BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

MENGUNGKAP MISTERI KELUARGA LIE BOEN YAT



MANADO, Suaraindonesia1, 30 November 1800 sang pedagang dari Fujian Tuan Lie Boen Yat keturunan Tionghoa berdara Yahudi menginjakan kakinya di Makassar menuju ke Manado, dengan niat baik dan tekad yang kuat berusaha dibidang pertanian dan perdagangan LIE BOEN YAT berusaha diwilayah Sulawesi, Maluku dan Borneo yang sekarang disebut Kalimantan, beberapa usahanya terus maju terutama dibidang pertanian kelapa, rempah-rempah, wangi-wangian dan perdagangan lainnya hingga memiliki tanah-tanah perkebunan dan pertanian yang cukup luas;

Seiring waktu berjalan Tuan LIE BOEN YAT terus mengembangkan usahanya ,di Makassar Keluarga LIE BOEN YAT ada tiga kakak beradik Tuan LIE BOEN YAT mereka telah mendirikan Firma Tek Ho & Co sekitar tahun 1799 yang berusaha perdagangan ,pertanian di Kota Makassar usaha mereka cukup maju sampai menjadi orang berpengaruh di Makassar dan Keluarga LIE mendirikan Rumah Abu Marga LIE di Kota Makassar sampai saat ini Rumah Abu Marga LIE masih ada;


MANADO, 30 November 1888 sampai Tahun 1891 FIRMA LIE BOEN YAT & Co adalah Usaha Dagang milik  Tuan LIE BOEN YAT bersama Isterinya SIE DJOK NIO maju pesat dan menguasai perdagangan disegala bidang di Batavia, Maluku, Borneo, Sulawesi, Manado, Gorontalo, dan Minahasa, dan diwilayah lainnya, seiring waktu berjalan dengan umur yang semakin tua, maka Tuan LIE BOEN YAT bersama Istri SIE DJOK NIO memikirkan generasi anak-anaknya yang wajib meneruskan segala usaha yang dilakukannya agar segala usaha mereka terus berjalan dan bisa bermanfaaat juga bagi orang lain, karena yang bekerja dalam seluruh perkebunan dan perdagangan Tuan LIE BOEN YAT saat itu kurang lebih ada seribu anggota keluarga baik Mandor Perkebunan, Pengawas, maupun buru yang bergantung penghidupan mereka pada usaha Tuan LIE BOEN YAT;



TAHUN 1892 USAHA DAGANG FIRMA LIE BOEN YAT & CO DAN ANAK-ANAK TUAN LIE BOEN YAT;

Manado 24 Oktober 1892, dengan usia Tuan LIE BOEN YAT dan Istri SIE DJOK NIO semakin tua, dan kekuatan semakin berkurang, timbul pemikiran sang pedangang besar Tuan LIE BOEN YAT untuk meneruskan usahanya kepada anak-anaknya, dan saat itu Tuan LIE BOEN YAT dan Istrinya SIE DJOK NIO memiliki 8 (Delapan) orang anak yang diberi nama Tuan LIE TJENG HONG, Tuan LIE TJENG SIJANG, Tuan LIE TJENG LOK, Tuan LIE TJENG KU, Nyonya LIE TJAE NIO, Nyonya LIE KIEM GEH NIO dan Nyonya LIE BOEN NIO, kedelapan orang anak Tuan LIE BOEN YAT tersebut adalah generasi penerus pemilik usaha dagang FIRMA LIE BOEN YAT & CO dengan dialihkan keanak-anak usaha perdagangan dan pertanian terus berkembang dan menjadikan Keluarga LIE BOEN YAT dikenal secara International soal perdagangan rempah-rempah sehingga bangsa eropa sering datang ke Manado dan membuat kerja sama dagang dengan Keluarga LIE BOEN YAT; 


TAHUN 1919 DIDIRIKAN NV.HANDEL MAATSCHAPPY LIE BOEN YAT & CO DIBAWAH/ONDER  FIRMA LIE BOEN YAT & CO;


