KOTA GORONTALO, suaraindonesia1.com – Aktivis asal Gorontalo, Andika Wijaya, menyayangkan sikap dari pengelola fasilitas Kopi Kenangan Gorontalo. Di saat kafe lain sangat memperhatikan kenyamanan tempat ibadah, Kopi Kenangan Gorontalo justru sebaliknya.
Pengalihan fungsi mushola kafe menjadi gudang sangat disayangkan, karena mushola yang nyaman merupakan poin plus penting bagi kenyamanan pelanggan. Sebaliknya, tren saat ini menunjukkan kafe justru berupaya menyediakan mushola yang layak, proper, dan bersih untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, terlebih ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan yang sudah hampir di penghujung.
“Kita semua tahu bahwa Gorontalo merupakan Bumi Serambi Madinah. Khalifah di Kota Gorontalo merupakan orang yang sangat agamais. Sudah sepantasnya Wali Kota Gorontalo bertindak tegas atas hal ini. Masalah ini layaknya penghinaan terhadap tempat ibadah, terlebih di Gorontalo adalah mayoritas Muslim,” ujar Andika.
Menurutnya, menghina tempat ibadah atau simbol agama merupakan tindakan serius yang melanggar hukum, etika, dan norma sosial di Indonesia.
“Ini adalah bentuk kritikan, bukan seolah-olah menjatuhkan Kopi Kenangan Gorontalo. Sebagai Gen Z, saya mengapresiasi keberadaan coffee shop yang cukup ternama tersebut, tapi sebagai warga negara Indonesia, saya punya hak untuk mengkritik hal-hal yang menyimpang, apalagi ini soal tempat ibadah,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Andika menantang Wali Kota Gorontalo untuk memberikan sanksi kepada pihak Kopi Kenangan Gorontalo.
“Tentunya ini menjadi pelajaran untuk seluruh coffee shop di Gorontalo. Apabila terdapat fasilitas mushola di dalamnya, kita harus merawat, menjaga agar bagaimana tempat ibadah tersebut menjadi selayak-layaknya tempat ibadah,” pungkasnya.
Reporter: Jhul-Ohi


