Skrinews - PROBLEMATIKA PHK DAMPAK PANDEMI COVID 19




Semua penjuru dunia mungkin merasakan dampak dari wabah covid 19 . semua pihak pihak juga menghimbau untuk memutus persebaran ini dengan #dirumahaja. Social distancing bahkan sekarang ini di ambil kebijakan PSBB ( pembatasan sosial berskala besar). Hal ini banyak menimbulkan polemik dari masyarakat. Ada yang harus bekerja di rumah ada pula yang terpaksa bekerja di luar rumah. bahkan ada yang terpaksa menunda pekerjaannya. Kelompok bekerja dirumah masih tidak menjadi masalah dapat bertahan hidup walaupun hanya bekerja dari rumah. Mereka tetap mendapat gaji walaupun harus didalam rumah. Misal orang orang yang bekerja sebagai selebgram tetap mendapat produk promosi. artis dengan brand brand yang bermitra denganya, pengusaha yang memiliki karyawan dan akan melakukan meeting menggukan aplikasi meeting. Bahkan penjual online yang hanya mempromosikan produknya melalui sosial media Yaa mereka beruntung di kala pandemik seperti ini. 
Namun bagaimana kelompok kelompok yang terpaksa harus tetap keluar rumah demi pekerjaan dan harus menyambung hidup mereka di himbau untuk tetap menjaga diri dari bahaya bahaya virus. Misalnya kurir harus tetap mengantarkan barang, ojek online harus tetap mengantarkan makanan atau bahkan mungkin penumpangnya. Pedagang pasar yang harus tetap berjualan demi pemenuhan kebutuhan pangan harian, swalayan swalayan harus tetap berjualan sekali lagi demi kebutuhan pangan yang harus tetap berjalan. Namun mereka adalah kelompok kelompok yang masih juga di katakan beruntung mereka di beri kepercayaan untuk tetap berada di luar rumah demi pemenuhan kebutuhan hidupnya walaupun dengan rasa khawatir. Asal mau bersyukur dan tetap berharap wabah ini akan segera hilang dan aktivitas kembali normal
Ada lagi kelompok kelompok yang harus rela kehilangan pekerjaan akibat mitranya tak mampu membiayai mereka. karyawan swasta yang terpaksa harus di PHK akibat menurunnya omset penjualan perusahaan yang sangat drastis. Hal ini memang sangat rasional dalam sebuah perusahaan melakukan kebijakan seperti itu karena pada dasarnya semua manager perusahaan akan bertanggung jawab penuh untuk storenya mulai dari biaya operasional, sumber daya sumber daya lain yang harus di atur . sehingga hal ini sangat merugikan beberapa pihak. Tak hanya karyawan Ramayana saja yang akhirnya putus hubungan kerja perusahaan perusahaan lain harus mengambil kebijakan untuk tetap melakukan PHK di tengah pandemi seperti ini. Sangat sulit memang harus menerima kenyataan dari khawatir terkena wabah virus akibat harus tetap bekerja di tengah pandemik lambat laun mereka harus menerima kenyataan karena kehilangan pekerjaan.
Sadarkah kita bahwa semua ini adalah hal yang harus kita rasionalkan membicarakan tentang perusahaan akan berbicara tentang kerasionalan. Dengan segala problematika yang tidak diharapkan akan terjadi tidakan rasional adalah jalan satu satunya yang akan di ambil. Saran demi saran mungkin akan ada misal dengan cara mengistirahatkan karyawan daripada mengambil putus hubungan kerja dengan mengistirahatkan mereka perusahaan berarti tidak membayar gaji selama mereka tidak istirahat dan mereka juga tidak akan khawatir akan kehilangan pekerjaan karena wabah ini akan bersifat sementara dan tidak selamanya sehingga daripada mengambil kebijakan phk maka istirahat sementara adalah jalan keluar ketika terjadi pandemic seperti ini . mungkin banyak yang mengira bahwa ini akan bersifat gantung kepada karyawan karena karyawan akan dilema dengan hal ini antara ingin mecari pekerjaan lain tapi masih terikat dengan perusahaan lain. Hal ini akan membicarakan sifat dasar manusia yang tidak semua bernasib, berpandangan sama, apalagi befikiran sama lalu bagaimana jika perusahaan tidak bertumpu pada kesamaan dari karyawannya sehingga mengambil kebijakan pilihan antara ingin di PHK di tengah pandemic seperti ini  dengan harapan mendapat pesangon dan bisa menyambung hidup atau ingin istirahat saja di tengan pandemic seperti ini dengan harapan setelah pandemic meredam bisa kembali bekerja dan tidak kehilangan pekerjaan. Tentu mungkin akan sangat sulit perusahaan mengambil langkah seperti ini. Tapi paling tidak dengan harapan perusahaan tidak rugi lagi setelah pandemic seperti ini mengajarkan skill sumber daya manusia baru karena masih ada karyawan yang yang memilih untuk di istirahatkan.