Usaha dagang dan pertanian semakin maju maka timbul pemikiran dari anak-anak Tuan LIE BOEN YAT untuk mengikuti aturan hukum dagang dan situasi pertanian dan perdagangan saat itu, maka anak-anak Tuan LIE BOEN YAT sepakat mendirikan NV (Namloze Venoschap) dibawah FIRMA LIE BOEN YAT & CO yang diberi nama NV.Handel Maatschappy Lie Boen Yat & Co dan saat itu diangkat Tuan LIE TJENG LOK sebagai Direktur NV dan kedua anaknya membantu dalam pengembangan usaha perdagangan NV dibawah FIRMA LIE BOEN YAT & CO tersebut;


TAHUN 1929 NV.HANDEL MAATSCHAPPY LIE BOEN YAT & CO MENDIRIKAN LAGI NV.CELEBES MOLUKKEN CULTUUR MAATSCHAPPY BERGERAK DIBIDANG PERTANIAN PERKEBUNAN;



Pada tahun 1929 NV dibawah FIRMA LIE BOEN YAT & CO mengembangkan NV.Celebes Molukken Cultuur Maatschappy yang diperuntukan bergerak usaha dibidang pertanian dan perkebunan, terutama perkebunan kepala saat itu, untuk memproduksi kopra yang menghasilkan minyak kelapa yang sangat diperlukan bangsa eropa dan asia saat itu, sehingga Keluarga LIE BOEN YAT memiliki tanah-tanah perkebunan yang besar ,pada saat itu disebut onderneming atau perkebunan besar yang tergolong sukses disaman itu yang merupakan penghasil minyak kelapa terbaik sampai ke internasional;


TAHUN 1938 FIRMA LIE BOEN YAT & CO MENDIRIKAN NV DIBAWAH FIRMA YANG DIBERI NAMA NV.BOUW MAATSCHAPPY NOORD CELEBES BERGERAK DIBIDANG PEMBANGUNAN PERUMAHAN;


Untuk memperluas usaha pembangunan dan perumahan, FIRMA LIE BOEN YAT & CO mendirikan usaha yang diberi nama NV.Bouw Maatschappy Noord Celebes yang bergerak dibidang pembangunan dan perumahan pada saat itu, sehingga banyak bangunan dan perumahan di Kota Manado dan sekitarnya dibangun untuk keperluan perdagangan dan usaha-usaha, dan ada juga beberapa gedung yang dibangun saman itu seperti gedung kopa di pasar 45;


AKHIR TRAGIS SANG KONGLOMERAT KELUARGA LIE BOEN YAT DIMANADO;


MANADO, 14 Februari 1942. Dalam suasana muram mengiringi pendudukan Jepang atas Hindia Belanda, Manado kehilangan putra-putri terbaiknya saat itu. Hanya sebulan setelah jatuhnya pemerintahan kolonial tepatnya pada 13 Februari 1942, keluarga dermawan dan pengusaha sukses Keluarga Lie Boen Yat yang antara lain Tuan Lie Tjeng Lok bersama dua putranya, Lie Goan Oan dan Lie Goan Tjoan, digiring ke Gunung Wenang, lalu dieksekusi mati oleh pemerintahan militer Jepang. 


Keluarga Lie Boen Yat yang antara lain Lie Tjeng Lok bukanlah nama asing di Manado. Mereka dulunya memulai kerajaan usaha dagang Firma Lie Boen Yat & Co di kawasan Kampung Cina, menjual tembakau, beras, pakaian, kue, dan layanan jahit. Seiring waktu, usahanya berkembang pesat mereka membeli tanah, membangun wisma dan rumah kontrakan, termasuk sebuah gedung megah yang dikenal dengan nama Wisma Eldorado di Sario-Tumpaan, disebut-sebut sebagai bangunan termegah di Manado pada masanya. 



