BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Cuan Tipis, Gaya Mepet: Jebakan Hedonisme di Kehidupan Mahasiswa


Oleh: [Danil Ngabito]


GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, muncul sebuah fenomena yang akrab di kalangan mahasiswa: cuan tipis, gaya mepet. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pemasukan terbatas, tetapi gaya hidup berusaha mengikuti tren yang sedang populer. Secara sekilas hal tersebut tampak sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun di baliknya terdapat risiko perilaku konsumtif yang dapat mengganggu stabilitas keuangan mahasiswa.


Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan pola konsumsi mahasiswa. Platform seperti Instagram, TikTok, dan berbagai aplikasi belanja daring menghadirkan gaya hidup yang serba menarik. Tidak sedikit mahasiswa merasa perlu mengikuti tren pakaian, nongkrong di kafe, membeli gawai terbaru, hingga berburu diskon dan flash sale agar tidak dianggap tertinggal.


Fenomena tersebut diperkuat oleh berbagai penelitian di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan dalam JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis (2025) menemukan bahwa gaya hidup hedonis berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Selain itu, pengelolaan uang saku dan literasi keuangan juga menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan berbelanja.


Temuan serupa dipublikasikan dalam At-Thullab: Jurnal Mahasiswa Studi Islam (2025). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa cenderung berlomba mengikuti tren gaya hidup sehingga pengeluaran untuk hiburan, barang bermerek, dan aktivitas konsumtif meningkat. Penulis penelitian menekankan perlunya peran kampus, keluarga, dan mahasiswa sendiri dalam membangun pola hidup yang lebih seimbang dan bertanggung jawab.


Perilaku konsumtif tidak selalu muncul karena kebutuhan, melainkan sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan akan pengakuan sosial (social recognition). Dorongan untuk tampil menarik di media sosial membuat sebagian mahasiswa rela menghabiskan sebagian besar uang sakunya demi menjaga citra. Akibatnya, tabungan menipis, muncul kebiasaan berutang melalui layanan paylater, bahkan sebagian mahasiswa mengalami tekanan finansial sebelum akhir bulan.


Ironisnya, mahasiswa merupakan kelompok yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Jika sejak masa kuliah sudah terbiasa mengutamakan gengsi dibanding kebutuhan, maka kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga kehidupan setelah lulus. Pendapatan yang meningkat di masa depan belum tentu memperbaiki kondisi keuangan apabila pola konsumsi tetap tidak terkendali.


Fenomena "cuan tipis, gaya mepet" seharusnya menjadi pengingat bahwa kesejahteraan bukan ditentukan oleh seberapa sering seseorang mengikuti tren, melainkan oleh kemampuan mengelola keuangan secara bijak. Literasi keuangan, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta keberanian untuk hidup sesuai kemampuan merupakan bekal penting bagi mahasiswa.


Menjadi mahasiswa tidak harus identik dengan hidup serba mewah. Prestasi akademik, pengalaman organisasi, kemampuan berwirausaha, dan pengembangan keterampilan justru merupakan investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar citra di media sosial. Pada akhirnya, gaya hidup sederhana bukan berarti tertinggal zaman, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengambil keputusan finansial.


Rep: JO

« PREV
NEXT »