BOALEMO, SuaraIndonesia1.com – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di kawasan Hutan Sava, Kabupaten Boalemo, hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Justru sebaliknya, aktivitas ini terus berlangsung secara terang-terangan, seolah tanpa hambatan dari aparat penegak hukum.
Sebanyak empat alat berat terparkir nyaman di Desa Saritani. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa alat-alat tersebut sebelumnya sempat keluar dari kawasan Hutan Sava menjelang Hari Raya Idul Adha, dan direncanakan akan kembali masuk untuk melanjutkan operasi pertambangan ilegal.
Kondisi ini memicu kemarahan masyarakat serta aktivis lingkungan. Mereka menilai aparat penegak hukum, khususnya pihak kepolisian, telah gagal menjalankan tugasnya. Koordinator Gerakan Peduli Lingkungan, Rivandi Abdullah, secara tegas menyatakan bahwa Kapolres Boalemo layak dilabeli sebagai simbol kegagalan.
“Ini bukan sekadar isu atau cerita liar. Alat beratnya nyata ada di depan mata. Jika tidak ada penertiban, maka patut diduga ada pembiaran, bahkan keterlibatan,” tegas Rivandi.
Ia juga mempertanyakan keberanian aparat. “Apakah Kapolres takut bertindak atau memang ada pembiaran yang disengaja? Jangan sampai muncul anggapan ada permainan di baliknya,” lanjutnya.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, alat berat tersebut diduga milik salah satu pelaku PETI yang dikenal dengan sebutan Haji Riz. “Kalau Kapolres benar-benar berani, silakan tertibkan dan panggil Haji Riz,” tambah Rivandi.Sebagai bentuk protes, Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan Boalemo berencana menggelar aksi demonstrasi dengan membawa penghargaan simbolis untuk Kapolres Boalemo sebagai sindiran atas kinerja yang dinilai gagal memberantas pertambangan ilegal. (JO)


