BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Kepolisian Amankan Enam Pelaku Keributan Tambang di Suwawa, Yanto Atjil Soroti Lemahnya Pengawasan


BONE BOLANGO, SuaraIndonesia1.com – Sorotan tajam kembali diarahkan terhadap kasus keributan tambang di kawasan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, setelah enam orang pelaku berhasil diamankan aparat kepolisian, sementara sejumlah lainnya dilaporkan melarikan diri ke kawasan hutan usai bentrokan terjadi di area pertambangan Batu Gergaji. Peristiwa ini memantik perhatian serius dari masyarakat sipil Gorontalo, Yanto Atjil, yang mempertanyakan lemahnya sistem pengawasan keamanan di pintu masuk lokasi tambang, khususnya terkait lolosnya senjata tajam (sajam) ke area yang semestinya berada dalam pengawasan ketat.


Menurut Yanto Atjil, fakta bahwa para pelaku dapat membawa senjata tajam hingga terjadi keributan merupakan indikator kuat adanya kelalaian serius dalam sistem penjagaan di pos masuk area tambang. Ia menilai aparat maupun pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengamanan kawasan tidak boleh hanya berhenti pada penangkapan pelaku lapangan semata, melainkan wajib membuka secara terang bagaimana sajam bisa lolos tanpa deteksi.


“Ini bukan sekadar keributan biasa. Ada pertanyaan besar yang harus dijawab secara terbuka kepada publik: bagaimana senjata tajam bisa masuk ke wilayah yang dijaga? Apakah pemeriksaan di pos penjagaan berjalan sebagaimana mestinya atau justru ada pembiaran?” tegas Yanto Atjil.

Ia juga menyoroti perkembangan penanganan hukum terhadap para pelaku yang telah diamankan aparat. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui secara transparan sejauh mana tahapan proses hukum berjalan, mulai dari pemeriksaan, penetapan tersangka, kemungkinan penambahan pelaku baru, hingga pendalaman motif utama di balik kericuhan tersebut. Yanto menegaskan bahwa aparat penegak hukum tidak boleh berhenti hanya pada mereka yang berada di lapangan ketika bentrokan terjadi.


“Publik jangan hanya disuguhi penangkapan pelaku lapangan. Yang jauh lebih penting adalah mengusut siapa aktor utama, siapa yang menggerakkan, siapa yang membiayai, dan siapa yang memiliki kepentingan di balik konflik tambang ini,” ujarnya.

Menurut Yanto, pola konflik di wilayah pertambangan sering kali tidak berdiri sendiri. Di belakang para pelaku lapangan, kata dia, kerap terdapat aktor-aktor yang memiliki kepentingan ekonomi dan penguasaan wilayah tambang. Karena itu, ia mendesak aparat kepolisian, khususnya Polres Bone Bolango, untuk bekerja lebih serius membongkar jaringan di balik insiden tersebut agar kasus ini tidak berhenti sebagai konflik horizontal antar masyarakat semata.


Ia juga mengingatkan bahwa apabila aktor intelektual di balik keributan tidak disentuh, maka potensi konflik susulan di kawasan tambang Suwawa akan terus berulang. Situasi itu dinilai dapat memperburuk stabilitas keamanan serta menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat sekitar wilayah pertambangan.


Di sisi lain, Yanto meminta kepolisian membuka perkembangan penanganan kasus secara berkala kepada publik guna menghindari spekulasi liar di masyarakat. Transparansi penanganan perkara dianggap penting untuk memastikan kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum tetap terjaga.


“Jangan sampai publik menilai hukum hanya tajam ke bawah. Aparat harus menunjukkan keberanian untuk menyentuh siapa pun yang terlibat, termasuk jika ada aktor besar di belakang konflik ini,” pungkasnya.

(JO)

« PREV
NEXT »