Puncak kejayaan Keluarga Lie Boen Yat datang ketika Keluarga Lie Boen Yat mendirikan perusahaan swasta Tionghoa dibawah Firma Lie Boen Yat & Co di kota ini yaitu NV Handel Maatschappij Lie Boen Yat & Co. pada 24 Maret 1919, serta kemudian mengambil alih NV Celebes Molukken Cultuur Maatschappij pada 20 Agustus 1929. Ia juga mendirikan NV onder/dibawah Firma Lie Boen Yat & Co yaitu NV.Bouw Maatschappij Noord Celebes bersama anaknya pada akhir 1930-an. Bisnisnya meliputi perdagangan lokal, ekspor komoditas seperti kopra dari Sulawesi ke Amerika dan Eropa, serta impor obat-obatan, parfum, dan minuman ke wilayah Manado dan Maluku. 


Kedudukan dan reputasinya menjulang bukan hanya sebagai pengusaha besar, tetapi juga sebagai salah satu tokoh masyarakat terkemuka di Manado, mewakili komunitas Tionghoa lokal yang mapan.


Segalanya berubah saat fajar 1942. Ketika tentara Jepang menggantikan kekuasaan Belanda, tekanan militer dan kebijakan keras mulai menjerat para pemilik modal. Keluarga Lie Boen Yat antara lain Lie Tjeng Lok, bersama kedua putranya, ditangkap atas tuduhan bahwa mereka “membiayai perjuangan” di Tiongkok, membantu kekuatan anti-Jepang di bawah pimpinan Chiang Kai-shek. Tuduhan tersebut dianggap oleh banyak pihak sebagai dalih belaka, sebagian dipercaya lahir dari dendam lokal: konon salah satu otoritas Jepang di Manado pernah merasa ditolak oleh Keluarga Lie Boen Yat ketika hendak menyewa Wisma Eldorado untuk dijadikan kantor. 

YAP I PEK salah satu anak dari Nyonya LIE BOEN NIO cucu dari  LIE BOEN YAT pemilik FIRMA LIE BOEN YAT & CO yang sempat bersembunyi di Gereja Balai Keselamatan di Desa Liba Kecamatan Tompaso Minahasa, pada tahun 1942 ditangkap oleh tentara Jepang saat itu, namun secara mujisat berhasil lolos dari pemancungan algojo jepang yang bernama Yamada saat itu;

Tak lama setelah penangkapan, seluruh kekayaan Keluarga Lie Boen Yat dinyatakan disita dan dikuasai oleh rezim pendudukan. Dari aset berharga hingga lahan, semuanya lenyap, menandakan kehancuran bukan hanya atas tubuh, tetapi juga atas warisan nyata yang telah dibangun dengan kerja keras puluhan tahun. 


13 Februari 1942 menjadi tanggal kelabu bagi masyarakat kota Manado pada saat itu. Di Gunung Wenang, Keluarga Lie Boen Yat yang antara lain Lie Tjeng Lok (71 tahun) serta putra-putranya, Lie Goan Oan dan Lie Goan Tjon, bersama empat terdakwa lainnya dieksekusi mati secara kejam dengan dipancung. 


Dalam kesedihan yang mendalam, jenazah mereka dikubur secara sederhana, hanya dengan nama dan tanggal lahir terpahat pada batu nisan seadanya. Baru pada 1946, pasca perang, kuburan itu dibongkar dan jenazah dipindahkan ke taman makam pahlawan di Menteng Pulo, Jakarta. 


Sebelum dijatuhi hukuman mati, dikisahkan bahwa sangat banyak masyarakat manado dan sekitarnya yang dibantu dan bekerja pada Keluarga Lie Boen Yat sempat berbondong-bondong datang berkumpul berdiri menatap sedih. “Air mata tak tertahankan,” karena mereka tahu tatapan mereka kepada sang penolong dalam kesusahan mereka keluarga dan anak-anak mereka adalah tatapan terakhir yang akan segera menuju ke pemancungan oleh tentara jepang “tulis sejarawan saat itu, 


YAP I PEK AHLI WARIS KELUARGA TUAN LIE BOEN YAT SANG PAHLAWAN KELUARGA LIE BOEN YAT DAN PAHLAWAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA;


