Oleh: Supri Setiawan
PARIGI MOUTONG, suaraindonesia1.com — Menjelang satu tahun AKBP Hendrawan duduk di kursi empuk Kapolres Parigi Moutong bukan waktu yang singkat. Namun bagi kelestarian alam Parimo, satu tahun ini terasa seperti kutukan. Di bawah hidung korps berbaju cokelat, raungan mesin ekskavator di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) bukannya surut, justru terdengar kian menantang hukum.
Publik tidak butuh angka-angka statistik penangkapan "kroco" di lapangan. Menjelang satu tahun masa jabatan ini, kami melayangkan kritik keras atas tiga dosa besar penanganan tambang ilegal di Parimo:
- Hukum yang "Bisu" di Hadapan Alat Berat: Bagaimana mungkin puluhan alat berat bisa melenggang masuk ke kawasan hutan tanpa terdeteksi? Apakah intelijen kepolisian tumpul, atau memang ada mata yang sengaja dipejamkan? Menangkap buruh tambang yang mencari sesuap nasi adalah perkara mudah, tapi menyeret pemilik alat berat dan cukong emas ke jeruji besi nampaknya menjadi misi mustahil bagi Polres Parimo.
- Ritual "Buka-Tutup" yang Memuakkan: Operasi penertiban yang dilakukan Polres Parimo selama hampir setahun ini tak lebih dari sekadar drama seremonial. Polisi datang, penambang lari; Polisi pulang, mesin kembali berbunyi. Jika pola ini terus berulang, publik berhak curiga: Apakah penertiban ini benar-benar untuk penegakan hukum, atau hanya "pesan" agar koordinasi di bawah meja diperketat?
- Nyawa di Lubang Maut: Siapa yang Bertanggung Jawab? Tragedi longsor yang terus berulang di lokasi PETI bukan sekadar bencana alam, itu adalah kelalaian penegakan hukum. Setiap nyawa yang hilang di lubang tambang ilegal adalah noda hitam di seragam Kapolres. Mengapa baru bergerak setelah ada mayat? Di mana fungsi pencegahan yang digembar-gemborkan dalam slogan "Presisi"?
Hampir satu tahun ini, rakyat Parigi Moutong melihat kontras yang menyakitkan: Polisi yang gagah di media sosial, namun tampak tak berdaya (atau sengaja tak berdaya) di hadapan mafia tambang. Jika dalam sisa waktu yang ada Kapolres tidak berani menyentuh aktor intelektual dan menghentikan total aktivitas alat berat di lokasi PETI, maka sejarah akan mencatat beliau bukan sebagai pelindung rakyat, melainkan sebagai penonton setia kehancuran Parigi Moutong.
Cukup sudah retorika, kami butuh garis polisi yang permanen, bukan garis kompromi.
Reporter: Jhul-Ohi


