BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

“Buruh Bukan Mesin Produksi!” Fadli Serukan Konsolidasi Perlawanan Nasional Jelang 1 Mei

GORONTALO, SuaraIndonesia1.com — Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, aktivis lingkungan dan sosial asal Gorontalo, Muhamad Fadli, menyerukan kepada seluruh buruh di Indonesia agar tidak lagi diam menghadapi ketimpangan dan praktik ketidakadilan yang selama ini masih terjadi di berbagai sektor kerja.


Menurut Fadli, peringatan May Day tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan tanpa makna perjuangan. Ia menegaskan bahwa momentum 1 Mei harus dijadikan hari konsolidasi nasional bagi kaum buruh untuk menyatukan barisan melawan praktik eksploitasi tenaga kerja yang terus berlangsung secara sistematis.


“Buruh itu manusia, bukan mesin produksi. Mereka bukan alat yang bisa diperas tenaganya tanpa batas. Mereka punya keluarga, punya masa depan, dan punya hak hidup layak,” tegas Fadli dengan nada keras.

Ia menilai hingga hari ini masih banyak buruh yang bekerja dengan upah tidak sebanding dengan beban kerja, jam kerja melampaui batas kemanusiaan, serta minim jaminan keselamatan dan perlindungan hukum. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung kaum pekerja yang justru menjadi tulang punggung pembangunan.


Fadli juga mengajak buruh, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh elemen rakyat untuk menjadikan parlemen jalanan sebagai ruang demokrasi alternatif ketika aspirasi tidak lagi didengar di ruang-ruang kekuasaan. Ia mencontohkan sosok Marsinah sebagai simbol keberanian kaum buruh dalam melawan ketidakadilan struktural di Indonesia. Menurutnya, semangat perjuangan Marsinah tidak boleh berhenti sebagai sejarah, tetapi harus hidup dan menjadi energi perlawanan generasi buruh hari ini.


“Perjuangan buruh tidak harus memakai senjata seperti melawan penjajah dahulu. Hari ini perjuangan itu bisa dilakukan lewat aksi massa, konsolidasi organisasi, tekanan publik, dan gerakan politik rakyat yang terorganisir,” ujarnya.

Secara khusus, Muhamad Fadli juga menyerukan kepada seluruh buruh yang ada di Provinsi Gorontalo agar menjadikan momentum May Day sebagai titik awal membangun gerakan buruh yang terstruktur, sistematis, dan terkonsolidasi secara kuat. Menurutnya, selama ini gerakan buruh di daerah masih berjalan sporadis dan belum menjadi kekuatan kolektif yang solid.


“Momentum 1 Mei harus menjadi titik konsolidasi bersama. Buruh di Gorontalo tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Harus ada gerakan yang terstruktur, sistematis, dan terkonsolidasi agar suara buruh benar-benar menjadi kekuatan politik rakyat yang diperhitungkan,” tegasnya lagi.

Ia menambahkan bahwa konsolidasi tersebut penting agar buruh mampu memperjuangkan hak-haknya secara lebih efektif, mulai dari persoalan upah layak, jaminan kerja, perlindungan keselamatan kerja, hingga kepastian masa depan pekerja di daerah. Tanpa persatuan gerakan, menurutnya, buruh akan terus berada dalam posisi lemah di hadapan kekuatan modal dan kebijakan yang tidak berpihak.


Lebih lanjut, Fadli juga mengingatkan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar tidak memandang May Day hanya sebagai agenda rutin tahunan. Ia menegaskan bahwa May Day adalah alarm keras bagi negara untuk segera memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan yang masih merugikan buruh.


“Kalau negara terus lamban merespons persoalan buruh, maka 1 Mei harus menjadi momentum kebangkitan gerakan buruh secara nasional. Ketika buruh bersatu dan bergerak serentak, tidak ada kekuatan yang mampu mengabaikan suara mereka. Saatnya buruh bangkit dan melawan ketidakadilan,” tutup Fadli dengan tegas.

Reporter: Jhul-Ohi

« PREV
NEXT »