BOALEMO, suaraindonesia1.com – Proses penegakan hukum terhadap aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kabupaten Boalemo kembali menuai kritik keras. Praktik penertiban yang seharusnya dilakukan secara tegas dan merata justru terkesan “tebang pilih” dan penuh tanda tanya.
Sorotan ini mencuat pasca polemik yang sempat menghebohkan publik, yakni adu mulut antara pelaku tambang ilegal berinisial MB dengan Kapolres Boalemo. Peristiwa tersebut sebelumnya dianggap sebagai momentum keseriusan aparat dalam menertibkan aktivitas ilegal. Namun kini, publik justru menilai kejadian itu hanya sebatas “pertunjukan sesaat” tanpa dampak nyata.
Ketua Umum Forum Kaum Pembela Rakyat Provinsi Gorontalo, Rahman Patingki, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi tersebut. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, ia menyebut bahwa lokasi yang sebelumnya menjadi titik penindakan dan penangkapan alat berat milik MB hingga kini justru kembali beroperasi.
“Ini sangat ironis. Lokasi yang sudah jelas pernah ditindak, bahkan dekat dengan Polsek Paguyaman dan berada di jalur akses utama, justru kembali aktif. Seolah-olah tidak pernah ada penegakan hukum di sana,” tegas Rahman.
Ia menilai, kondisi ini memperlihatkan lemahnya komitmen aparat dalam memberantas PETI di wilayah Boalemo. Lebih jauh, muncul dugaan adanya pihak yang secara terang-terangan mengaku mampu membekingi aktivitas tambang ilegal tersebut.
“Ini yang paling mengkhawatirkan. Ada sosok yang diduga mengklaim bisa membekingi aktivitas ilegal itu. Kalau ini benar, maka ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, tapi sudah masuk pada dugaan adanya praktik pembiaran bahkan perlindungan,” tambahnya.
Rahman juga mengungkapkan dugaan bahwa sosok yang mengaku sebagai “beking” tersebut adalah oknum jurnalis berinisial MR. Dugaan ini, menurutnya, harus segera ditelusuri secara serius oleh aparat penegak hukum demi menjaga marwah hukum dan kepercayaan publik.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan peran dan keseriusan Kapolres Boalemo dalam memastikan wilayah hukumnya benar-benar steril dari aktivitas PETI.
“Jangan sampai penangkapan terhadap MB kemarin hanya menjadi gertakan semata. Faktanya, aktivitas masih berjalan, bahkan diduga lebih berani karena merasa ada yang melindungi. Ini menjadi tamparan keras bagi institusi penegak hukum,” ujar Rahman dengan nada tegas.
Ia pun menantang Kapolres Boalemo untuk tidak hanya berhenti pada aksi simbolik atau pencitraan, tetapi benar-benar menunjukkan keberpihakan pada penegakan hukum yang adil dan transparan.
“Publik butuh kepastian, bukan drama. Aparat harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar membuat sensasi sesaat. Jika tidak ada langkah konkret, maka wajar jika masyarakat menilai penegakan hukum hari ini hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” tutupnya.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum di Kabupaten Boalemo dalam membuktikan bahwa negara benar-benar hadir dalam memberantas praktik ilegal yang merugikan lingkungan dan masyarakat.
—REDAKSI—


