Suaraindonesia1.com _Sarolangun. Kerusakan ruas jalan menuju Gereja GPdI para jemaat dan warga setempat telah lama mengeluhkan kondisi jalan, Lapisan aspal terkelupas, batu-batu kerikil berserakan di permukaan ruas jalan, mengundang kerawanan lalulintas kendaraan. Selain itu, jalannya mendaki banyaknya lobang di jalan akibat aspal yang rusak juga berpotensi berbahaya bagi pengendara khususnya pengendara roda dua, yang kerap menyebabkan kecelakaan. Seperti yang terjadi di jalan sebelah gereja menuju Terminal Angdes Singkut.
Pak Baled merupakan pendeta di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI). Sebuah sinode gereja beraliran Pentakosta. Gereja ini menekankan pengalaman rohani seperti baptisan Roh Kudus, bahasa roh, dan penyembuhan ilahi, serta memiliki organisasi terstruktur, yang berlokasi di Simpang Siliwangi Desa Bukit Tigo Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun. Gereja tersebut berada tepat di kawasan kota Kecamatan Singkut.
Pak Baled seorang pendeta merasa prihatin terhadap kerusakan jalan di sebelah gerejanya, khususnya jalan dilalui masyarakat unum. Selain itu, untuk mengkritisi pihak-pihak yang bertanggungjawab, juga sebuah proses edukasi kepada masyarakat bahwa mereka juga ikut bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan perbaikan jalan.
Pendeta Baled mengatakan, "pengerjaan jalan yang melibatkan umatnya berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan infrastruktur jalan ini, apalagi ruas jalan ini selalu dilewati masyarakat umum untuk beraktifitas,"jelasnya.
Lebih lanjut pendeta baled,"adapun kerusakan jalan ini bukan terjadi dalam hitungan bulan, melainkan sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi menyeluruh. Ia sangat menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan infrastruktur masyarakat,"ucap Pendeta Baled.
Pendeta Baled yang Membiayai perbaikan jalan ini, khususnya jemaat GPdI rela mengeluarkan biaya, membeli material, semen dan sirtu (pasir batu), serta upah pekerja. memperbaiki jalan tersebut dengan cor semen agar bisa dilewati oleh kendaraan roda empat maupun roda dua. Pendeta baled dan jemaat GPdI merogoh uang pribadi masing-masing untuk seluruh kebutuhan yang menelan biaya 20 juta lebih.
Merasa terpanggil untuk terjun dan turun secara langsung untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam perbaikan jalan ini. Pendeta baled berujar,"Kewajiban ini harus dilakukan gereja sebagai perpanjangan tangan Kristus di dunia,"ucapnya.
Pendeta baled dengan tegas mengatakan,"bahwa pemerintah daerah tidak dapat terus-menerus mengandalkan iuran pribadi masyarakat dalam perbaikan jalan ini, merupakan kewajiban pemerintah, bukan beban masyarakat,"tegasnya.
Djarnawi Kusuma


