KHAIRUL IMAM (201810170311474)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
AKUNTANSI
2019/2020
Skrinews1.com_
Berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, dalam hal ini peran negara pada dasar nya menggambarkan perubahan suatu negara dari tahun ke tahun.yang berarti mencerminkan seberapa banyak barang dan jasa yang dapat di hasilkan suatu negara dalam wilayah geografisnya.jika adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia maka produksi barang dan jasa suatu negara akan menurun yang di sebabkan oleh turunnya daya beli maupun rendahnya nilai ekspor.penurunnya daya beli dan ekspor akan memicu permasalahan ekonomi di suatu negara.daya beli dan ekspor yang rendah secara tidak langsung menurunkan keuntungan industri karena penjualan menurun sehingga mendorong pemangkasan produksi.produksi barang dan jasa akan berdampak dan pengurangan tenaga kerja.kondisi tersebut berpotensi meningkatkan angka pengangguran dan masalah sosial di suatu negara tersebut. Dan oleh sebab itu peran negara disini sangat penting yang sebagai peran kunci dalam semua kebijakan yang berasal dari pemerintah. Dan pemerintah tersebut wajib memiliki kekuatan yang dapat merespon segala perubahan dengan cepat.salah satu kebijakan yang di terapkan yaitu dengan dengan menurunkan suku bunga yaitu tidak lain dan tidak bukan untuk menjaga perekonomian di tengah ketidakpastian global, yang artinya ekonomi dunia yang melambat berpotensi menurunkan nilai ekspor.jika ini terus terjadi secara terus menerus maka akan terjadi masalah yang tidak diinginkan.
Depresiasi akan menurunkan daya beli karena harga barang dan jasa terlalu mahal(inflasi meningkat) hal ini akan semakin parah bila keadaan seperti kebutuhan dalam negeri banyak di penuhi dari impor. Inilah permasalahan yang sedang di hadapi negara negara di dunia saat ini, tidak hanya di indonesia setiap negara pasti berusaha mengamankan perekonomiannyadeangan berbagai cara. Penurunan suku bunga tadi bisa di terapkan yang pada umumnya akan di ikuti penurunan suku bunga kredit yang mendorong sektor ekonomi atau aktivitas ekonomi dalam suatu negara tersebut. indonesia masih boleh sedikit lega karena pertumbuhan ekonominya di atas rata rata pertumbuhan ekonomi dunia dengan nilai tukar yang cenderung stabil, inflasi yang terkendali, likuiditas yang mencukupi,
Namun, jika ketidakseimbangan global ini tidak direspon dengan baik bukan tidak mungkin Indonesia berpotensi menghadapi masalah yang serius karena kecenderungan arus modal keluar. di negara kita relatif masih tinggi. Selain itu, risiko yang mungkin timbul akibat potensi di tengah kelesuanekonomiglobaljugaperlumendapatperhatiantersendiri.
ini menunjukkan beberapa poin penting yang perlu diperkuat pemerintah dari sisi pertumbuhan ekonomi, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. permasalahan di atas membuat pemerintah sulit mengembangkan kebijakan-kebijakan yang terlalu agresif dalam jangka pendek. Pilihan bertahan dengan perhitungan yang terukur melalui sejumlah kebijakan yang responsif akan lebih baik agar tidak keliru dalam merespons ekonomi global. Kebijakan yang terlalu agresif berpotensi meningkatkan risiko sistemik apabila tidak diikuti dengan antisipasi yang matang. Terlalu defensif juga tidak baik karena berpotensi menggerus pertumbuhan kita. Harus ada upaya-upaya jangka pendek, menengah, dan panjang untuk merespons permasalahan tersebut.
