Jakarta, suaraindonesia1.com, Dukungan PT Jakarta Propertindo (Perseroda) terhadap Gerakan 100 Hari Membangun Peradaban menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi masyarakat dalam mewujudkan lingkungan Jakarta yang bersih, bebas sampah, beradab, bersatu, dan bermanfaat.
Gerakan ini mendorong penguatan peran RT dan RW sebagai penggerak masyarakat sekaligus mitra pembangunan di tingkat lingkungan. Budaya gotong royong menjadi salah satu fokus utama, terutama dalam menjaga kebersihan, mengelola sampah, serta menciptakan lingkungan yang hijau, aman, dan sehat.
Koordinator Prakarsa Warga Jakarta Utara, Kencana Wulan, berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menjaga serta membangun lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap semakin banyak warga yang terlibat aktif, saling berkolaborasi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Kencana Wulan.
Ketua Forum RT-RW sekaligus pemerhati lingkungan, Syuaib Sulaiman, menilai penguatan peran masyarakat di tingkat lingkungan penting agar berbagai program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurutnya, keterlibatan warga secara langsung menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan berbagai kegiatan lingkungan, termasuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan dan mengelola sampah.
Sementara itu, aktivis pemerhati lingkungan Restu Hapsari menekankan pentingnya membangun kebiasaan positif masyarakat, khususnya dalam menjaga kebersihan, penghijauan, dan pengelolaan sampah.
Dari pihak JAKPRO, VP Corporate Secretary PT Jakarta Propertindo (Perseroda), M. Alfin Rinaldinsyah, mengatakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) JAKPRO tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan pemberian bantuan kepada masyarakat.
“Kami ingin program TJSL JAKPRO tidak berhenti pada pemberian bantuan. Yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut dapat menciptakan perubahan, membangun kemandirian masyarakat, dan memberikan manfaat yang dapat diukur,” kata Alfin di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Menurut Alfin, keterlibatan warga menjadi faktor penting agar sistem pemilahan sampah dapat terus berjalan setelah program dijalankan.
“Melalui program ini, kami mendorong prinsip ‘dari warga, oleh warga, dan untuk warga’. Ketika masyarakat sudah mampu menjalankan sistem pemilahan secara mandiri, maka program tersebut telah menciptakan fondasi perubahan yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Gerakan 100 Hari Membangun Peradaban memiliki sejumlah fokus, mulai dari menguatkan posisi RT-RW sebagai penggerak masyarakat, menghidupkan budaya gotong royong, hingga mendorong terciptanya lingkungan Jakarta yang bersih, hijau, aman, dan sehat.
Kepedulian terhadap pengelolaan sampah menjadi salah satu bagian penting dalam gerakan ini. Warga didorong tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan pemilahan dan pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara konsisten, mulai dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan RT.
Melalui gerakan tersebut, aksi nyata selama 100 hari diharapkan tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dapat diteruskan menjadi budaya dan gaya hidup positif warga di tingkat RT.
Dengan semangat “Beradab, Bersatu, dan Bermanfaat”, Gerakan 100 Hari Membangun Peradaban diharapkan mampu memperkuat kepedulian, gotong royong, dan kolaborasi warga dalam mewujudkan lingkungan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Karena Jakarta bebas sampah dimulai dari kepedulian setiap warga. Mari bergerak bersama, mulai dari rumah, lingkungan, dan RT masing-masing. Jaga kebersihan, kelola sampah dengan baik, dan jadikan lingkungan bersih sebagai budaya bersama.
Report, Jp



