skrinews.com
Pengadaan aplikasi baru Smart City yang bisa menjangkau hasil transaksi buyer dengan petani sangat dinanti Dinas Pertanian.
Aplikasi tersebut sangat penting agar semua kegiatan pertanian yang terakses dengan smart city bisa diketahui perkembangannya, papar Sugeng Pramono kepada skrinews.com, Kamis (25/7/2019).dikantornya, Balaikota Among Tani Jl. Panglima Sudirman no 507, Desa Pesanggrahan Kota Batu.
Disinggung evaluasi Smart city, Ia pun menjawab, "setelah setahun Smart City ada di Kota Batu memang belum maximal, namun sudah ada progres, sebagai contoh antar SKPD sudah terkonek, walaupun belum semuanya.
Di bidang pertanian sudah banyak petani melek Smart City, mereka bisa langsung menjual hasil pertanian dengan buyer.
Kalau kita klik satu wilayah maka akan terpampang lahannya siapa,ditanami apa ,kapan panennya, kualitas panen sampai nilai ekonomisnya.
Kendalanya bagi kami adalah saat terjadi transaksi via smart city masih belum bisa diketahui deal harga yang mereka sepakati, sehingga tidak terdeteksi volume penjualan dan kelanjutannya, maka dari itu Smart City perlu Aplikasi baru untuk bisa mendeteksi.
Kedua, dengan jumlah 24 Desa dan Kelurahan semua belum tercover.
Kecamatan Bumiaji hanya ada 2 Desa, yaitu Desa Sumber Brantas, Desa Gunungsari, Di Kecamatan Batu titiknya ada di Desa Oro Oro Ombo, dan Kecamatan Junrejo ada di Desa Tlekung.
Langkah konkrit yang kami lakukan hingga saat ini masih menginput data, agar secepatnya Desa Kelurahan terakses dengan Smart City.
Mengenai keberadaan Work Station, Ia menyebut ada 3 PBB.
Letaknya ada di Desa Pandanrejo, Kelurahan Dadaprejo, dan Kelurahan Sisir.
Secara tehnis, masih kata Kadis, usai menginput data di lapangan mereka balik ke PBB untuk konek dengan Smart City yang ada di Balaikota Among Tani.
Yudi/Ririn.


