BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Mahasiswa Soroti Dugaan Prioritas Pengisian Galon 35 Liter di SPBU Moutong


PARIGI MOUTONG, SuaraIndonesia1.com — Persoalan pelayanan BBM di SPBU Moutong mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa asal Kabupaten Parigi Moutong yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Gorontalo.


Destian, mahasiswa asal Parigi Moutong yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Gorontalo, menyoroti adanya dugaan pemberian prioritas terhadap pengisian BBM menggunakan galon berkapasitas sekitar 35 liter dibandingkan kendaraan roda dua milik masyarakat.


Menurutnya, apabila masyarakat yang datang menggunakan sepeda motor harus menunggu dalam antrean panjang sementara pengisian menggunakan galon dalam jumlah besar justru mendapatkan prioritas, maka kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan.


“Saya sebagai mahasiswa asal Parigi Moutong yang sedang menempuh pendidikan di Gorontalo merasa perlu menyampaikan persoalan ini. Kalau benar galon-galon 35 liter lebih diprioritaskan untuk mendapatkan BBM dibandingkan motor masyarakat yang membutuhkan BBM untuk aktivitas sehari-hari, tentu ini harus dipertanyakan,” ujar Destian.

Ia menegaskan, pihaknya tidak bermaksud menuduh pengelola SPBU melakukan pelanggaran tanpa dasar. Namun, dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengawasan dari pihak yang berwenang.


“Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi kami meminta agar mekanisme pelayanan di SPBU Moutong diperiksa secara terbuka. Siapa yang mendapatkan prioritas, bagaimana sistem antreannya, dan apakah pengisian menggunakan galon 35 liter tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Destian juga meminta agar dugaan praktik calo atau pengerit BBM turut menjadi perhatian. Menurutnya, jika ada pihak yang secara rutin membeli BBM dalam jumlah besar menggunakan galon untuk kemudian diperjualbelikan kembali, maka hal tersebut berpotensi merugikan masyarakat pengguna kendaraan yang hanya membutuhkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari.


“Jangan sampai masyarakat yang datang dengan motor harus antre lama bahkan tidak mendapatkan BBM, sementara ada pihak tertentu yang bisa membawa pulang BBM menggunakan galon 35 liter dalam jumlah besar. Kalau memang ada praktik seperti itu, harus diperiksa dan ditindak sesuai aturan,” katanya.

Ia juga menyoroti peran Polsek Moutong agar melakukan pengawasan terhadap situasi di sekitar SPBU dan memastikan pelayanan berjalan tertib serta tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat.


“Kami berharap Polsek Moutong tidak hanya menjaga keamanan di lokasi, tetapi juga ikut mengawasi apabila ada dugaan praktik calo, pembelian berulang, atau permainan antrean yang merugikan masyarakat. Aparat harus memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan yang adil,” ujar Destian.

Destian mendorong pihak terkait untuk memeriksa CCTV, data transaksi, pola pengisian BBM, serta kendaraan maupun pihak yang diduga melakukan pengisian berulang menggunakan galon.


“Periksa CCTV dan data transaksi. Kalau memang tidak ada pelanggaran, jelaskan kepada masyarakat. Tetapi kalau ditemukan adanya penyimpangan atau pihak tertentu yang mendapatkan perlakuan khusus, jangan dibiarkan,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa asal Parigi Moutong yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Gorontalo, Destian menegaskan bahwa dirinya tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kepentingan masyarakat di daerah asalnya.


“Walaupun saya sedang berada di Gorontalo untuk menempuh pendidikan, saya tetap peduli dengan persoalan masyarakat Parigi Moutong. Mahasiswa harus berani menyampaikan kritik ketika melihat adanya dugaan ketidakadilan, tetapi tetap berdasarkan fakta dan tidak menghakimi pihak mana pun,” pungkas Destian.

Rep: JO

« PREV
NEXT »