KEPULAUAN YAPEN-Suaraindonesia1.com. Badan Gizi Nasional mulai menyalurkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi masyarakat di wilayah Distrik Yapen Selatan. Salah satu titik penyaluran berlangsung di Posyandu Tiamboni, Kelurahan Tarau, pada Senin, 18 Mei 2026.
Kepala Distrik Yapen Selatan, Melans B. Tompo, S.E., menyampaikan bahwa sebanyak 166 warga Kelurahan Tarau tercatat sebagai penerima manfaat program MBG pada hari pertama penyaluran tersebut.
“Hari ini, 18 Mei 2026, salah satu posyandu kami yaitu Posyandu Tiamboni di Kelurahan Tarau mendapat program MBG. Sasaran penerimanya hari ini berjumlah 166 penerima,” ujar Melans Tompo saat memberikan keterangan di lapangan.
Ia menjelaskan, pola distribusi makanan dilakukan berdasarkan jadwal mingguan guna memastikan variasi asupan gizi bagi anak-anak. Untuk hari Senin dan Selasa, penerima manfaat memperoleh makanan lengkap berupa nasi dan lauk seperti ikan maupun ayam. Sedangkan pada hari Rabu hingga Jumat, penerima mendapatkan makanan ringan (snack), susu, dan buah-buahan. Program ini juga menyasar sekolah-sekolah lain di wilayah Distrik Yapen Selatan.
Pemerintah Distrik Yapen Selatan menyampaikan apresiasi atas terlaksananya program tersebut. Menurut Melans, program intervensi gizi dari pemerintah pusat sangat membantu masyarakat, terutama karena keterbatasan program gizi melalui anggaran reguler distrik maupun puskesmas.
“Untuk kegiatan seperti ini kami berterima kasih sekali. Karena jujur saja, intervensi di posyandu-posyandu yang kami punya di Yapen Selatan ini sangat minim sekali. Intervensi kami melalui contohnya gizi untuk menekan angka stunting melalui kegiatan seperti ini sangat bermanfaat sekali untuk pemenuhan gizi anak-anak selaku generasi masa depan,” tuturnya.
Meski memberikan apresiasi, Melans juga menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait tata kelola dana kesehatan dan intervensi gizi yang bersumber dari pemerintah pusat. Ia menilai aturan menu yang ditetapkan pusat masih terlalu kaku sehingga membatasi penyesuaian kebutuhan mendesak di lapangan.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan keterlambatan pencairan anggaran yang sering baru terealisasi pada pertengahan hingga akhir tahun. Menurutnya, kondisi tersebut membuat upaya penanganan stunting dan pemenuhan gizi di daerah menjadi kurang maksimal.
“Anggaran dari pusat sering kali terlambat masuk, padahal penanganan gizi buruk dan stunting tidak bisa ditunda. Harusnya intervensi seperti ini sudah berjalan sejak awal tahun, seperti bulan Februari atau Maret, bukan di pertengahan tahun agar tidak terlambat bagi perkembangan anak-anak,” tegasnya.
Melalui program Makanan Bergizi Gratis yang kini berjalan, Pemerintah Distrik Yapen Selatan berharap kebutuhan dasar gizi anak-anak di Kelurahan Tarau tetap terpenuhi dengan baik demi mendukung tumbuh kembang generasi masa depan.
#ElVINO


