnya terdapat kegagalan, evaluasi, pengorbanan, hingga berbagai tantangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Justru melalui proses itulah seseorang belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, dan lebih kuat menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Tidak ada perjalanan yang benar-benar mudah, tetapi setiap langkah selalu memberikan pelajaran yang berharga bagi mereka yang memilih untuk tetap berjalan.
Konsistensi menjadi fondasi utama dalam mencapai tujuan. Semangat yang besar di awal perjalanan bukanlah jaminan keberhasilan apabila tidak disertai dengan ketekunan dan disiplin. Banyak orang memulai dengan penuh antusias, namun hanya sedikit yang mampu menjaga semangat tersebut hingga akhir. Konsistensi bukan berarti selalu berhasil, melainkan keberanian untuk terus mencoba, memperbaiki kesalahan, dan tidak berhenti meskipun hasil yang diharapkan belum terlihat.
Selain konsistensi, tanggung jawab merupakan nilai yang tidak dapat dipisahkan dari proses kehidupan. Tanggung jawab mencerminkan kualitas seseorang dalam memegang amanah, menyelesaikan kewajiban, dan menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Baik dalam dunia akademik, organisasi, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat, seseorang akan lebih dihargai bukan karena seberapa cepat ia mencapai keberhasilan, tetapi karena seberapa besar komitmennya dalam menjalankan setiap tugas dengan penuh integritas.
Setiap individu memiliki waktu, kesempatan, dan garis perjuangan yang berbeda. Oleh karena itu, membandingkan perjalanan diri dengan pencapaian orang lain hanya akan menghilangkan makna dari proses itu sendiri. Yang lebih penting adalah terus meningkatkan kualitas diri, menjaga semangat belajar, serta tetap rendah hati dalam setiap keberhasilan yang diraih. Sebab keberhasilan yang dibangun melalui proses yang panjang akan melahirkan pribadi yang lebih matang dan mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Kehidupan adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab dalam setiap langkah. Mereka yang mampu menjaga konsistensi di tengah berbagai tantangan akan menemukan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang karakter yang terbentuk selama proses berlangsung.
Rep: JO
Oleh: Kevin Lapendos, Pemuda Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan
Kepada Yth. Bapak Dr. H. Anwar Hafid, M.Si.
Gubernur Sulawesi Tengah
BANGGAI KEPULAUAN, SuaraIndonesia1.com – Perkenalkan, saya Kevin Lapendos, seorang pemuda dari Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan. Melalui surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal penting yang menurut saya perlu menjadi bahan evaluasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya terkait respons terhadap berbagai laporan dan aspirasi masyarakat dari wilayah Banggai kepulauan.
Keinginan untuk bertemu langsung dengan Bapak Gubernur sesungguhnya ada. Namun sebagai masyarakat desa yang berada jauh dari pusat pemerintahan provinsi, kami dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Jarak yang jauh, akses transportasi yang tidak mudah, serta biaya perjalanan yang tidak sedikit menjadi kendala utama bagi kami untuk menyampaikan langsung persoalan yang sedang terjadi.
Di tengah keterbatasan itu, saya bersama masyarakat dan pemuda kalumbatan terus mengawal sejumlah dugaan persoalan tata kelola pemerintahan desa yang menurut kami harus ditelusuri secara serius dan transparan. Di antaranya dugaan korupsi yang melibatkan oknum pemerintah desa, dugaan pungutan liar retribusi pasar yang diduga tidak memiliki dasar hukum yang jelas, Polemik TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan KNMP (Kampung Nelayan Merah Putih), dugaan adanya konflik kepentingan atau gratifikasi antara oknum pemerintah desa dengan seorang oknum pengusaha, dugaan markup anggaran bantuan perahu fiber, serta berbagai persoalan lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh aparat yang berwenang.
Semua dugaan tersebut bukan sekadar percakapan tanpa dasar. Berbagai upaya konstitusional telah kami tempuh. Kami telah melakukan aksi demonstrasi, mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama instansi terkait, melakukan audiensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan, hingga menyampaikan laporan resmi kepada pihak kepolisian agar dilakukan penyelidikan sesuai ketentuan hukum.
