BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Soeharto Membangun Dialog, Bukan Bercakap-Cakap, Betul ? ” Sana Ambil Sepadanya

Skrinews - Saya selalu tertawa jika teringat bahwa ada seorang pejabat mentri sampai melakukan sandiwara menjadi kondektur bus agar terkesan merakyat, begitu juga dengan yang nyemplung ke sawah, nyeker, tak bersepatu, berlumpur-lumpur.
Apalah arti kesederhanaan yang sebisa mungkin dicitrakan pada diri seorang pemimpin seolah ia adalah pemimpin yang bisa menjadi representasi dari rakyatnya jika itu hanya bersifat Artifisial (buatan) saja.
Sedangkan dalam setiap kesempatan saat ia bertemu dengan rakyat kecil yang terjadi justru hal yang bersifat percakapan bukan membangun sebuah dialog.
Percakapan dari satu acara ke acara kunjungan kenegaraan yang lain, padahal itu menghabiskan angaran ber milyar-milyar tetapi minus substansi.
Sebagai latar, boleh-boleh saja anda yang anti dengan Orde Baru dan Soeharto mengatakan bahwa beliau bisa mepertahankan kekuasaannya selama 32 tahun dengan cara-cara tidak benar.
Tetapi anda juga tidak boleh menampik bahwa keberhasilan pembangunan di era Soeharto benar-benar bisa dirasakan hingga kini, dan sosok beliau kini banyak dirindukan masyarakat.
Lalu, siapa yang paling banyak mengenang, merindu, dan berterimakasih atas keberhasilan pembagunan di era pak Harto itu?
Mereka adalah Wong cilik, rakyat kecil, nelayan, petani di sawah-sawah, orang-orang di kebun-kebun, di pesisir pantai, mereka-merekalah yang sejatinya dominan memiliki kecerdasan hati.
Mereka mengenang Pak Harto bukan semata hanya karena keberhasilan pembangunan saja, tetapi mereka mengenang Soeharto adalah bagian dari masyarakat kecil sesungguhnya.
Pak Harto adalah presiden yang terlahir dari keluarga petani, namun saat menjadi presiden Ia tak harus menampilkan, mencitrakan diri seolah mirip dengan petani atau nelayan, atau masyarakat kecil.
Saat ia turun ke masyarakat, natural saja, layaknya seorang presiden.
Sila cek, banyak sekali foto beliau saat turun menyapa rakyatnya dengan mengenakan baju batik atau safari.
Beberapa foto bahkan tampak sedang menampilkan ia berdiri di pinggir sawah dengan tongkat ala Menir Kompeni, berkacamata hitam dan terselip cerutu di sela-sela jarinya.
Dari hal itu tentunya kita dapan menilai bahwa penekanan pendekatan seorang Soeharto bukan pada cara-cara adaptasi prilaku sebagai petani. Soeharto sebagai seorang presiden lebih mengedepankan pentingnya membangun dialog yang efektif dengan para petani.
Ia, Soeharto, tidak berusaha membangun pencitraan diri, tetapi Ia dicitrakan oleh hasil dari dialog yang dilakukannya.
Pak Harto sebagai presiden mampu memberikan problem solving dari setiap dialog yang dilakukannya dengan masyarakat tani, sebut saja salah satu contoh saat ia berdialog pada acara kelompencapir yang ditayangkan di TVRI.
Kelompencapir betul-betul dikemas untuk menjadi sarana dialog antara pejabat terkait dengan rakyat, beberapa kali Pak Harto menghadiri acara tersebut, dan beliau “berdialog.”
Pak Harto tak membangun percakapan, beliau membangun dialog dengan para petani, pak Harto tak sekedar guyon hambar membahas nama-nama ikan atau–pun tebak-tebakan berbagi hadiah sepeda.
Sebagai seorang presiden ia lebih menekankan akan pentingnya bagaimana agar bisa menanamkan optimisme kepada masyarakat tani, maka, terbangunlah dialog yang efektif sehingga menghasilkan solusi.
Pendeknya, Soeharto mampu membangun dialog, ia tidak sekedar bercakap-cakap angin lalu tertawa dan esok masyarakat kembali mengalami kebingungungan mengenai penyelesaikan persoalan penting yang nyata sedang dihadapi.
Dialog dan percakapan bukanlah hal yang sama. Dialog adalah sesuatu yang dibangun berdasarkan kecerdasan personal ( Intrapersonal Intelligence ) sehingga hasilnya jauh lebih efisien dan lebih mudah dipercaya ketimbang percakapan biasa.
Lalu, sebagaimana pentinganya kemampuan membangun dialog itu harus dimiliki seorang pemimpin ?
Saya mencoba menganalogikan dengan mengutip istilah teknologi informatika mengenai arti dari “Artifisial Inteligecy” ( Kecerdasan Buatan), yang tentunya kita meyakini bahwa bagaimanapun canggihnya kecerdasan buatan itu tidak akan bisa mengalahkan kecerdasan asli dari si pembuat perangkat tersebut.
Artifisial Intelligence hanya mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang diprogramkan, diluar itu maka ia tak akan bisa menjawab, memberi solusi.
Tentunya kita tidak sedang membutuhkan seorang pemimpin berbasis Artificial Intelligence pada dirinya. Dalam hal ini saya mengartikan sebagai figur pemimpin yang tidak dapat membangun dialog, hanya mampu mengadaptasi prilaku, ia hanya bisa bercakap-cakap, tentunya karena kecerdasnya dibuat-buat, betul?
Sudah, sana ,– ambil sepeda nya.