Kematian tragis itu tak hanya memupus nyawa sang tokoh Keluarga LIE BOEN YAT, tetapi memicu anak LIE BOEN NIO yaitu Tuan YAP I PEK salah satu cucu Lie Boen Yat yang menjadi pejuang kemerdekaan Republik Indonesia melawan penjajah jepang, dan pada saat itu sempat merebut beberapa senjata yang dimiliki oleh tentara jepang, sehingga namanya dikenang sebagai pejuang 45 ditanah toar lumimuut tercinta, dan dengan perjuangan YAP I PEK sang pahlawan Keluarga LIE BOEN YAT , Pemerinta Republik Indonesia menganugrahi YAP I PEK alia Yohanes Isak Petrus Manampiring sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945 yang memiliki Kewarganegaraan Republik Indonesia di tahun 1952; 

Akibat kematian tragis Keluarga LIE BOEN YAT pada saat itu, sempat memecah warisan besar yang pernah dimilikinya. Setelah kemerdekaan, aset dan tanah peninggalan Keluarga LIE BOEN YAT  menjadi sumber sengketa berkepanjangan antar ahli waris hingga ada yang mengaku sebagai ahli waris Lie Tjeng Lok namun ternyata palsu dan sempat menguasai warisan Keluarga Lie Boen Yat puluhan tahun dan terungkap pada tahun 2011-2013 ternyata untuk mendapatkan harta warisan keluarga Lie Boen Yat para pemalsu nekat memalsukan silisalh waris dan mengklaim sebagai keturunan ahli waris Lie Tjeng Lok  namun akhirnya pemalsuan tersebut dapat diungkap dan dibuktikan palsu oleh Keturunan asli dari Nyonya LIE BOEN NIO anak LIE BOEN YAT pemilik FIRMA LIE BOEN YAT & CO yaitu YAP I PEK alias Yohanis Isak Petrus Manampiring sebagai ahli waris yang sebenarnya;


Sampai saat ini Ahli Waris Keluarga LIE BOEN YAT yang ada yaitu Keturunan dari LIE BOEN NIO, masih terus mencari dan terus mempertanyakan, masih adakah keturunan ahli waris yang asli lainnya saat ini..?  


Kisah Keluarga Lie Boen Yat bukan sekadar catatan perdagangan dan kekayaan. Ia adalah gambaran tragis bagaimana kedudukan sosial dan bisnis bisa luluh lantak oleh kekuasaan militer pendudukan jepang. Dari kios sederhana ke puncak konglomerasi; dari puncak kejayaan ke eksekusi kejam di malam kelabu 13 Februari 1942.


Hari ini, ketika banyak pihak menuntut kejelasan atas warisan dan keadilan bagi ahli waris LIE BOEN YAT, kita diingatkan pada nama yang pernah berjaya dan akhir yang tak beradab.Keluarga LIE BOEN YAT antara lain Lie Tjeng Lok harus diingat bukan hanya sebagai pengusaha, tapi sebagai korban sejarah, sekaligus cermin betapa rapuhnya kemapanan di tengah pergolakan politik dan perang pada saat itu ; Semoga sejara Keluarga LIE BOEN YAT ini menjadi perenungan bahwa kebenaran akan selalu terungkap sekalipun ketidak benaran menutupnya rapa-rapat, kebenaran akan selalu bersinar dan akan selalu terungkap. (Angky T)


Sumber utama:

- Arsip Ahli Waris Keluarga Lie Boen Yat;

- Buku Yerry Wirawan, Judul: Sejara Masyarakat Tionghoa Makassar Dari Abad Ke 17 hingga ke 20; 

- Akta Eigenaar Firma LBY & Co 24 Oktober 1892 No.49 dan Akta Pendirian NV 1919 dan 1938;

- Buku Hans Lolong, judul: Dai Nippon ( Jepang) Masuk Manado Tahun 1942

« PREV
NEXT »