WONOSARI, SuaraIndonesia1.com — Satu kisah luar biasa sekaligus memilukan lahir dari Kecamatan Wonosari. Tim bola voli Desa Dulohupa baru saja mencetak sejarah gemilang dengan meraih peringkat kedua kejuaraan bola voli se-Kecamatan Wonosari. Di balik tepuk tangan, sorak-sorai, dan medali yang disandang, tersembunyi sebuah realita pahit yang tak bisa lagi dibungkam, tak bisa lagi diabaikan, dan tak bisa lagi ditunda.
Dari 14 desa yang membentang di wilayah Kecamatan Wonosari, hanya Desa Dulohupa yang sampai hari ini tidak memiliki satu pun fasilitas lapangan bola voli yang layak, permanen, dan aman untuk digunakan oleh pemuda-pemudinya.
Bukan karena warga tidak mampu. Bukan karena tidak ada lahan. Bukan pula karena tidak ada keinginan. Faktanya, 13 desa lainnya di kecamatan ini sudah membuktikan bahwa mereka bisa, mereka telah merencanakan, menganggarkan, membangun, dan memelihara fasilitas olahraga yang baik, lengkap, dan terawat bagi generasi mudanya. Setiap desa tetangga memiliki tempat yang rata, berpagar, bercahaya, tempat di mana anak-anak muda bisa berkumpul, berlatih, tumbuh, dan berkarya dengan tenang.
Lalu mengapa hanya Desa Dulohupa yang tertinggal sendirian? Mengapa hanya pemuda-pemudi di sini yang harus berjuang tanpa tempat yang pantas? Pertanyaan ini bukan sekadar renungan—ini adalah seruan yang harus dijawab secara terbuka dan jujur oleh semua pihak yang memegang kendali kebijakan di desa ini.
Suara yang Menggema dari Tengah Lapangan Sederhana
Iksandi Aliwu, Wakil Ketua Karang Taruna Desa Dulohupa, menyampaikan kenyataan ini dengan bangga atas prestasi anak-anak mudanya, namun dengan nada yang tegas dan penuh harap agar ketimpangan ini segera diakhiri:
"Kita semua tahu betul, Kecamatan Wonosari terdiri dari 14 desa. Kalau kita melangkah ke desa sebelah, ke desa seberang, ke desa-desa di sekeliling kita semuanya sudah memiliki lapangan bola voli yang baik, permanen, dan dapat digunakan kapan saja. Mereka mampu menyediakannya, mereka mampu merawatnya, dan pemuda mereka berlatih dengan tenang setiap hari di tempat yang layak.
Namun sampai detik ini, hanya Desa Dulohupa yang belum memiliki tempat seperti itu. Kami berlatih di tanah yang belum rata, di tempat yang berubah-ubah, di bawah cahaya yang seadanya, tanpa pagar yang melindungi, tanpa kenyamanan yang sederhana sekalipun. Meski begitu, anak-anak muda ini tetap bangkit, tetap berjuang, dan akhirnya berhasil meraih peringkat kedua se-kecamatan. Bukankah ini bukti nyata bahwa potensi di Desa Dulohupa tidak kalah dengan desa mana pun?
Maka pertanyaan kami sederhana saja: Jika desa lain mampu melakukannya, mengapa kami tidak? Apakah pemuda di sini kurang berharga? Apakah aspirasi kami kurang didengar? Apakah masa depan Desa Dulohupa bukan prioritas? Semoga pencapaian ini menjadi kode nyata sekaligus panggilan tegas bagi pihak-pihak yang memegang kebijakan, saatnya perhatian segera turun ke kami, saatnya kesetaraan akhirnya terwujud di tanah ini."
Kata-kata ini bukan sekadar keluhan sesaat. Ini adalah cermin yang menampakkan apa yang selama ini luput, atau sengaja diabaikan, dalam perencanaan pembangunan Desa Dulohupa. Jika desa-desa lain dengan jumlah penduduk, luas wilayah, dan kemampuan anggaran yang serupa mampu memprioritaskan sarana olahraga sebagai kebutuhan mendasar, maka tidak ada satu pun alasan yang dapat diterima mengapa hal yang sama belum terjadi di Desa Dulohupa. Ke mana arah perencanaan pembangunan selama ini? Siapa yang benar-benar diprioritaskan? Dan kapan pemuda-pemudi Desa Dulohupa akan menjadi bagian dari rencana tersebut?
Berlatih Tanpa Tempat, Bertanding Tanpa Rasa Takut
Bayangkan pemandangan ini terjadi setiap hari selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun: anak-anak muda berkumpul di tanah yang belum dipadatkan, menyesuaikan langkah di permukaan yang tidak rata, berbagi tempat dengan kegiatan lain, berlatih di bawah terik matahari yang membakar, atau di bawah cahaya lampu yang remang-remang. Tidak ada ruang ganti, tidak ada tempat istirahat, tidak ada tanda resmi bahwa ini adalah tempat mereka berkarya.
Namun ketika hari pertandingan tiba, mereka melangkah ke lapangan dengan kepala tegak. Mereka berhadapan dengan tim-tim yang setiap hari berlatih di fasilitas lengkap, di lapangan yang rata, di tempat yang terawat. Dan mereka membuktikan sesuatu yang luar biasa—bukan permukaan tanah yang membentuk juara, melainkan semangat yang tak pernah menyerah. Mereka mengalahkan lawan-lawan yang jauh lebih beruntung dalam hal sarana, dan akhirnya berdiri di posisi kedua tertinggi se-kecamatan.
