Surabaya, Suaraindonesia1, 4 Februari 2026 – Koordinator Daerah (Korda) BEM Nusantara Jawa Timur menyatakan duka cita mendalam sekaligus kemarahan atas tragedi kemanusiaan yang kembali mencoreng wajah pendidikan Indonesia. Kasus kematian YBS (10), seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi—tidak mampu membeli buku dan pena—adalah tamparan keras bagi negara.
Koordinator Daerah BEM Nusantara Jawa Timur, Muhammad Zainnur Abdillah, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar statistik kematian, melainkan bukti nyata kegagalan sistem perlindungan sosial dan pendidikan yang merata.
"Ketika seorang anak berusia 10 tahun merasa beban hidupnya begitu berat hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah seharga puluhan ribu rupiah, maka negara telah gagal hadir untuk rakyatnya yang paling rentan. Ini bukan takdir, ini adalah pembiaran struktural," tegas Muhammad Zainnur Abdillah di Surabaya, Rabu (4/2/2026).
Sorotan Utama BEM Nusantara Jatim:
1. Ironi Pendidikan Gratis: Slogan pendidikan gratis yang didengungkan pemerintah terbukti masih semu di lapangan. Kasus YBS membuka mata kita bahwa biaya-biaya "kecil" (buku, seragam, alat tulis) masih menjadi tembok raksasa bagi masyarakat miskin, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
2. Rentetan Kasus di NTT: BEM Nusantara Jatim mencatat bahwa ini bukan satu-satunya kabar buruk dari NTT. Belum hilang dari ingatan kita kasus kekerasan guru terhadap siswa SD di Timor Tengah Selatan (TTS) pada akhir 2025 lalu yang juga berujung kematian. Rentetan peristiwa ini menandakan adanya kondisi "Darurat Pendidikan" dan "Darurat Perlindungan Anak" di Nusa Tenggara Timur yang luput dari prioritas nasional.
3. Solidaritas dari Jawa Timur: Sebagai sesama anak bangsa, mahasiswa Jawa Timur tidak akan diam. Penderitaan siswa di NTT adalah luka bagi mahasiswa di Jawa Timur. Kami menyerukan solidaritas nasional untuk mengawal kasus ini agar tidak menguap begitu saja tanpa perbaikan sistem.
Tuntutan BEM Nusantara Jawa Timur:
Menyikapi hal tersebut, BEM Nusantara Jawa Timur mendesak:
1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh ke sekolah-sekolah di NTT.
2. Pemerintah Daerah dan Pusat untuk menjamin ketersediaan perlengkapan sekolah (buku, pena, tas) bagi siswa kurang mampu secara riil, bukan hanya bantuan operasional sekolah (BOS) yang seringkali tidak menyentuh kebutuhan personal siswa.
3. Dinas Sosial dan Pihak Terkait untuk lebih peka mendeteksi keluarga rentan yang membutuhkan pendampingan psikologis dan ekonomi, agar anak tidak menjadi korban keputusasaan orang tua atau keadaan.
"Kami tidak ingin mendengar lagi ada anak Indonesia yang mati karena pena. Pena seharusnya menjadi alat mereka melukis masa depan, bukan alasan untuk mengakhiri hidup. BEM Nusantara Jatim akan terus bersuara hingga keadilan pendidikan benar-benar tercipta dari Sabang sampai Merauke," tutup Muhammad Zainnur Abdillah