Namun hingga hari ini, sejak tanggal 26 Maret 2026, masyarakat belum melihat adanya langkah yang benar-benar memberikan kepastian. Yang tampak hanyalah proses pemanggilan yang berulang tanpa informasi yang jelas mengenai perkembangan penanganan laporan tersebut.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah laporan warga biasa memang sulit mendapatkan perhatian serius? Apakah keadilan hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau posisi tertentu?
Hal yang lebih mengherankan adalah adanya penjelasan bahwa laporan akan lebih kuat apabila disampaikan oleh lembaga resmi seperti BPD. Pernyataan semacam ini menimbulkan kegelisahan. Bukankah setiap warga negara memiliki hak yang sama di hadapan hukum?.
Bukankah masyarakat biasa juga memiliki hak untuk melaporkan dugaan pelanggaran tanpa harus membawa jabatan atau status tertentu?
Jika benar ada pandangan bahwa laporan masyarakat harus didukung oleh lembaga resmi agar dianggap layak diproses, maka hal itu tentu menjadi pertanyaan serius tentang sejauh mana akses keadilan benar-benar terbuka bagi seluruh rakyat.
Gubernur Sulteng Yang Saya Hormati,
Masyarakat desa tidak meminta perlakuan istimewa. Kami hanya menginginkan adanya kepastian, transparansi, dan keseriusan dalam menindaklanjuti setiap laporan yang telah disampaikan melalui jalur resmi.
Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena proses yang berjalan terlalu lama tanpa arah yang jelas. Sebab kepercayaan publik adalah fondasi utama pemerintahan yang baik.
Kami percaya bahwa pemerintah hadir bukan hanya untuk masyarakat yang dekat dengan pusat kekuasaan, tetapi juga untuk masyarakat kecil yang hidup di wilayah kepulauan, yang suaranya sering kali terhalang oleh jarak, biaya, dan birokrasi.
Melalui surat terbuka ini, saya meminta kepada Bapak Gubernur Sulawesi Tengah agar memberikan perhatian terhadap berbagai laporan masyarakat yang sedang kami kawal serta mendorong instansi terkait untuk bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Karena negara yang kuat bukan diukur dari megahnya gedung pemerintahan, melainkan dari kemampuannya mendengar suara rakyat yang paling jauh sekalipun.
Kevin Lapendos
Pemuda Desa Kalumbatan
Kabupaten Banggai Kepulauan
Rep: JO
GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Proses penanganan hukum terhadap dugaan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Molamahu, Kabupaten Gorontalo, kembali menuai sorotan dari kalangan aktivis.
Kritik tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Wilayah Provinsi Gorontalo, Rahman Patingki, yang menilai aparat penegak hukum perlu bergerak lebih cepat dan transparan dalam mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal tersebut.
Rahman mengapresiasi langkah awal Polres Kabupaten Gorontalo yang telah mengamankan dua unit alat berat jenis ekskavator yang diduga digunakan dalam aktivitas PETI. Namun, menurutnya, proses penegakan hukum tidak boleh berhenti pada penyitaan barang bukti semata.
"Berdasarkan penjelasan Kasat Reskrim Polres Kabupaten Gorontalo, penyidik masih melakukan pendalaman serta memburu pemilik alat berat dan pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas PETI tersebut. Pernyataan ini harus segera dibuktikan melalui langkah-langkah penyidikan yang konkret," tegas Rahman.
Rahman secara khusus mendesak Kapolres Kabupaten Gorontalo agar segera memanggil dan memeriksa seorang oknum berinisial EW yang menurut informasi yang diterimanya diduga merupakan pemilik dua unit ekskavator yang diamankan polisi. Ia menilai pemeriksaan terhadap pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan alat berat tersebut penting dilakukan guna memperjelas konstruksi perkara.
Selain itu, Rahman juga meminta penyidik untuk memanggil dan memeriksa sejumlah pihak berinisial M, A, BP, C, I, F, R, AT, dan IM, yang menurut informasi yang diperolehnya diduga memiliki peran sebagai koordinator maupun operator alat berat dalam aktivitas pertambangan ilegal tersebut.
