Oleh: Ikbal Ka'u – Pemuda Pemerhati Kebijakan
KOTA GORONTALO, SuaraIndonesia1.com, OPINI – Persoalan sampah di Kota Gorontalo hari ini tidak lagi sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari lemahnya kepemimpinan dan minimnya inovasi di tubuh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Di tengah lonjakan timbulan sampah yang mencapai 170–180 ton per hari, DLH justru terlihat berjalan tanpa arah yang jelas, miskin terobosan, dan terjebak dalam pola kerja lama: kumpul–angkut–buang.
Pendekatan seperti ini bukan hanya usang, tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan membaca kompleksitas persoalan lingkungan modern. DLH seharusnya menjadi motor penggerak perubahan, bukan sekadar operator lapangan yang bekerja rutinitas tanpa visi jangka panjang.
Fakta bahwa ribuan ton sampah terus mengalir ke TPA setiap bulan tanpa pengolahan signifikan adalah bukti nyata bahwa program yang dijalankan tidak efektif, tidak kreatif, dan tidak berkelanjutan. Tidak terlihat adanya roadmap yang terarah, tidak ada inovasi berbasis teknologi, dan minim pelibatan masyarakat secara sistematis.
Kami menilai ada beberapa kegagalan mendasar di tubuh DLH Kota Gorontalo:
Pertama, kegagalan dalam merancang program pengurangan sampah dari sumbernya. DLH tidak mampu membangun sistem pemilahan yang masif dan terstruktur di tingkat rumah tangga.
Kedua, stagnasi inovasi. Tidak ada terobosan nyata seperti pengembangan TPS 3R skala luas, pengolahan sampah menjadi energi, atau integrasi ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Ketiga, lemahnya kepemimpinan dalam mendorong perubahan. DLH terkesan hanya menjalankan rutinitas tanpa keberanian mengambil langkah progresif.
Keempat, kurangnya kolaborasi lintas sektor. DLH gagal membangun sinergi dengan komunitas, swasta, maupun akademisi yang sebenarnya bisa menjadi mitra strategis.
Dengan kondisi ini, kami secara tegas menyampaikan:
Jika DLH Kota Gorontalo tidak mampu menghadirkan program yang kreatif, terarah, dan berkelanjutan dalam waktu dekat, maka sudah sepatutnya Pemerintah Kota Gorontalo melakukan evaluasi serius terhadap kepemimpinan di dalamnya.
Pergantian Kepala Dinas bukanlah sesuatu yang tabu jika memang dibutuhkan demi kepentingan publik yang lebih luas. Jabatan publik bukan soal mempertahankan posisi, tetapi soal kapasitas, integritas, dan kemampuan menghadirkan solusi nyata.
Kota Gorontalo membutuhkan sosok Kepala DLH yang visioner, adaptif terhadap perkembangan, serta memahami secara mendalam persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah berbasis sistem modern dan berkelanjutan.
Kami juga mendesak Pemerintah Kota untuk:
· Melakukan audit menyeluruh terhadap kinerja DLH, termasuk program dan penggunaan anggaran.
· Menetapkan indikator kinerja yang jelas dan terukur dalam pengelolaan sampah.
· Mendorong lahirnya program inovatif berbasis teknologi dan ekonomi sirkular.
· Membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penanganan sampah.
Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Dibutuhkan keberanian untuk berubah, inovasi untuk bergerak maju, dan kepemimpinan yang kuat untuk mengeksekusi.
Jika DLH tidak mampu berbenah, maka yang harus berubah adalah orang-orang di dalamnya.
— REDAKSI —


