BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Suaraindonesia1 - Menkominfo: Stop Posting Foto Teroris



Jakarta - Suaraindonesia1,
koranprogresif.co.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate meminta  masyarakat untuk tidak menyebarkan foto-foto teroris yang terjadi di Mabes Polri maupun di Gereja Katedral Makassar.

"Janganlah menyebarkan foto-foto yang tidak memenuhi persyaratan etis serta persyaratan perundang-undangan di ruang digital," katanya.

Menurut Menkominfo, penyebaran foto maupun video kejadian terorisme justru menambah ketakutan di tengah masyarakat. Dengan demikian, tujuan dari pembuat teror bisa tercapai.

Selain itu, penyebaran foto dan video itu juga bisa berpotensi menghasut serta menimbulkan adu domba di tengah masyarakat.

Jhohnny juga berharap, masyarakat bersikap bijak dalam membuat unggahan di media sosial. "Saya meminta agar masyarakat menunggu hasil penyelidikan para aparat penegak hukum," ujarnya. 

Selanjutnya Menkominfo juga mengatakan, pihaknya tengah mendapat mandat membuat pedoman mengenai penanganan pelanggaran di ruang digital. Pemerintah terus mendorong penggunaan ruang digital secara bijak melalui literasi digital dan grup diskusi.

Senada dengan Menkominfo, peringatan soal penyebaran foto teroris juga disampaikan Wakil Ketua DPR RI, M. Azis Syamsuddin.

Menurut Azis, ancaman teror sebenarnya telah beredar dan diterima aparat pasca penangkapan 22 terduga teroris jaringan Jemaah Islamiyah (JI) di wilayah Jawa Timur, pada 18 Maret 2021 lalu. Sasaran ternyata beralih ke Makassar. Kita semua, prihatin dan menyesalkan peristiwa ini terjadi.

Azis menduga, ada upaya pengalihan aksi dan target jika dicermati dari tragedi dugaan bom bunuh diri di Gereja Katedral tersebut.  Azis menduga, ada sel-sel baru terorisme yang sudah bergerak ke berbagai daerah dari Jawa Timur. Dugaan tersebut merujuk dari dua peristiwa yang saling berkaitan.

"Skemanya sudah matang. Jika kita melihat kronologi rentetan peristiwa ini. DPR meminta Densus segera bergerak, karena dikhawatirkan akan ada aksi serupa yang disiapkan pada lokasi yang berbeda," tegasnya.

Azis berharap, masyarakat agar tenang dan meminta agar tidak memposting gambar-gambar ledakan ini. Aparat sedang bergerak. serahkan prosesnya kepada penegak hukum. Jangan pula posting gambar-gambar atau video ledakan apalagi jasad korban ledakan. Memposting gambar-gambar ke jejaring media sosial adalah bagian dari upaya pelemahan dan menggangu psikologi khususnya keluarga korban.

Azis memastikan, aksi pengeboman merupakan rencana hitam yang tidak menyukai kondisi dan situasi daerah, khususnya situasi nasional tenang dan aman. Azis meminta usut tuntas dan bongkar jaringan ini. Ia yakin Densus 88 Anti Teror mampu bekerja dengan baik. Azis meminta sekali lagi kepada masyarakat untuk bijak di media sosial.

Menurutnya, ini adalah duka kita bersama, jaga ruang komunikasi digital kita dengan bijak.

Sementara itu, Koordinator Nasional Forum Pegiat Media Sosial Indonesia (FPMSI), Hafyz Marshal mengimbau warganet senantiasa waspada terhadap konten radikalisme dan provokatif di media sosial. Ia mengajak warganet agar melaporkan konten radikalisme kepada platform media sosial tersebut.

"Jika ada konten yang tak layak, mari lakukan laporan ke penyedia platform agar Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan sebagainya segera menurunkan konten tak layak tersebut," kata Hafyz.

Tak hanya itu, Hafyz juga mengajak seluruh elemen warganet, terlebih generasi milenial agar senantiasa konsisten menyebarkan konten positif seputar persatuan dan perdamaian di media sosial, serta tidak menyebarkan konten aksi terorisme seperti foto maupun video.

Menurut Hafyz  penyebaran foto maupun video aksi terorisme memberikan peluang bagi pelaku teror untuk mencapai tujuannya, yakni menyebarkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu, mari sama-sama kita jaga ruang digital kita dengan hanya menyebarkan konten-konten positif saja. "Tahan tangan dan jari kita untuk tidak menyebarkan foto ataupun video aksi terorisme, karena itu justru akan membantu tujuan mereka menebarkan rasa takut," pungkasnya. (Red).
« PREV
NEXT »