"Semua pihak yang diduga mengetahui, mengendalikan, mengoperasikan, maupun memiliki keterkaitan dengan penggunaan alat berat wajib dimintai keterangan. Jangan sampai proses hukum terkesan hanya menyentuh bagian permukaan, sementara aktor-aktor yang diduga memiliki peran penting justru belum diperiksa," ujar Rahman.
Ia menegaskan bahwa penyidik harus bekerja secara profesional, independen, dan tanpa pandang bulu agar kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum tetap terjaga.
Rahman juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menyampaikan laporan resmi kepada Polres Kabupaten Gorontalo. Laporan tersebut, menurutnya, akan berisi informasi dan petunjuk tambahan yang diharapkan dapat membantu penyidik mengungkap kepemilikan dua unit ekskavator yang telah diamankan serta mengembangkan penyelidikan terhadap pihak-pihak yang diduga terkait.
"Kami akan menyerahkan laporan resmi beserta informasi yang kami miliki sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung penegakan hukum. Harapan kami sederhana, yakni agar perkara ini diusut hingga tuntas, transparan, dan seluruh pihak yang nantinya terbukti bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tutup Rahman.
Hingga berita ini disusun, penyidik Polres Kabupaten Gorontalo masih melakukan pendalaman terkait kepemilikan alat berat dan dugaan keterlibatan berbagai pihak dalam aktivitas PETI di Desa Molamahu. Semua pihak yang disebut dalam pemberitaan ini tetap berhak atas asas praduga tak bersalah sampai terdapat hasil penyidikan atau putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Rep: JO
SuaraIndonesia1, Manado - Wujud kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Jamaah Masjid Al Mawaddah Taas dengan menyalurkan bantuan bagi warga yang terdampak musibah kebakaran di Kelurahan Pakowa, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Rabu (5/8/2026).
Bantuan yang disalurkan berupa pakaian layak pakai, paket sembako, sabun, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya. Penyerahan bantuan secara simbolis diserahkan oleh Ketua Badan Takmir Masjid (BTM) Al Mawaddah, Dr. dr. Eko E. Surachmanto, SpPD-KAI, di pelataran Masjid Al Amin Pakowa.
Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus Masjid Al Mawaddah, Ketua BTM Masjid Al Amin Pakowa Kenedy Paputungan, Ketua Lingkungan setempat, serta warga yang menjadi korban terdampak kebakaran.
Bantuan yang dihimpun dari jamaah Masjid Al Mawaddah ini diharapkan dapat meringankan beban para korban sekaligus menjadi penyemangat bagi mereka untuk bangkit setelah mengalami musibah.
Dalam kesempatan itu, Ketua BTM Al Mawaddah, Dr. dr. Eko E. Surachmanto, SpPD-KAI, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk keprihatinan dan kepedulian seluruh jamaah terhadap saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.
"Kami atas nama Jamaah Masjid Al Mawaddah turut prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa warga Kelurahan Pakowa. Bantuan yang kami serahkan hari ini mungkin tidak dapat menggantikan seluruh kerugian yang dialami, namun kami berharap dapat sedikit meringankan beban para korban. Ini adalah wujud kepedulian, kebersamaan, dan semangat saling membantu yang diajarkan dalam kehidupan bermasyarakat," ungkap dr. Eko.
Melalui kegiatan sosial ini, Jamaah Masjid Al Mawaddah berharap semangat gotong royong dan solidaritas antarwarga terus terpelihara, terutama dalam membantu masyarakat yang sedang menghadapi cobaan. (SI1ROM)
Ucapan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap kepemimpinan baru yang diharapkan mampu memperkuat peran organisasi dalam membangun kader-kader muda yang memiliki komitmen, integritas, serta semangat kebangsaan.
Sekertaris DPC REPDEM Jakarta Utara, *JERRY PATTY, S.Pd*
menilai amanah yang kini diemban Monang Tambunan merupakan tanggung jawab besar untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas kaderisasi, serta menanamkan nilai-nilai ideologi yang menjadi landasan perjuangan Pemuda Demokrat Indonesia.