Skrinews - Saya selalu tertawa jika teringat bahwa ada seorang pejabat mentri sampai melakukan sandiwara menjadi kondektur bus agar terkesan merakyat, begitu juga dengan yang nyemplung ke sawah, nyeker, tak bersepatu, berlumpur-lumpur.
Apalah arti kesederhanaan yang sebisa mungkin dicitrakan pada diri seorang pemimpin seolah ia adalah pemimpin yang bisa menjadi representasi dari rakyatnya jika itu hanya bersifat Artifisial (buatan) saja.
Sedangkan dalam setiap kesempatan saat ia bertemu dengan rakyat kecil yang terjadi justru hal yang bersifat percakapan bukan membangun sebuah dialog.
Percakapan dari satu acara ke acara kunjungan kenegaraan yang lain, padahal itu menghabiskan angaran ber milyar-milyar tetapi minus substansi.
Sebagai latar, boleh-boleh saja anda yang anti dengan Orde Baru dan Soeharto mengatakan bahwa beliau bisa mepertahankan kekuasaannya selama 32 tahun dengan cara-cara tidak benar.
Tetapi anda juga tidak boleh menampik bahwa keberhasilan pembangunan di era Soeharto benar-benar bisa dirasakan hingga kini, dan sosok beliau kini banyak dirindukan masyarakat.
Lalu, siapa yang paling banyak mengenang, merindu, dan berterimakasih atas keberhasilan pembagunan di era pak Harto itu?
Mereka adalah Wong cilik, rakyat kecil, nelayan, petani di sawah-sawah, orang-orang di kebun-kebun, di pesisir pantai, mereka-merekalah yang sejatinya dominan memiliki kecerdasan hati.
Mereka mengenang Pak Harto bukan semata hanya karena keberhasilan pembangunan saja, tetapi mereka mengenang Soeharto adalah bagian dari masyarakat kecil sesungguhnya.
Pak Harto adalah presiden yang terlahir dari keluarga petani, namun saat menjadi presiden Ia tak harus menampilkan, mencitrakan diri seolah mirip dengan petani atau nelayan, atau masyarakat kecil.
Saat ia turun ke masyarakat, natural saja, layaknya seorang presiden.
Sila cek, banyak sekali foto beliau saat turun menyapa rakyatnya dengan mengenakan baju batik atau safari.
Beberapa foto bahkan tampak sedang menampilkan ia berdiri di pinggir sawah dengan tongkat ala Menir Kompeni, berkacamata hitam dan terselip cerutu di sela-sela jarinya.
Dari hal itu tentunya kita dapan menilai bahwa penekanan pendekatan seorang Soeharto bukan pada cara-cara adaptasi prilaku sebagai petani. Soeharto sebagai seorang presiden lebih mengedepankan pentingnya membangun dialog yang efektif dengan para petani.
Ia, Soeharto, tidak berusaha membangun pencitraan diri, tetapi Ia dicitrakan oleh hasil dari dialog yang dilakukannya.
Pak Harto sebagai presiden mampu memberikan problem solving dari setiap dialog yang dilakukannya dengan masyarakat tani, sebut saja salah satu contoh saat ia berdialog pada acara kelompencapir yang ditayangkan di TVRI.
Kelompencapir betul-betul dikemas untuk menjadi sarana dialog antara pejabat terkait dengan rakyat, beberapa kali Pak Harto menghadiri acara tersebut, dan beliau “berdialog.”
Pak Harto tak membangun percakapan, beliau membangun dialog dengan para petani, pak Harto tak sekedar guyon hambar membahas nama-nama ikan atau–pun tebak-tebakan berbagi hadiah sepeda.
Sebagai seorang presiden ia lebih menekankan akan pentingnya bagaimana agar bisa menanamkan optimisme kepada masyarakat tani, maka, terbangunlah dialog yang efektif sehingga menghasilkan solusi.
Pendeknya, Soeharto mampu membangun dialog, ia tidak sekedar bercakap-cakap angin lalu tertawa dan esok masyarakat kembali mengalami kebingungungan mengenai penyelesaikan persoalan penting yang nyata sedang dihadapi.
Dialog dan percakapan bukanlah hal yang sama. Dialog adalah sesuatu yang dibangun berdasarkan kecerdasan personal ( Intrapersonal Intelligence ) sehingga hasilnya jauh lebih efisien dan lebih mudah dipercaya ketimbang percakapan biasa.
Lalu, sebagaimana pentinganya kemampuan membangun dialog itu harus dimiliki seorang pemimpin ?
Saya mencoba menganalogikan dengan mengutip istilah teknologi informatika mengenai arti dari “Artifisial Inteligecy” ( Kecerdasan Buatan), yang tentunya kita meyakini bahwa bagaimanapun canggihnya kecerdasan buatan itu tidak akan bisa mengalahkan kecerdasan asli dari si pembuat perangkat tersebut.
Artifisial Intelligence hanya mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang diprogramkan, diluar itu maka ia tak akan bisa menjawab, memberi solusi.
Tentunya kita tidak sedang membutuhkan seorang pemimpin berbasis Artificial Intelligence pada dirinya. Dalam hal ini saya mengartikan sebagai figur pemimpin yang tidak dapat membangun dialog, hanya mampu mengadaptasi prilaku, ia hanya bisa bercakap-cakap, tentunya karena kecerdasnya dibuat-buat, betul?
Sudah, sana ,– ambil sepeda nya.

H. Anhar , SE. MM
Masyarakat Pecinta Soeharto
« PREV
NEXT »