Irwansyah Dama, salah satu pemain andalan tim, menyampaikan perasaan yang tulus sekaligus harapan yang mendesak, mewakili seluruh rekan-rekannya di lapangan:
"Kami membuktikan sendiri bahwa keterbatasan tidak mampu membatasi semangat dan kemampuan kami. Kami berdiri sejajar bahkan melampaui tim dari desa yang jauh lebih lengkap sarannya. Kami bangga bisa mengharumkan nama Desa Dulohupa. Tapi perjuangan ini tidak boleh terus berulang.
Kami tidak ingin adik-adik kami, generasi penerus di desa ini, harus berjuang dengan keterbatasan yang sama. Kami tidak ingin mereka tumbuh dengan perasaan bahwa mereka kurang berharga dibandingkan pemuda di desa sebelah. Kami juga berhak memiliki tempat yang layak—tempat yang permanen, aman, dan bisa kami banggakan. Ini bukan permintaan yang berlebihan, ini adalah hak kami sebagai warga desa. Dan kami berharap suara kami kali ini benar-benar didengar dan ditindaklanjuti."
PENUTUP TEGAS DARI KETUA KARANG TARUNA DESA DULOHUPA — ELFIN SULINGO
Di akhir seluruh pernyataan dan harapan yang bergema dari anak-anak muda ini, Elfin Sulingo, Ketua Karang Taruna Desa Dulohupa, menutup dengan kalimat yang tegas, jernih, berwibawa, dan tidak bisa ditawar lagi—sebuah pesan yang ditujukan langsung kepada Pemerintah Desa Dulohupa dan seluruh pihak yang memegang kebijakan:
"Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Dulohupa, saya berdiri di sini mewakili seluruh pemuda dan pemudi desa ini untuk menyampaikan satu hal dengan tegas dan tidak berbelit-belit:
Prestasi yang baru saja diraih tim bola voli kita ini bukan sekadar kebanggaan sesaat untuk dirayakan lalu dilupakan. Ini adalah tanda peringatan sekaligus panggilan tegas. Fakta bahwa 13 desa lain di Kecamatan Wonosari sudah memiliki lapangan bola voli yang layak, sementara Desa Dulohupa masih menunggu hingga hari ini, bukanlah sesuatu yang bisa dibiarkan terus berlanjut.
Semua desa lain telah membuktikan bahwa membangun lapangan voli itu BISA dilakukan. Bukan hal mustahil, bukan kemewahan yang tak terjangkau, melainkan kebutuhan dasar yang dapat direncanakan dan diwujudkan melalui anggaran yang ada. Maka, tidak ada alasan apa pun yang dapat diterima untuk terus menunda di Desa Dulohupa.
Kami tidak meminta hal yang berlebihan. Kami tidak meminta fasilitas yang mewah. Kami hanya meminta kesetaraan. Kami hanya meminta perlakuan yang sama seperti pemuda di desa-desa lain. Anggaran desa ada, kewenangan ada, kebutuhan sudah sangat nyata dan mendesak—maka tindakannya harus segera ada.
Saya tegaskan dengan tegas kepada seluruh jajaran Pemerintah Desa Dulohupa: Jangan menunggu sampai semangat ini perlahan pudar. Jangan menunggu sampai bakat-bakat muda di desa ini pergi karena tidak ada tempat untuk berkembang. Jangan menunggu sampai kami berhenti menunggu dalam diam.
Lapangan bola voli yang layak, permanen, dan aman di Desa Dulohupa harus segera diwujudkan. Bukan tahun depan, bukan nanti, bukan setelah hal lain selesai—SEKARANG. Karena kami sudah membuktikan bahwa kami layak dihargai. Dan kini, giliran Anda membuktikan bahwa Anda hadir, peduli, dan bertanggung jawab atas masa depan Desa Dulohupa."
Saatnya Tidak Ada Lagi yang Tertinggal
Pembangunan sebuah desa tidak diukur dari seberapa megah gedung yang berdiri atau seberapa mulus jalan yang dilalui, melainkan dari seberapa besar perhatian yang diberikan kepada generasi mudanya—kepada mereka yang akan meneruskan perjalanan desa ini ke masa depan. Mengabaikan penyediaan sarana olahraga berarti mengabaikan tempat di mana karakter dibentuk, kenakalan dicegah, bakat ditemukan, dan persatuan tumbuh.
Para pemuda Desa Dulohupa sudah melakukan bagian mereka. Mereka berjuang, mereka berlatih, mereka berkorban, dan akhirnya mereka membuktikan kepada semua orang bahwa Desa Dulohupa memiliki potensi yang tidak kalah hebatnya dari desa mana pun di Kecamatan Wonosari. Kini, giliran Pemerintah Desa Dulohupa untuk melakukan bagiannya: mendengar, merencanakan, mengalokasikan, dan mewujudkan.
Jangan biarkan Desa Dulohupa terus menjadi satu-satunya desa yang tertinggal. Jangan biarkan semangat juang ini perlahan padam karena dibiarkan tanpa tempat yang layak. Jangan biarkan satu-satunya pembeda antara Desa Dulohupa dan desa lainnya hanyalah ketidakpedulian terhadap anak-anak mudanya sendiri.
Selamat dan bangga untuk Tim Bola Voli Desa Dulohupa. Kalian sudah membuktikan bahwa kalian juara! Dan kalian berhak mendapatkan tempat yang layak untuk terus menjadi juara.
Pemerintah Desa Dulohupa, dengarkanlah: 13 desa lain sudah melakukannya. Saatnya Dulohupa juga melakukannya. Jangan biarkan warga menunggu lebih lama lagi.
Rep: JO