"Kami mengucapkan selamat dan sukses kepada Bapak Monang Tambunan atas terpilihnya sebagai Ketua DPP Pemuda Demokrat Indonesia Bidang Ideologi dan Kaderisasi. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kelancaran dalam menjalankan amanah serta mampu membawa organisasi semakin solid, progresif, dan bermanfaat bagi masyarakat," demikian pernyataan Sekertaris DPC REPDEM Jakarta Utara, Jerry Patty, S.Pd
DPC REPDEM Jakarta Utara juga berharap kepengurusan DPP yang baru dapat terus membangun sinergi dengan seluruh jajaran organisasi di daerah sehingga program-program kaderisasi dan penguatan ideologi dapat berjalan secara efektif serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Report, Ida Ismayani
Dari informasi publik yang diperoleh media ini, Chris Dogopia, dari Tim Kerja Rekonsiliasi, menjelaskan rangkaian prosesi, yang berlangsung sesuai tradisi. Pertama, Prosesi Mansoranda, yaitu prosesi penerimaan saat pertama kali masuk ke rumah. Kedua, prosesi Payasyos, yakni prosesi Pembersihan, sebagai ungkapan permohonan maaf dan perdamaian. Dan ketiga, prosesi Anankayame, yaitu makan bersama sebagai ungkapan sukacita dan persaudaraan.
Suasana haru terasa sepanjang prosesi adat ini. Air mata tumpah dari kedua pimpinan, juga para tokoh yang hadir tak kuasa menahan haru.
Setelah Prosesi Anankayame atau Makan Bersama, acara dilanjutkan dengan Konferensi Pers, yang intinya menyatakan DAP sudah bersatu, sehingga tidak ada lagi DAP Kantor Kampkey dan DAP Kantor Ekspo. "Dengan adanya Rekonsiliasi ini, maka tidak ada lagi dualisme DAP. Tidak ada lagi DAP kantor Ekspo dan DAP Kantor Kampkey, tidak ada lagi DAP Sorabut atau DAP Yarangga. DAP sudah bersatu," tegas Chris Dogopia, Sekretaris Tim Kerja, dalam informasi publik yang disebarkan di media sosial.
Perlu diketahui, dualisme Dewan Adat Papua (DAP) terjadi pasca Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua (KBMAP) III di Byak, 2015 dan Konferensi Luar Biasa Masyarakat Adat Papua (KLBMAP) di Wamena , 2017. Saat itu, KBMAP III memilih dan mengukuhkan Yan Piter Yarangga sebagai Ketua Dewan Adat Papua, sedangkan KLBMAP di Wamena, memilih dan mengukuhkan Dominikus Sorabut sebagai Ketua Dewan Adat Papua.
Terhitung sejak 2015 sampai 02 Agustus 2026, sudah 10 tahun 7 bulan lamanya DAP mengalami dualisme. Waktu yang cukup lama. Kini upaya rekonsiliasi telah menunjukkan hasil yang baik. (cr)
BOALEMO, SuaraIndonesia1.com – Barisan Muda Wonosari (BMW) kembali menghadang satu unit alat berat jenis excavator merek Komatsu yang diduga akan digunakan untuk aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Hutan Sava, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, alat berat tersebut diangkut menggunakan truk trailer dari wilayah Moutong dan diduga akan dibawa masuk ke kawasan Hutan Sava untuk mendukung aktivitas pertambangan ilegal.
Koordinator Barisan Muda Wonosari, Rolin Monoarfa, menegaskan bahwa penghadangan dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga kawasan hutan serta mendukung penegakan hukum terhadap praktik pertambangan tanpa izin yang hingga kini masih menjadi persoalan serius di Wonosari.
"Hari ini kami kembali menghadang satu unit alat berat excavator merek Komatsu yang diduga akan dipergunakan untuk kepentingan aktivitas PETI di kawasan Hutan Sava. Informasi yang kami peroleh, alat tersebut diangkut dari Moutong dan akan dibawa masuk ke wilayah Wonosari," ujar Rolin Monoarfa.
Menurut Rolin, masuknya alat berat ke wilayah yang diduga menjadi lokasi pertambangan ilegal harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Ia berharap tidak ada lagi pembiaran terhadap aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan, lingkungan hidup, serta melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.
