Home
Jawa Timur
Penderita DBD Meningkat Drastis, Tulungagung Masuk Zona Merah
Penderita DBD Meningkat Drastis, Tulungagung Masuk Zona Merah
suaraindonesia1
-
Rabu, Januari 23, 2019
Tulungagung skrinews, – Peningkatan kasus penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tulungagung meningkat drastis. Jika pada 17 Januari lalu ada sekitar 179 kasus dengan 2 pasien meninggal, pada hari ini, Rabu (23/1/19) sudah ada 223 kasus penularan dengan 3 pasien meninggal dunia.
Saat ini Tulungagung berada pada posisi 5 besar tingginya penularan DBD di Jawa Timur. "Tingkat penularan DBD kita sudah masuk 5 besar di Jawa Timur," ujar Kadinkes Kabupaten Tulungagung melalui Kasi Pengendalian dan pencegahan penyakit menular, Didik Eka.
Namun kondisi itu belum dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Dinkes Tulungagung. KLB baru bisa diterapkan jika kasus penularan sudah mencapai 2 x 382. Pihaknya berharap jangan sampai terjadi KLB.
Praktis hingga saat ini Pemkab Tulungagung belum mengeluarkan biaya untuk pengobatan pasien DBD. Plt Bupati Tulungagung sudah keluarkan surat edaran agar OPD membantu sosialisasi pencegahan DBD dengan 3m plus.
"Kesadaran seluruh masyarakat untuk melaksanakan PSM serentak dan berkualitas," ujarnya. DBD jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat bisa mengakibatkan kematian. Pasalnya saat tertular DBD, sebabkan viskositas darah meningkat hingga nutrisi dan oksigen tidak sampai ke otak yang berujung kematian.
Untuk menekan semakin berkembang penularan, pihaknya terus lakukan tindakan darurat berupa pengasapan (fogging). Hingga saat ini sudah 37 lokasi sudah difogging. Didik melanjutkan, selain penanganan dengan fogging, ada penanganan secara alami DBD.
Penanganan dengan memelihara ikan pemakan nyamuk atau menanam tanaman penolak nyamuk seperti lavender, serai dan krisan. "Bisa dengan cara alami yaitu memelihara ikan pemakan nyamuk dan tanaman penolak nyamuk," ujar Didik.
Jentik nyamuk Aedes Aegypti menetas saat berusia 10 hari, 7 hari kemuadian siap kawin dan setiap hari mengeluarkan 200 hingga 400 telur selama 1 bulan.
Pihaknya memperkirakan tingginya kasus DBD ini terjadi hingga Maret. "Musim penghujan puncaknya terjadi pada Januari hingga Maret," ujarnya lebih lanjut. Pada April hingga Juli, kasus DBD cenderung turun. Dan Agustus, kejadian DBD tidak ada sama sekali.
cristian
Postingan Populer
-
SBD,SuaraIndonesia1.Com,Telah terjadi musibah kebakaran yang menimpa warga desa Mali iha kecamatan Kodi Sumba Barat Daya Provinsi Nusa Tengg...
-
Salah satu penerima manfaat RLH 2023 hingga 2024 haknya belum diberikan oleh pemerintah desa waitaru SBD - SuaraIndonesia1.Com, Kementerian ...
-
Tamiang Hulu- Suaraindonesia1com--Tak Terima Namanya Dicatut Dan Dipalsukan Tanda Tangannya 2 (dua) Warga Desa Bandar Setia Dusun Karang R...
-
Tamiang Hulu- Suaraindonesia1com- Terkait Pemberitaan Pemalsuan Tanda Tangan 2 (dua) Warga Bandar Setia Dusun Karang Rejo Yang Berinisial S...
-
Nasional-Skrinews.Com.Bitung. Seiring terjadi Kejadian perkelahian antar kampung tinombala atas dan bawah, kecamatan maesa, kelurahan p...
-
GOWA - JAKARTA | SKRINEWS. COM/ Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan, "Alumni dari SMA Salis angkatan 85 Sung...
-
SBD,SuaraIndonesia1.Com,Program pemasangan meteran listrik gratis untuk masyarakat kurang mampu di Desa WeeKabala, Kecamatan Loura Sumba Bar...





