BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

PERJALANAN JURNALIS SKRINEWS MENGELILINGI PULAU SUMBA


Sumba Skrinews,

Perjalanan” tidak harus diartikan dengan pesiar atau wisata,meskipun liputan bertema pesiar atau wisata termasuk bagian besar dari travel journalism. Perjalanan juga bisa dilakukan untuk berbagai tujuan lain, yang lebih dari sekadar berwisata atau bersenang-senang. Seperti: bertualang, mengembara, berziarah, beribadah, pencarian jatidiri,dan sebagainya.

Dalam bentuk yang paling personal, perjalanan fisik adalah suatu pengembaraan di dalam diri, suatu pengembaraan atau transformasi batin. Seseorang mungkin mendapat pencerahan, wawasan baru, atau perubahan jalan hidup yang drastis, dari melakukan suatu perjalanan.Sebenarnya adalah suatu perjalanan semacam itu dalam tingkat yang tertinggi, meskipun itu tidak diperlakukan sebagai karya jurnalisme.

Belum begitu jelas bagi saya, bagaimana asal mula munculnya jurnalisme perjalanan. Namun, saya menduga, benih-benih awal jurnalisme jenis ini sebenarnya sudah berusia cukup tua.Cikal bakal jurnalisme perjalanan diawali oleh tradisi penulisan buku harian,atau catatan perjalanan,memang lebih banyak disimpan sebagai arsip, bukan diterbitkan untuk dibaca khalayak umum secara reguler di media massa, seperti saat sekarang.Mereka terbiasa mencatat berbagai situasi dan kondisi di tempat-tempat yang mereka kunjungi, serta berbagai peristiwa yang mereka temui dalam perjalanan tersebut.Tempat-tempat yang memiliki keunikan, masyarakat, atau budaya luar biasa, serta pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan, pastilah mereka catat. Ini menjadi salah satu sumber sejarah, yang sekarang kita kenal.

Para jurnalis perjalanan memiliki sejumlah ciri:
Pertama,selalu ingin tahu.Ini sebenarnya bukan ciri eksklusif jurnalis perjalanan. Setiap jurnalis memang diharapkan punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Namun, hasrat selalu ingin tahu ini perlu digarisbawahi untuk jurnalis perjalanan karena liputannya sangat tergantung pada orang, peristiwa, dan hal-hal lain yang ia temui dalam perjalanan.Kedua, suka berinteraksi, berhubungan baik, dan memiliki rasa keterlibatan dengan orang lain dari budaya, etnis, dan latar belakang yang berbeda, khususnya mereka yang ditemui dalam perjalanan. Tanpa hubungan, keterlibatan, dan cara berinteraksi yang baik, sulit bagi jurnalis untuk menggali cerita-cerita unik yang menarik dari narasumber yang mereka temui di perjalanan.Ketiga, selalu siap dan bersedia untuk mempelajari sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru, yang kurang banyak dikenal, jelas memiliki nilai berita. Suatu perjalanan akan makin tinggi nilai beritanya ketika kita menemui orang, peristiwa, dan hal-hal yang baru.
Sebenarnya tidak ada teori-teori akademis khusus tentang jurnalisme perjalanan. Semua yang diuraikan di sini lebih merupakan rangkuman dan saripati dari berbagai pengetahuan praktis, dan pengalaman dari mereka yang telah menjalani jurnalisme perjalanan.

Sejumlah informasi dasar biasanya mudah diperoleh di sana. Yaitu, mulai dari data wilayah, penduduk,adat istiadat setempat,geografi, kondisi cuaca,dan sebagainya.ini akan menghemat waktu kita dalam melakukan liputan, serta membantu kita menghadapi berbagai hal yang mungkin akan ditemui dalam perjalanan.
Tentu saja, tidak semua informasi bisa ditemukan di media online.Banyak liputan menarik muncul dari hasil percakapan biasa dengan orang di pesta, acara-acara sosial, pasar, tempat pemberhentian bus, stasiun, kendaraan umum, dan sebagainya. Jadi, nasihat terbaik adalah para jurnalis harus menaruh perhatian terhadap informasi semacam itu, jangan menganggap remeh.

CRUW SKRINEWS Pulau SUMBA NTT
« PREV
NEXT »