BMW juga meminta aparat kepolisian, Balai Gakkum Kehutanan, dan instansi terkait segera melakukan penelusuran terhadap tujuan pengiriman alat berat tersebut, termasuk pihak yang diduga menjadi pemilik maupun pengguna excavator.
"Komitmen kami jelas, kami akan terus mengawal setiap dugaan masuknya alat berat yang akan digunakan untuk aktivitas PETI di Hutan Sava. Kami tidak ingin kerusakan lingkungan terus terjadi akibat praktik pertambangan ilegal," tegas Rolin.
Barisan Muda Wonosari menegaskan akan terus melakukan pengawasan bersama masyarakat sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga kelestarian kawasan Hutan Sava dan mendorong penegakan hukum yang tegas terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam aktivitas pertambangan tanpa izin. (RED)
Gamelan, Karawitan, dan Tari di panggung, edukasi aksara Jawa, dan bahasa Krama Alus melalui Videotron, sedangkan di stand ada kegiatan membatik dan edukasi sejarah Mataram Islam melalui Buku Saku Budaya serta edukasi sejarah Yogyakarta Istimewa melalui Kartu Pos, dalam Festival Budaya Pesona Nusantara #2” yang diselenggarakan Manokwari City Mall tanggal 31 Juli - 02 Agustus 2026.
“Jika STUPA lebih menekankan pada demi memajukan tata kelola sektor pariwisata lokal. Maka WAYANG lebih mengedepankan pengolahan sampah an organik *(plastik) yang membutuhkan waktu 400 Tahun untuk mengurai menjadi tanah, sehingga menjadi barang bernilai ekonomis. Kita jadikan sampah yg menjadi beban lingkungan berubah menjadi pendapatan dan nilai tambah bagi masyarakat*, menambah PAD, mendorong lingkungan pariwisata yang lebih menarik, dan mengurangi beban TPA, mengingat beberapa hari kota Manokwari pernah mengalami “Darurat Asap” yang timbul akibat Pembakaran Sampah.” Jelas Subagyo.
“Program IKBY Manokwari berikutnya yang telah direncanakan adalah pengolahan sampah dengan mesin berteknologi Pirolisis *demi mewujudkan Green Economy dan Waste To Energy (WTE) sesuai Perpres No 109 Tahun 2025. Rencana proposal sudah dikirim dan komunikasi lewat akademisi maupun praktisi sudah dijalin.
Adapun yang telah menjalin komunikasi secara intensif dengan IKBY Manokwari adalah Renol Energy selaku praktisi ( Prof. Mulya Gusman sebagai Akademisi ) dan Prof. Indang Dewata selaku Ka.PPKLH dari Universitas Negeri Padang*. Untuk itu IKBY Manokwari siap menjadi paguyuban nusantara pertama di Manokwari yang menjadi agen perubahan lingkungan *serta menjadi Training Center Of Waste* melalui penyiapan lahan untuk lokasi penempatan mesin Pirolisis dan pelatihan aktivis untuk mengoperasikan mesin tersebut.
Adapun rencana ini bisa terealisasi jika adanya realisasi anggaran dari Pemerintah terkait yang digunakan untuk pengadaan alat dan pelatihan. Setelah proses pengadaan mesin berteknologi pirolisis, pelatihan operator, maka kami juga rencanakan adanya Bank Sampah dan Koperasi Sampah," ujar Subagyo, Ketua IKBY Manokwari, Senin (03-0802026) melalui sambungan WhatsApp. (cr)
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja utama yang bertujuan menyusun dan memperbarui Data Monografi Kampung Mariadei.
Pendataan dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah dengan menghimpun berbagai informasi terkait kondisi kependudukan, sosial, ekonomi, pendidikan, hingga potensi yang dimiliki masyarakat Kampung Mariadei. Data yang diperoleh nantinya akan diolah menjadi dokumen monografi kampung sebagai bahan informasi dan referensi bagi pemerintah kampung dalam menyusun program pembangunan.
Koordinator KKN Kelompok 19 menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga merupakan implementasi ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan.
"Melalui pendataan ini, kami ingin memberikan kontribusi nyata bagi Kampung Mariadei dengan menghadirkan data yang akurat dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan kampung," ujarnya.
