TONDANO, SuaraIndonesia1.com – Saat Presiden Prabowo Subianto menginjakkan kaki di Gorontalo, HMI BADKO Sulutgo turun ke jalan menyampaikan aspirasi rakyat. Namun yang terjadi bukan dialog melainkan kekerasan. Kader HMI dan mahasiswa menghadapi intimidasi, tindakan represif, dan arogansi aparat yang seharusnya hadir untuk melindungi, bukan untuk menekan. HMI Cabang Tondano menyaksikan semua itu dengan kemarahan yang tidak bisa dibungkam.
Yang terjadi di Gorontalo bukan sekadar pengamanan berlebihan. Itu adalah kesewenang-wenangan aparat yang merasa dirinya lebih tinggi dari hukum dan lebih berkuasa dari konstitusi. Mahasiswa datang membawa suara rakyat, aparat menjawabnya dengan kekerasan dan tindakan arogan seolah mahasiswa adalah ancaman negara. Sungguh ironis: mereka yang memperjuangkan kepentingan rakyat diperlakukan seperti kriminal, sementara para perampok uang rakyat justru sering berjalan nyaman di hadapan publik tanpa terusik.
HMI Cabang Tondano mempertanyakan secara terbuka: untuk siapa sesungguhnya aparat bekerja? Untuk menjaga rakyat, atau untuk menjaga citra kekuasaan? Jika setiap kritik dibalas dengan represi, maka jangan bicara tentang demokrasi. Jangan bicara tentang kebebasan. Sebab yang sedang dipertontonkan hari ini adalah watak kekuasaan yang pengecut terhadap suara mahasiswa.
Tindakan aparat pada 9 Mei di Gorontalo telah mencoreng institusi keamanan itu sendiri. Kepercayaan rakyat tidak runtuh karena kritik mahasiswa — ia runtuh karena brutalitas aparat yang mempertontonkan arogansi kekuasaan di depan publik, bahkan di hadapan kepala negara. Atas dasar itu, HMI Cabang Tondano mengecam keras segala bentuk tindakan represif dan intimidatif terhadap mahasiswa; mendesak evaluasi menyeluruh terhadap personel yang terlibat; menuntut negara menjamin kebebasan menyampaikan pendapat sebagaimana diamanatkan Pasal 28E ayat (3) UUD NRI 1945; serta meminta pertanggungjawaban institusi kepolisian atas tindakan yang terjadi.
"Seragam tidak memberi hak untuk brutal. Pangkat tidak memberi izin untuk sewenang-wenang. Ketika aparat memukul mahasiswa yang bersuara, mereka tidak sedang mengamankan presiden — mereka sedang mempermalukan republik ini di hadapan rakyatnya sendiri. HMI Cabang Tondano mengecam keras, tanpa syarat, tanpa kompromi," tegas Wikra Wardana, Ketua Umum HMI Cabang Tondano.
Represi hari ini bukan akhir dari perjuangan. Kekuasaan tidak akan pernah mampu menghapus sejarah bahwa mahasiswa selalu berdiri di garis depan melawan ketidakadilan — dan kami akan terus berdiri di sana.
Reporter: Jhul-Ohi