Respons yang cepat dan tepat berupa kebijakan-kebijakan yang bersifat mendorong pertumbuhan ekonomi perlu diprioritaskan dalam jangka pendek ini. Penurunan suku bunga acuan merupakan tepat dalam merespons gejolak global saat ini. Selain itu, , termasuk kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kita perlu mengapresiasi upaya-upaya yang telah diambil tersebut dan berharap dalam waktu yang tidak telalu lama,kebijakan-kebijakantersebutdapatdirasakan.Kesigapan pemerintah dalam merespons berbagai jangka pendek ini menambah kepercayaan pasar bahwa gejolak tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan sempurna.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan mencapai 5,4% pada 2018, setelah tahun lalu berhasil direalisasikan mengalami peningkatan sebesar 5,02%, sedangkan target tahun ini adalah 5,2%.
Untuk dapat memenuhi target tersebut, pemerintah terus berupaya memacu investasi dan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan di berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya Maluku, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. sekarang pada angka 5-5,1 persen, tapi ia diiringi dengan perbaikan indikator lain yang menunjuk pada kualitas pertumbuhan. Dana Moneter Internasional memprediksi, ekonomi nasional tahun 2018 dapat tumbuh 5,3 persen jika pemerintah menjaga momentum pertumbuhan. Perkiraan lembaga keuangan dunia tersebut membesarkan hati di tengah kekhawatiran Indonesia akan mengalami pertumbuhan stagnan di sekitar 5,0 persen. Namun, jika dikaji lebih mendalam, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia justru mengalami perbaikan yang begitu signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Yang sangat menonjol adalah pertumbuhan investasi dan ekspor yang masing- masing tumbuh 6,15 dan 9,09 persen pada 2017, dibandingkan pertumbuhan kedua komponen tersebut pada 2016 yang hanya sebesar 4,47 dan -1,57 persen.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) telah menyelenggarakan rapat berkala dalam rangka koordinasi pemantauan dan pemeliharaan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Dalam rapat, KSSK menyimpulkan SSK triwulan I 2019 terjaga dengan baik. Kesimpulan ini berdasarkan hasil pemantauan Lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan, dan penjaminan simpanan, Pelaksanaan pesta demokrasi yang berlangsung aman dan damai turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap SSK.
KSSK mencermati beberapa potensi risiko, khususnya yang berasal dari perekonomian global, yaitu pelemahan pertumbuhan ekonomi global dan penurunan volume perdagangan dunia, sebagaimana menjadi perhatian dalam Spring Meetings 2oig International Monetary Fund - World Bank. Dari sisi domestik, tantangan yang dihadapi adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan memacu investasi dan ekspor dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Merespon hal tersebut, KSSK terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter, fiskal, makroprudensial, mikroprudensial, dan penjaminan simpanan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Di bidang moneter, Bank Indonesia (BI) memfokuskan kebijakan suku bunga dan nilai tukar untuk memperkuat stabilitas eksternal perekonomian, khususnya guna mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Selama triwulan I 2019, BI mempertahankan suku bunga acuan (BI7DRR) sebesar 6,00%. Bersamaan dengan itu, BI juga menempuh berbagai kebijakan yang lebih akomodatif untuk mendorong permintaan domestik antara lain melalui; pertama, strategi operasi moneter untuk meningkatkan ketersediaan likuiditas di pasar melalui transaksi term-repo secara regular dan terjadwal, disamping FX Swap. Kedua, memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif dengan menaikkan kisaran batasan Rasio Intermediasi Makroprudensial menjadi 84-94%. Ketiga, mengakselerasi pendalaman pasar keuangan melalui penguatan marhet conduct dan penerbitan ketentuan pelaksanaan instrumen derivatif suku bunga Rupiah. Keempat, memperkuat kebijakan sistem pembayaran dengan memperluas elektronifikasi penyaluran bansos, transportasi, dan keuangan pemerintah daerah dan mempersiapkan QR lndonesia Standard (QRIS) sebagai standar QR code payment di Indonesia untuk memperluas interkoneksi dalam mendukung eksosistem ekonomi keuangan digital.