Program penyusunan Data Monografi Kampung Mariadei juga menjadi wadah praktik lapangan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), khususnya Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Program Studi Ilmu Administrasi Publik. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menerapkan teori administrasi pemerintahan, tata kelola data, serta pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah Kampung Mariadei dan masyarakat menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka berharap hasil pendataan yang dilakukan dapat menghasilkan data monografi yang lengkap, akurat, dan bermanfaat sebagai dasar pengambilan kebijakan serta mendukung percepatan pembangunan di Kampung Mariadei.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN Kelompok 19 menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berbasis data serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat demi terwujudnya pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan di Kampung Mariadei.
Momentum pelantikan ini menegaskan bahwa kehadiran Barisan Merah Putih bukan sekadar sebagai organisasi kemasyarakatan, tetapi juga sebagai wadah yang mampu menghadirkan program dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika, BMP berkomitmen mendukung terciptanya kehidupan yang harmonis, damai, dan penuh rasa persaudaraan di Kabupaten Waropen.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat, DPC BMP Kabupaten Waropen diharapkan menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Waropen dalam mendukung percepatan pembangunan daerah. Organisasi ini juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembinaan generasi muda agar memiliki karakter yang kuat, integritas, disiplin, serta jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.
Sinergi dengan pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Barisan Merah Putih menyatakan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan berbagai program pembangunan nasional yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dukungan tersebut mencakup Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, serta berbagai program prioritas pemerintah lainnya yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam mengedukasi masyarakat, memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program, melakukan pengawasan yang konstruktif, serta menyampaikan masukan secara objektif agar seluruh program berjalan sesuai ketentuan, tepat sasaran, transparan, akuntabel, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Waropen.
Masyarakat Waropen juga memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat nasionalisme yang telah diwariskan oleh para pendahulu harus terus dipelihara dan ditanamkan kepada generasi muda sebagai fondasi dalam menjaga persatuan bangsa serta memperkuat integrasi nasional di Tanah Papua.
Melalui semangat kolaborasi, tanggung jawab, gotong royong, dan pengabdian kepada bangsa dan negara, DPC Barisan Merah Putih Kabupaten Waropen diharapkan mampu menjadi organisasi yang aktif, inklusif, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, serta Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai profil Universitas Cenderawasih, berbagai fakultas dan program studi, jalur penerimaan mahasiswa baru, beasiswa, serta peluang pengembangan diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, mahasiswa KKN mengajak para siswa agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Mereka menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mempersiapkan generasi muda Papua yang unggul, berdaya saing, dan mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para siswa terlihat antusias mengikuti materi dan memanfaatkan sesi tanya jawab untuk memperoleh informasi mengenai proses pendaftaran, pilihan jurusan, hingga kehidupan mahasiswa di Universitas Cenderawasih.
Koordinator Kelompok 20 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN di bidang pendidikan, sekaligus bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui penyebaran informasi pendidikan yang bermanfaat.
Pihak SMA PGRI Serui menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Diharapkan sosialisasi ini dapat memotivasi para siswa untuk terus belajar, memiliki cita-cita yang tinggi, dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, khususnya di Universitas Cenderawasih.
Program KKN Universitas Cenderawasih Tahun 2026 sendiri menempatkan lebih dari seribu mahasiswa di berbagai kampung di Kabupaten Kepulauan Yapen sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
BOLAANG MONGONDOW, SuaraIndonesia1.com – Aktivis antikorupsi Andika Wijaya menyoroti dugaan pungutan liar dalam pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Kabupaten Bolaang Mongondow.
Sorotan tersebut muncul setelah beredarnya informasi mengenai dugaan permintaan setoran sebesar Rp15 juta kepada kelompok penerima program, serta dugaan pungutan Rp10 juta untuk penyusunan Surat Pertanggungjawaban (SPJ). Selain itu, terdapat pula dugaan rekayasa administrasi dalam pelaksanaan musyawarah desa.
Menurut Andika, apabila dugaan tersebut benar, maka praktik tersebut telah mencederai tujuan Program P3-TGAI yang seharusnya meningkatkan infrastruktur irigasi dan memberdayakan petani.
Ia mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS), Kementerian Pekerjaan Umum, serta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan tersebut secara profesional dan transparan.
