GORONTALO, suaraindonesia1.com – Gelombang aspirasi mahasiswa asal Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) yang sedang menempuh pendidikan di Provinsi Gorontalo terus memuncak. Mereka secara resmi menyampaikan desakan kepada Bupati Bolsel untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) dan merekomendasikan pencopotan pejabat tersebut dari jabatannya.
Pernyataan sikap ini dilandasi oleh evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kabag Kesra yang dinilai gagal total. Sorotan utama tertuju pada buruknya manajemen pengelolaan asrama mahasiswa Bolsel di perantauan.
Kondisi Asrama Memprihatinkan
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari para penghuni asrama lama, kondisi bangunan dan fasilitas penunjang saat ini sangat memprihatinkan dan tidak layak huni. Mahasiswa mengeluhkan minimnya perhatian dari Bagian Kesra yang berujung pada kerusakan fasilitas dasar.
"Kami merasa asrama ini seperti 'rumah tanpa tuan'. Mulai dari kinerja penjaga asrama yang tidak profesional, pasokan air yang kerap macet, hingga masalah kebersihan dan keamanan yang tidak terkelola dengan baik. Bahkan, kerap terjadi kehilangan barang milik penghuni. Padahal, asrama adalah simbol harga diri dan marwah daerah di perantauan," ujar Kabid Advokasi, Hukum dan HAM KPMIBMS Cabang Gorontalo, Julianhar Ohi.
Kegagalan manajerial ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap aset daerah bernilai miliaran rupiah serta pengabaian atas hak dasar mahasiswa untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak selama menempuh pendidikan.
Runtuhnya Kepercayaan Akibat Komunikasi Sepihak
Selain persoalan fisik, mahasiswa juga menyoroti buruknya pola komunikasi yang dibangun Kabag Kesra. Aspirasi yang disampaikan kerap kali tidak mendapat respons yang konstruktif. Bahkan dalam sebuah pesan singkat yang diterima mahasiswa, pejabat tersebut memberikan respons yang dinilai tidak mencerminkan sikap sebagai pelayan masyarakat, antara lain dengan pernyataan seperti, "Terserah NT... anggaran tidak ada... Datang ke kantor, kong ba cerita, bo bagini NT p cara dang.. !!"
Sikap ini dinilai kaku dan tidak responsif, sehingga menghilangkan kepercayaan mahasiswa terhadap kredibilitas Bagian Kesra.
"Kami tidak lagi menaruh kepercayaan pada pejabat yang ada sekarang. Sulit membangun dialog yang konstruktif. Mahasiswa seolah hanya dijadikan objek, bukan mitra yang kesejahteraannya harus diutamakan, intinya kami butuh solusi kongkrit bukan lagi janji manis semata," tegasnya.
Poin Desakan Mahasiswa
Sebagai wujud mosi tidak percaya, mahasiswa Bolsel secara kolektif menyarankan Bupati untuk mengambil langkah strategis guna menyelamatkan citra pemerintah daerah. Adapun poin-poin yang didesakkan meliputi:
- Pencopotan Jabatan: Mengganti Kabag Kesra dengan figur yang kompeten, memiliki empati tinggi, dan memahami kondisi psikologis mahasiswa di perantauan.
- Audit Pengelolaan Asrama: Mendesak transparansi alokasi anggaran pemeliharaan asrama yang diduga tidak terserap dengan tepat, mengingat dalam APBD Perubahan telah dianggarkan dana untuk keperluan tersebut, khususnya untuk asrama putri baru.
- Restorasi Fasilitas: Menuntut adanya perbaikan menyeluruh terhadap seluruh asrama mahasiswa Bolsel agar layak huni dan menunjang proses belajar.
Menanti Sikap Tegas Bupati
Hingga saat ini, mahasiswa masih menanti respons nyata dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bolsel. Mereka berharap Bupati tidak menutup mata terhadap kondisi yang dialami putra-putri daerah di perantauan.
"Jangan sampai satu pejabat yang tidak becus bekerja merusak hubungan harmonis antara mahasiswa dan pemerintah. Kami butuh pemimpin di Kesra yang bekerja nyata, bukan hanya pandai berjanji. Anggaran katanya tidak ada, padahal sudah dianggarkan. Kemana dana tersebut? Kami menanti solusi nyata, bukan janji manis semata yang nihil tindakan di lapangan," pungkasnya.


