Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, tampil langsung sebagai pemimpin upacara. Hadir mendampingi Wakil Bupati Iwan S. Adam, Ketua DPRD Pohuwato Beni Nento, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Iskandar Datau, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala bagian, pejabat fungsional, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemda Pohuwato.
Dalam upacara tersebut, Bupati Saipul membacakan sambutan Menteri Dalam Negeri RI, Muhammad Tito Karnavian. Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Otda bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk mempertegas komitmen pemerintah dalam menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Otonomi daerah merupakan instrumen strategis dalam mempercepat pemerataan pembangunan, memperkuat pelayanan publik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh tanah air," ungkapnya.
Tahun ini, peringatan Hari Otda mengusung tema "Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita". Bupati Saipul menjelaskan bahwa tema tersebut sarat makna tentang kemandirian dan tanggung jawab daerah dalam mengoptimalkan potensi lokal, sekaligus mencerminkan harapan besar bangsa yang hanya bisa diraih melalui sinergi kokoh antara pemerintah pusat dan daerah.
"Tanpa koordinasi yang baik, tujuan besar tersebut tidak akan tercapai secara optimal. Oleh karena itu, sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam keberhasilan pembangunan nasional," jelasnya.
Sinkronisasi itu, lanjut Bupati, dapat diwujudkan melalui sejumlah langkah strategis, antara lain integrasi perencanaan dan penganggaran nasional dengan daerah, reformasi birokrasi berbasis outcome yang diperkuat digitalisasi terintegrasi dan inovasi daerah, penguatan kemandirian fiskal, kolaborasi antar daerah, fokus pada layanan dasar dan pengentasan ketimpangan, serta penguatan stabilitas dan ketahanan daerah.
Soal kemandirian fiskal, Bupati Saipul menyoroti tantangan nyata yang masih dihadapi banyak daerah, yakni tingginya ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat yang berdampak pada sempitnya ruang gerak fiskal daerah.
"Kondisi ini membuat ruang fiskal daerah menjadi terbatas dan kurang fleksibel dalam merespons kebutuhan serta prioritas pembangunan yang bersifat lokal," ujarnya.
Di sisi lain, otonomi daerah juga membuka lebar peluang untuk terus berinovasi dan menggali potensi lokal. Namun demikian, Bupati mengingatkan bahwa setiap langkah tersebut harus tetap berpijak dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Oleh karena itu, keseimbangan antara kemandirian daerah dan kepentingan nasional harus senantiasa dijaga," tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati Saipul mengajak seluruh elemen untuk menjadikan 30 tahun capaian otonomi daerah sebagai fondasi kokoh dalam terus meningkatkan kualitas pemerintahan dan pelayanan publik.
"Saya mengucapkan selamat memperingati Hari Otonomi Daerah ke-XXX Tahun 2026. Semoga semangat otonomi daerah terus menjadi pendorong bagi kita semua untuk mewujudkan Asta Cita dan kemajuan bangsa Indonesia. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai kita semua," pungkasnya.
(Abd)

