Skrinews - Kampus Lockdown, Tugas Smackdown, Mahasiswa Down

Yufrica Septiana

Skrinews.com - Pandemi virus korona atau Covid-19 mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan banyak manusia di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu negara terjangkit virus tersebut, pertama kali mengumumkan kasusnya pada pada tanggal 2 Maret lalu. Hingga saat ini (30/03), kasus masyarakat yang positif Covid-19 mencapai 1.285 dilihat dari situs https://covid19.kemkes.go.id/. Di Jawa Timur sendiri, kasusnya mencapai 90 orang (29/03). Daerah pertama yang mengkonfirmasi adanya kasus virus Covid-19 di Jawa Timur adalah Surabaya dan Malang. Kedua daerah tersebut langsung membuat kebijakan yang menghimbau masyarakatnya melakukan social distancing saat di luar rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.
Himabauan tersebut diteruskan kepada kampus-kampus se-Jawa Timur agar melakukan social distancing di lingkungan kampusnya, alhasil pihak kampus menerapkan perkuliahan secara online untuk menghindari penyebaran virus Covid-19. Sistem perkuliahan tatap muka dalam kelas dengan sejumlah mahasiswa dianggap hanya akan memudahkan virus Covid-19 untuk menyerang korban baru, tempat duduk yang berdekatan, dan seringnya kontak fisik antar mahasiswa menjadi alasan kuat untuk melakukan perkuliahan dengan menggunakan sistem online saja.
Perkuliahan menggunakan sistem online dipandang sebagai solusi yang tepat untuk mengahadapi pandemi virus Covid-19. Mahasiwa tidak perlu saling bertemu untuk melangsungkan pembelajaran kuliah. Mereka hanya perlu stay di kamar kos masing-masing, dan memanfaatkan internet untuk melaksanakan perkuliahan online. Aplikasi yang sering digunakan dalam perkulihan online adalah WhatsApp,  Zoom, Google Classroom, dan sebagainya. Istilah sekarang, kuliah dapat dilakukan sambil rebahan di kasur. Namun, belum semua kampus menerapkan kuliah online sebagaimana mestinya.
Kelemahan Kuliah Online
Belum meratanya model perkuliahan online di seluruh kampus di Indonesia, secara teknis keterbatasan internet masih menjadi kendala utama. Menyiasati keterbatasan perkuliahan online, para dosen menyiapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan secara online. Hal itu dimaksudkan agar mahasiswa tetap melaksanakan perkuliahan. Namun, tugas online yang diberikan dosen dianggap memberatkan para mahasiswa.
Memberatkan disini, memenuhi arti bahwa tugas yang diberikan memiliki deadline yang sempit, terkadang dalam sehari terdapat lebih dari satu mata kuliah. Sehingga, mahasiswa akan kewalahan apabila harus mengerjakan beberapa tugas dari dosen berbeda setiap harinya, tentu saja dengan batas waktu yang mepet. Beberapa kampus menyediakan internet gratis untuk memudahkan para mahasiswa melakukan kuliah online. Perlu diketahui, bahwa memberikan internet gratis sangat membantu para mahasiswa dalam menjalankan kuliah online.
Internet gratis tersebut dapat digunakan mahasiswa hingga lockdown kampus tidak diberlakukan lagi atau sampai situasi di Indonesia dikatakan aman. Sejujurnya mahasiswa memilih untuk melakukan perkuliahan tatap muka saja dikelas daripada harus menggunakan sistem online. Kondisi yang tidak memungkinkan, mengharuskan mahasiswa untuk menelan keinginan mentah-mentah sembari menjaga diri di kamar kos masing-masing.
Perpanjangan lockdown yang baru-baru ini dilakukan pihak kampus menyebabkan mahasiswa banyak yang pulang ke kampung halaman. Dan hal itu menjadi masalah baru untuk perkuliahan online, dikarenakan tidak semua daerah di Indonesia memiliki jaringan internet yang mendukung. Oleh karena itu, internet gratis sangat dibutuhkan oleh mahasiswa apabila nantinya dituntut melakukan kelas secara online.
Bukan tidak mungkin, sistem tugas online dari dosen akan secara keseluruhan berubah menjadi kuliah online yang sebenar-benarnya. Pihak kampus harus memperhatikan juga mental-mental mahasiswa karena akan sangat mempengaruhi daya tahan tubuh. Mahasiswa setres dengan tugas online tentu tidak akan memiliki nafsu makan, akibatnya daya tahan tubuh melemah. Daya tahan tubuh yang tidak fit inilah yang menyebabkan virus gampang hinggap di tubuh.
Mahasiswa Down
Mahasiswa yang berada di zona merah atau daerah yang sudah dikonfirmasi memiliki kasus positif Covid-19 cenderung memiliki kepanikan yang lebih. Kepanikan tersebut terjadi karena mahasiswa takut tertular virus Covid-19 dari orang lain, tetapi tidak bisa pulang karena takut dirinya membawa virus Covid-19 ke lingkungan keluarga. Keluarga yang harusnya menguatkan mahasiswa, tetapi berada jauh di kampung halaman. Sendirian di daerah orang menimbulkan rasa kesepian yang teramat dalam.
Berada di daerah orang tidak serta merta memudahkan kehidupan mahasiswa, ada saja masalah yang berkaitan dengan kondisi negara Indonesia saat ini. Masalah tersebut dapat berupa kurangnya makanan yang harus dikonsumsi mahasiswa, dikarenakan banyaknya penjual makanan di area kos yang tutup. Selain tutup, kondisi makanan mahasiswa tidak bisa dijamin juga apakah higienis dari virus Covid-19. Bantuan dari pihak kampus sangat dibutuhkan untuk mahasiswa yang tidak bisa pulang ke kampung halaman.




Nama : Yufrica Septiana
Alamat : Desa Seketi – Dusun Jambean – RT/ RW : 01/01 – Kecamatan Ngadiluwih – Kabupaten Kediri
No. HP : 082142201979
Email : yufrica99@gmail.com

  Saya adalah mahasiswi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai seorang mahasiswa, saya mengalami bagaimana panik, bimbang, dan bingung dengan pandemi virus Covid-19 yang saat ini terjadi. Untuk membantu mahasiswa lain yang merasakan hal yang sama, saya menulis tulisan ini.