BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Umat Islam di Kampung Sekru Mengusulkan Monumen Sejarah Kedatangan Misi Katolik di Fakfak


Fakfak — Suaraindonesia1, Keluarga besar umat Islam di Kampung Sekru, Kabupaten Fakfak, mengusulkan kepada umat Katolik di Tanah Papua agar dapat membangun monumen bersejarah di Kampung Sekru sebagai penanda awal perjalanan misi dan kehadiran Gereja Katolik di wilayah tersebut. Usulan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah kedatangan misi yang 

dibawa oleh Pater Cornelis Le Cocq d’Armandville yang pertama kali tiba di Kampung Sekru dan disambut oleh masyarakat setempat dari Biarpruga, Samai, dan Serkanasa.


Pernyataan usulan itu disampaikan dalam rangka kegiatan Pendalaman dan Kesaksian Iman 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Graha Le Cocq d’Armandville, Kabupaten Fakfak, Selasa 

(19/05/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan panjang sejarah iman sekaligus memperkuat nilai persaudaraan lintas umat di Papua.

“Saya Islam, saya imam besar di masjid, tapi saya minta agar keluarga besar umat Katolik segera 

membangun monumen bersejarah di tempat injakan pertama Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, supaya anak cucu kami selalu mengenang sejarah ini,” ujar Taip Biarpruga, salah satu keturunan masyarakat yang pertama menerima kedatangan misionaris tersebut.



Senada, Nasar Serkanasa menjelaskan bahwa nama Kampung Sekru diyakini berasal dari ungkapan “Secru… Secolarum” yang disebut Pater Le Cocq saat pertama kali tiba di wilayah itu. Ungkapan tersebut kemudian dimaknai masyarakat sebagai “syukur” atau “bersyukur”, yang menjadi dasar penamaan Kampung Sekru.

Sebelumnya, wilayah itu dikenal dengan nama lokal Mondo Gendik. Namun sejak kehadiran misi Katolik pada 22 Mei 1894, nama Sekru mulai digunakan dan melekat dalam sejarah masyarakat setempat.


Kedatangan misi Katolik pada 22 Mei 1894 tercatat sebagai tonggak penting sejarah Gereja Katolik di Tanah Papua. Pater Le Cocq menjadi salah satu pelopor awal penyebaran iman Katolik di wilayah tersebut. Dalam narasi sejarah lokal, saat kapal misionaris tiba di pesisir, masyarakat awalnya mengira kapal tersebut merupakan kapal dagang rempah-rempah. Namun kemudian diketahui membawa seorang misionaris yang turun dan berinteraksi dengan masyarakat setempat meski terdapat perbedaan bahasa, budaya, dan keyakinan. Sebelum menginjakkan kaki di daratan, Pater Le Cocq mengucapkan “Secru...Secolarum” yang dimaknai 

masyarakat sebagai ungkapan syukur atas keselamatan tiba di tempat tujuan.


Masyarakat setempat lantas berharap lokasi pertama kedatangan misionaris di Kampung Sekru dapat dijadikan penanda sejarah permanen, misalnya dalam bentuk patung atau monumen, agar peristiwa tersebut dapat dikenang lintas generasi.

“Kami berharap lokasi ini menjadi penanda sejarah yang hidup, agar generasi mendatang mengetahui bahwa Pastor Le Cocq pernah tiba di Kampung Sekru dan diterima dengan baik oleh masyarakat, termasuk umat Islam,” demikian harapan warga.


Dalam catatan Prefektur Apostolik Batavia, pada 22 Mei 1894 Pater Cornelis Le Cocq d’Armandville tiba di Pantai Kapaur, Kampung Sekru, Fakfak. Ia disambut oleh warga setempat, di antaranya Dunaris Samai 

dan Umar Halantan Serkanasa serta keluarga Biarpruga yang saat itu telah memeluk Islam akibat pengaruh perdagangan dari Tidore, Ternate, dan Arab.

Meski mayoritas masyarakat telah memeluk Islam, mereka tetap menerima kedatangan misionaris tersebut dengan baik. Bahkan, Pater Le Cocq sempat tinggal sementara di rumah Dunaris Samai. Dari sana ia memperoleh informasi mengenai wilayah di sebelah timur Sekru yang masih belum tersentuh ajaran agama.


Dalam kurun waktu sekitar 10 hari, Pater Le Cocq melakukan pelayanan misi di wilayah Fakfak dan sekitarnya dan membaptis sekitar 73 orang. Di antaranya tercatat empat orang yang kemudian dikenal dalam catatan sejarah awal Gereja Katolik di Papua. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu tonggak awal perkembangan misi Katolik di Tanah Papua, 

sementara Kampung Sekru dan wilayah sekitarnya dipandang sebagai bagian penting dari sejarah perjumpaan budaya, iman, dan persaudaraan di wilayah tersebut.


Setelah menyelesaikan tugasnya di Fakfak, pada Juni 1894 Pater Le Cocq melanjutkan perjalanan misi ke Seram, Kasewui, hingga Langgur di Kepulauan Kei. Umat Katolik yang telah dibaptis tetap mempertahankan ajaran yang diterima, meski pada masa awal belum tersedia pelayanan rohani secara menetap. (press release/ cr)

« PREV
NEXT »