“Jangan biarkan program yang bertujuan membantu petani justru dimanfaatkan oleh oknum yang mencari keuntungan pribadi. Jika terbukti ada pelanggaran, proses hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegas Andika.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak-pihak yang disebut dalam dugaan tersebut belum memberikan keterangan resmi. Pemberitaan ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Rep: JO
GORONTALO UTARA, SuaraIndonesia1.com – Keputusan Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Gorontalo melelang barang bukti berupa ratusan karung bahan kimia berbahaya jenis Cyanide (CN/Sianida) memunculkan pertanyaan dari berbagai kalangan. Di tengah proses hukum yang menjadi perhatian publik, muncul pertanyaan mengapa barang bukti tersebut dilelang, bukan dimusnahkan, serta bagaimana perkembangan penyelidikan terhadap pihak-pihak yang disebut dalam laporan lapangan.
Sekretaris Jenderal BEM Universitas Ichsan Gorontalo Utara (UIGU), Ronaldi Rahman, mengatakan masyarakat membutuhkan penjelasan yang utuh, bukan hanya mengenai dasar hukum pelelangan, tetapi juga mengenai perkembangan penyidikan perkara tersebut.
"Kalau memang sianida dikategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3), mengapa pilihan kebijakannya adalah dilelang, bukan dimusnahkan? Pertanyaan ini wajar muncul di tengah masyarakat dan perlu dijawab secara terbuka oleh aparat," ujar Ronaldi.
Menurut Ronaldi, masyarakat juga masih menunggu kejelasan mengenai pengungkapan aktor di balik dugaan penyelundupan tersebut.
"Publik juga mempertanyakan sejauh mana penyidikan telah berjalan, termasuk apakah seluruh informasi yang tercantum dalam laporan lapangan telah ditindaklanjuti secara profesional. Jika ada nama yang disebut dalam laporan, publik berhak mengetahui apakah informasi itu sudah didalami oleh penyidik sesuai prosedur hukum," katanya.
Ronaldi menegaskan bahwa pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi pihak mana pun, melainkan untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.
"Kami tidak ingin ada penghakiman di ruang publik. Yang kami minta adalah keterbukaan. Jika memang seseorang yang disebut dalam laporan tidak memiliki keterkaitan, sampaikan kepada publik. Jika sedang didalami, jelaskan sejauh mana prosesnya. Transparansi akan mencegah spekulasi," ujarnya.
Ia juga meminta kepolisian menjelaskan mekanisme pelelangan barang bukti, termasuk siapa yang dapat menjadi peserta lelang, bagaimana pengawasannya, dan bagaimana negara memastikan bahan kimia berbahaya tersebut tidak kembali masuk ke jalur distribusi yang melanggar hukum.
"Jangan sampai masyarakat bertanya-tanya, mengapa barang yang sebelumnya diduga menjadi objek tindak pidana justru kembali beredar melalui mekanisme lelang. Penjelasan yang terbuka sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik," tegas Ronaldi.
Di akhir pernyataannya, Ronaldi meminta Polda Gorontalo menyampaikan perkembangan penyidikan secara berkala agar publik memperoleh kepastian mengenai arah penanganan perkara.
"Kasus ini menyangkut keselamatan masyarakat, lingkungan, dan kepercayaan terhadap penegakan hukum. Karena itu, kami berharap setiap langkah yang diambil aparat dapat dijelaskan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat," tutup Ronaldi.
Rep: JO
suaraindonesia1 Adalah media online yang menyajikan informasi terkini serta terpercaya. Dibawah naungan badan hukum PT. SUARA KHARISMA BINTANG INDONESIA terdaftar legal di Kemenkumham dengan nomor: AHU-0117306.AH.01.11.TAHUN 2019
suaraindonesia1 berkantor pusat di PLAZA ALDEOS Jl. Warung Buncit Raya No. 39, Warung Jati Barat, RT 001/RW 09, Kalibata, Kec. Pancoran, Jakarta Selatan, Indonesia
Email : redaksi.skrinews@gmail.com
Telp/WA : 0822 250000 24
COPYRIGHT © SUARA INDONESIA 1