Di bidang fiskal, kinerja APBN secara umum menunjukkan tren positif, baik di sisi pendapatan maupun belanja negara, yang akan mendukung pencapaian target pembangunan 2019. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengelola keuangan negara dengan pruden dan transparan. Dengan APBN yang kredibel, diharapkan Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhan, termasuk dalam mengantisipasi kondisi perekonomian global yang masih diliputi perlambatan.
OJK memandang bahwa SSK masih terjaga dengan baik yang didukung oleh tingkat permodalan dan likuiditas Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang memadai. Kinerja intermediasi LJK juga tumbuh positif dengan tingkat risiko yang manageable. OJK mendukung peran aktif dari sektor jasa keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, antara Lain dengan memperluas pendalaman pasar, meningkatkan kapasitas pelaku di industri keuangan, dan mengembangkan program pembiayaan sektor jasa keuangan yang berkelanjutan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai tren kenaikan suku bunga simpanan secara umum sudah melandai dan stabil, sejalan dengan membaiknya kondisi likuiditas perbankan. Selanjutnya LPS juga melakukan pemantauan dari sisi coverage penjaminan baik nominal dan rekening di mana data terakhir dinilai masih memadai untuk mendukung kepercayaan nasabah kepada sistem perbankan.
Pertumbuhan yang tinggi apabila telah terwujud perlu dilanjutkan dengan pertumbuhan tinggi yang berkualitas. Kata berkualitas dalam konteks ini mengacu pada pemerataan pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpusat pada satu dua wilayah saja. ini harus dapat diwujudkan dalam jangka waktu menengah. Pertumbuhan berkualias akan terwujud apabila negara memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan tersebar di semua provinsi. Diperlukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan peningkatan nilai tambah produksi. Setelah pertumbuhan berkualitas tercapai, maka keberlanjutan dari pertumbuhan tersebut harus dipertakankan dalam jangka panjang. Diperlukan kebijakan-kebijakan yang terencana dan sistematis . Orientasi pertumbuhan ekonomi jangka pendek berpotensi menimbulkan efek negatif pada pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang apabila dilakukan dengan cara mengeksploitasi alam, menjual produk primer, dan ketergantungan pada penjualan komoditas. jangka panjang diperlukan untuk memastikan dan menjaga pertumbuhan ekonomiyangberkualitasdanberkelanjutan.
Sebagai negara dengan sumber daya alam besar, potensi terjadinya eksploitasi alam sangat tinggi, dengan ketergantungan pada ekspor dan produk primer. Jika pertumbuhan yang dinikmati selama ini terjadi karena cara tersebut, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan, karena alam sebagai pusat eksploitasi memiliki umur dan kandungan yang terbatas. yang harus kita perhatikan keberlanjutan lingkungan dan alam. Hal itu penting untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi yang berkualitas memiliki keberlanjutan tidak berakhir pada jangka pendek atau menengah saja. Diperlukan sejumlah kebijakan yang mengarah pada baik kebijakan ekonomi itu sendiri maupun implementasi di sektor hukum yang mengutamakan keberlanjutan lingkungan. Pengembangan kualitas sumberdaya manusia harus dipersiapkan mulai sekarang sehingga kita tidak kekurangan tenaga-tenagaprofesionalpadasaatitu.
Tentunya semua tahapan dalam setiap yang dibahas ini ada yang sudah, sedang, dan akan dilakukan pemerintah. Semua tugas besar tersebut harus dimatangkan mulai dari sekarang untuk mengejar visi ekonomi Indonesia. Komitmen para pemimpin, pemerataan infrastruktur fisik dan digital, energi, kepastian hukum, kualitas sumber daya manusia,. Kita optimis bahwa Indonesia mampu melakukan transformasi tersebut dengan baik sebagai basis pertama dan utama dalam mewujudkan mimpi menjadi negara maju.
