BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Siraman Rohani imam Malik Saat Berbuka Puasa

Skrinews-
Saudaraku kaum shoimin. ( Orang orang yang sedang puasa ). Puasa itu menjadi sarana. Jalan mudah untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa .Dengan jalan lapar dan dahaga.

Maka orang Jawa menyebutnya apu ( lapar )  mendekat  kepada yang kuasa  ( Wasa ) . Dengan memper  hawa nafsu. Mendekat dengan menghindari sesuatu yang menjauh kan dengan Nya.

Caranya sederhana. Para pertapa dan pelaku Tahanut di guwa atau di rumah sendiri selalu menghindari penyebab munculnya kesuburan Ruh dan penga ruh .Baik karena sifat ke binatang an lewat kedagingan  ,Kita . Maupun penga ruh ke 'iblisan ',lewat darah kita.
Maka coba perhatikan perilaku para salik ketika berpuasa dan berbuka . Wajah dan gerak tubuhnya sangat mendukung bagi tumbuhnya sabar juga nampak rasa syukur dan kesederhanaan nya.

Karena gerak Ruhani ini , tidak hanya memutar kebiasaan siang, dengan  tidak makan ,  lalu malam nya , melakukan balas dendam . Dengan cara semau mau nya sendiri.

Tidak sekedar membalikan waktu kita memenuhi nafsu kebinatang an..bukan itu..

Saat berpuasa itulah sesungguhnya menjadi momen yang berharga untuk  kita berkaca :

Sebagai santri , kita berkaca dengan amaliyah dan ahlaq pergaulan ibadah guru guru kita.

Sebagai pemimpin ,
kita berkaca dengan para pemimpin sebelumnya. Sudahkah kita melak-sanakan amanat penderitaan rakyat.

 Karena
pemimpin itu bukan raja  'pesta'. Bukan raha 'panen' . Setelah menang terpilih pada pemilu atau Pemilu Kada , kemudian tiba giliran memu-ngut untung dari rente ekonomi. Menguasai segala macam rente  kekuasaan. Sehingga tidak peduli lagi bangsa ini terbelah.

Sebagai ayah ,
kita musti  berkaca,  bagaimana cara mendidik , membekali ilmu penge-tahuan, agama dan moral ahlaq prima . Sehingga kelak dia ( anak cucu ) kita mampu menapak kehidupan yang di inginkan Rosul Pilihan. Sebagai orang yang welas asih dengan gemerlap ahlaq mulia yang gemar berbuat kemuslihan . Berbuat kebaikan bagi semua saja. Tanpa terkecuali.

Sebagai pelepas anak panah. Orang tuwa tetaplah Gendewa yang harus bertanggung jawab dunia dan akherat . Khususnya terhadap daya didik kepada anak sendiri  . Mau pun anak didik kita.

Dalam sebuah riwayat
sayidina al-imam malik bin anas (Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani, lahir di Madinah pada tahun 714M / 93H, dan wafat pada tahun 800M / 179H,)

Beliau adalah cucu buyut Nabi Ulama pakar ilmu fiqh dan hadits. Guru nya Imam Syafi'i Ra.  serta pendiri Madzhab Maliki,

Pada saat berbuka puasa  di bulan Romadhon, beliau di riwayat kan malah menangis. hingga bercucuran air mata membasahi pipi tuwa nya.

Beliau memandangi makanan yang tersaji di hadapan nya. Tidak tega memakan . Lintasan kisah terbuka demi mengenang apa yang sudah di lakukan Nabi untuk umat nya dan guru untuk dirinya. Dalam dialog dengan muridnya terekam indah ahlaq beliau di bulan Romadhon :

'* Wahai guruku yg mulia,
Mengapa  engkau menangis sedemikian sedih.
# jangan takut. wahai murid2ku, Sungguh kalian adalah murid2 terbaikku dan sangat hidmah padaku, bahkan hidangan ini teramat nikmat buatku. Aku terkenang indah nya Ahlaq guru ku.

Aku pernah berbuka bersama dengan guru ku , Al-Imam  Sayidina Ja'far As-shodiq ra.  Cucu baginda Rosulillah dengan jamuan makanan yang hebat. Beliau tidak jadi makan malah Sayidina Ja'far As-shodiq berkata sambil terisak :

Sembari berkata ;
Wahai ibnu Anas tahukah engkau, Rosulillah terkadang berbuka dgn 3 buah kurma dan air putih saja. Tetapi beliau merasa sangat nikmat penuh syukur. 
Bahkan
seringkali , Rosulillah hanya berbuka sebutir kurma di bagi berdua dengan Satu-satunya Aisyah.  Tetapi sungguh , beliau merasa sangatlah nikmat. Dengan syukur dan doa.
Beliau Rosulillah sedikit makan  sahur dan buka . Tetapi sangatlah banyak ibadah dan syukur, dan mendoakan  umatnya yg selalu lalai

Hari ini
kita disuguhi makanan nikmat ,tetapi kita sangatlah jauh dari rasa syukur. Setelah berkata itu, Syeikh ja'far as-Shodiq pingsan. 
Setelah Imam Malik menceritakan itu muncul kerinduan kita pada baginda Rosulillah''

Ya Allah...Allah...ya Rosulillah...
mari berpuasa dengan teladan para masayih. Jangan verlebihan. Mari berbuka .sembari bersyukur kita masih dapat makan dan  minum. Sementara banyak yang masih kelaparan di banyak belahan bumi  ini..lalu tela'ah amal ibadah mu

Sumber:
Dr KH Nuril Arifin Husein MBA



By. Jerry Patty
« PREV
NEXT »