KOTAMOBAGU — Suaraindonesia1, Duka mendalam menyelimuti masyarakat Kota Kotamobagu pascatragedi drag race di Upai. Di tengah suasana duka yang masih dirasakan keluarga korban, Pemerintah Kota Kotamobagu menegaskan komitmennya untuk memberikan perhatian dan pendampingan secara maksimal kepada keluarga yang ditinggalkan.
Wali Kota Kotamobagu, dr. Weny Gaib, Sp.M., menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Kotamobagu akan terus melakukan pendampingan terhadap keluarga korban selama 24 jam. Perhatian tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap warganya yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
Menurut Wali Kota, tragedi tersebut memiliki ikatan emosional yang kuat bagi dirinya maupun Pemerintah Kota Kotamobagu, terlebih karena sejumlah korban masih memiliki hubungan keluarga.
"Korban masih ada ikatan keluarga dengan saya. Orang lain saja saya perhatikan, apalagi keluarga dan masyarakat saya sendiri," ungkap dr. Weny Gaib.
Ia menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, yang paling utama adalah memastikan keluarga korban mendapatkan perhatian, pendampingan serta dukungan yang dibutuhkan. Pemerintah Kota Kotamobagu, kata dia, tidak ingin keluarga yang sedang berduka merasa berjalan sendiri menghadapi situasi tersebut.
"Jangan ada lagi adu domba. Mari kita sama-sama menjaga perasaan keluarga korban yang sedang ditinggalkan. Jangan sampai ada luka lagi di tengah duka," pesan Wali Kota.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri, menjaga persaudaraan serta tidak memperkeruh suasana dengan informasi yang dapat menimbulkan perpecahan.
Bagi Pemerintah Kota Kotamobagu, perhatian terhadap keluarga korban menjadi prioritas utama, terutama dalam memastikan proses pendampingan berjalan dengan baik serta keluarga mendapatkan dukungan secara manusiawi di tengah kehilangan yang begitu berat.
GTI: Jangan Terprovokasi Narasi Menyesatkan
Senada dengan seruan tersebut, Ketua Umum DPP LSM Garda Timur Indonesia (GTI), Fikri Alkatiri, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai narasi yang beredar di tengah masyarakat pascatragedi.
Fikri meminta masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima, menyaring dan menyebarkan informasi, terutama informasi yang belum jelas kebenarannya.
"Kami mengajak masyarakat jangan mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang menyesatkan. Jangan sampai informasi yang belum tentu benar berkembang menjadi narasi liar dan akhirnya memperkeruh suasana di tengah masyarakat," tegas Fikri Alkatiri.
Menurutnya, saat ini keluarga korban membutuhkan ketenangan, empati dan dukungan dari semua pihak. Karena itu, menurut Fikri, perbedaan pandangan terkait tragedi tersebut sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan atau melakukan provokasi.
GTI juga mendorong agar seluruh pihak tetap memberikan ruang bagi proses penanganan dan pengusutan tragedi berjalan sesuai ketentuan, sembari memastikan kepentingan serta hak-hak keluarga korban tetap menjadi perhatian.
"Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu melahirkan konflik baru. Saat ini keluarga korban sedang berduka. Mari kita jaga perasaan mereka. Jangan ada luka baru di tengah duka yang mereka alami," ujar Fikri.
Seruan tersebut menjadi pesan bersama agar tragedi Upai tidak menjadi pemicu perpecahan, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, kepedulian dan rasa kemanusiaan masyarakat Kotamobagu.
Di tengah duka, yang dibutuhkan bukan adu domba, melainkan kepedulian. Bukan provokasi, melainkan persatuan. Dan bukan narasi liar, melainkan informasi yang benar serta sikap saling menjaga.