Namun harus lebih dari itu, sistem ekonomi tersebut haruslah dapat menjawab permasalahan besar perekonomian Indonesia, yaitu: mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Sistem ekonomi ini harus dapat memberikan peluang bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk menjalankan perannya masing-masing, serta peran pemerintah bagi terbentuk dan terlaksananya kebijakan ekonomi yang rasional dan efektif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan besar ekonomi, serta agar dapat menjawab tantangan demokratisasi, desentralisasi, dan globalisasi dalam rangka mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas menuntut memperkuat kemampuan dalam mengelola sistem ekonomi pasar nasional yang didukung oleh berbagai prasyarat, antara lain: pembangunan institusi politik untuk mendukung demokratisasi; terciptanya kepastian hukum; stabilitas makro ekonomi; sektor keuangan yang handal; ditegakkannya peraturan-peraturan anti-monopoli yang menjamin persaingan usaha yang sehat; reformasi birokrasi; serta penguatan jaring social untuk penanganan kemiskinan.
Keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan peluang desentralisasi dan globalisasi adalah dengan cara meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia secara sistematis dan terencana. Kompleksitas peta dan agenda global mau tidak mau harus diimbangi dengan kemampuan diplomasi ekonomi secara internasional. Indonesia harus mampu melihat peluang global yang ada dengan menjadikan kepentingan nasional sebagai inti dalam perjuangan diplomasi ekonomi, sehingga Indonesia tidak terhanyut dalam berbagai aturan dan permainan global yang tidak memihak pada kepentingan nasional
jika ada hujatan, kritik, atau ketidakpuasan terhadap capaian ekonomi Indonesia saat ini. Namun, perlu diingat, kritik tersebut perlu bersifat konstruktif dan perlu dipertimbangkan kondisi yang terjadi, baik dalam konteks global maupun nasional. Perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi global, khususnya negara-negara yang telah menjadi pasar tradisional Indonesia untuk ekspor, seperti yang sedang terjadi dan hal ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Kita justru perlu mengapresiasi kinerja ekonomi pemerintahan indonesia karena mampu menyusun dan melaksanakan kebijakan ekonomi yang optimal di tengah ketidakpastian perekonomian global yang terjadi saat ini. kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Ada juga aspek yang perlu kita perhatikan dalam pertumbuhan ekonomi berkualitas, tidak hanya di lihat dari aspek aspek tertentu karena hal ini menyangkut kesejahteraan rakyat atau pemerataan kesejahteraan rakyatnya agar kedepannya perpertumbuhan ekonomi suatu negara pada dasarnya akan berkualitas, jika pertumbuhan ekonominya berkonstribusi menekan tumbuhannya seimbang dan tidak lagi adanya ketidakstabilan antara poin poin tertentu. Pertumbuhan ekonomi berkualitas juga tercermin dari aktivitas perekonomian yang mampu memberikan pemerataan pendapatan masyarakat, serta mendongkrak tumbuhnya lapangan kerja baru yang memiliki daya serap yang tinggi terhadap pertumbuhan tenaga kerja. Pemerataan kesejahteraan rakyat perlu dipercepat dengan memperhatikan pertumbuhan lapangan kerja dan penyerapannya, akses rakyat untuk mendapatkan kesempatan kerja secara paralel harus diikuti dengan upaya meningkatkan ketrampilannya agar dapat bersaing di pasar bebas. Sekarang kita dihadapkan kepada pilihan: pertumbuhan tinggi untuk sebagian masyarakat, atau pertumbuhan tidak terlalu tinggi tetapi dapat mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
pertumbuhan ekonomi sangat terkait dengan investasi. Oleh karena itu, untuk menghindarkan masyarakat dari ketidakmerataan pendapatan dan kemiskinan perlu pertumbuhan ekonomi, yang tidak harus tinggi tetapi dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Kita berharap pertumbuhan yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi berkualitas, yaitu pertumbuhan yang diperoleh dari tumbuhnya semua kegiatan ekonomi dan banyak digeluti oleh masyarakat secara luas