Hal ini memang cukup sulit untuk di laksanankan , karena mengingat kerasionalan akan sebuah perusahaan mengatur seluruh karyawan. Dimana hal ini harus kita sadari dimana sejak berdirinya sebuah perusahaan akan ada stratifikasi dimana pada era modern ini mengingat tentang sangat terlihat namun tersirat mari mengambil teori konflik milik raft dahrendroft yaitu teori konflik abad 19 dimana kelompok stratifikasi (kelas) memiliki tiga bagian yang mengerucut ke atas pada kelas paling atas terdapat pemilik modal atau dekomposisi modal, pada kelas kedua atau kelas menengah baru terdapat orang orang yang memiliki keterampilan yang lebih biasanya jika dalam perusahaan akan terdapat manager, human resource department dan beberapa bagian kelompok yang memiliki tanggung jawab lebih atas karyawan lain sehingga memiliki wewenang mengatur kelompok dibawahnya, lalu pada kelompok paling bawah dimana kelompok yang isinya adalah buruh atau karyawan biasa yang tidak memiliki wewenang mengatur jalannya perusahaan namun memiliki tanggung jawab akan sebuah perusahaan.
Mengapa harus menggunakan teori ini karena pada kehidupan dilapangan yang sangat rasional kaum menengah baru menurut raft dahrendroft sebenarnya sangat memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur sumber daya, baik bahan baku ataupun sumber daya manusia hal ini sangat sistematis dan rumit dimana omset menjadi penilaian akan keberlanjutan berdirinya perusahaan dan kaum menengah inilah yang pada akhirnya akan bertungas mengatur menunjukan keberwenangannya akan sebuah perusahaan, sehingga pada akhirnya jika omset menurun sangat signifikan dalam alasan apapun dalam keadaan apapun perusahaan terutama pada wabah covid 19 hingga saat ini akan mengambil langkah putus hubungan kerja terhadap kaum buruh atau karyawan. Sehingga hal ini sebetulnya menujukan akan sebuah konflik baik antara kaum menengah baru dengan buruh ataupun pemilik modal dengan kaum menengah, atau bahkan konflik pemilik modal dengan buruh. Dimana yang harus kita sadari saat ini adalah mari berbalik menjadi kaum manusia yang akan selalu memanusiakan manusia dimana pun dan kapan pun. Jika diambil langkah rasional dnegan mem-phk karyawan akan selalu dilaksanakan dengan cara dan sistem etika bisnis yang benar dan selalu mengesampingkan keserakahan. Mengambil kebijakan rasional yang manusiawi . Berbalik pada wabah virus corona dimana semua orang di Indonesia bahkan di dunia menjadi korban dan terkena dampak semua tidak bisa menjalankan aktifitasnya dengan normal, dan semua berharap dapat cepat kembali beraktiftas seperti biasa demi keberlanjutan hidup umat manusia.


BIODATA PENULIS
NAMA : uddy ana isnaini
TTL : BLITAR, 24 NOPEMBER 1998
STATUS : MAHASISWA
JURUSAN : SOSIOLOGI
STUDY : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
EMAIL: uddyana2@gmail.com