BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

RAMZA dan Petani Se-Bulango Selatan Nobar "Pesta Babi": Suara Perlawanan terhadap Ketimpangan


BONE BOLANGO, SuaraIndonesia1.com – Di tengah kondisi masyarakat yang semakin sulit hari ini, Organisasi RAMZA (Remaja Masjid Az'zahidin) menggelar kegiatan nonton bareng film Pesta Babi sebagai ruang diskusi rakyat bersama masyarakat, petani, mahasiswa, dan pemuda. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kepedulian sosial untuk membuka kesadaran bersama terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi rakyat kecil, khususnya terkait perampasan ruang hidup, hilangnya tanah pertanian, dan ketidakadilan pembangunan yang semakin nyata dirasakan masyarakat bawah.


Film Pesta Babi menggambarkan realitas pahit tentang bagaimana rakyat kecil sering kali menjadi korban ketika kekayaan alam dan tanah dikuasai oleh perusahaan besar yang didukung kekuatan modal dan kekuasaan. Tanah yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat perlahan berubah menjadi wilayah eksploitasi. Hutan dibuka, lahan rakyat diambil, akses pertanian dibatasi, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.


Ironisnya, atas nama investasi dan pembangunan, rakyat justru dipaksa menerima kenyataan pahit berupa hilangnya mata pencaharian, rusaknya lingkungan, dan melemahnya kehidupan sosial masyarakat desa. Petani yang selama ini menjaga tanah dan menyediakan pangan bagi masyarakat sering kali tidak mendapat perlindungan yang layak. Ketika perusahaan masuk dengan alat berat dan kekuatan modal, suara rakyat kecil kerap dianggap tidak penting dan mudah dikalahkan.


Melalui forum nobar dan mimbar bebas ini, banyak masyarakat menyampaikan keresahan yang selama ini mereka pendam. Ada petani yang mengeluhkan sempitnya lahan garapan, sulitnya akses ekonomi, hingga kekhawatiran bahwa suatu hari masyarakat lokal tidak lagi memiliki tanah untuk diwariskan kepada anak cucunya. Mahasiswa dan pemuda juga menyoroti bagaimana ketimpangan sosial semakin terlihat jelas: kekayaan alam melimpah, tetapi kesejahteraan rakyat justru tertinggal.


Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persoalan agraria, ketidakadilan ekonomi, dan penguasaan sumber daya alam bukan sekadar cerita dalam film, tetapi kenyataan yang perlahan terjadi di banyak daerah. Ketika rakyat kehilangan tanahnya, maka yang hilang bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga identitas, budaya, dan masa depan kehidupan masyarakat itu sendiri.


RAMZA menilai bahwa masyarakat tidak boleh terus dibungkam oleh ketakutan dan janji-janji pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Rakyat harus mulai sadar bahwa tanah, alam, dan ruang hidup bukan semata-mata objek bisnis yang dapat diperjualbelikan demi kepentingan segelintir pihak. Negara dan seluruh pemangku kepentingan seharusnya hadir melindungi masyarakat, bukan justru memberi ruang sebesar-besarnya kepada kekuatan modal yang mengorbankan rakyat kecil.


Nonton bareng film Pesta Babi ini menjadi simbol bahwa suara rakyat masih ada dan tidak boleh dipadamkan. Diskusi yang lahir dari kegiatan ini diharapkan mampu membangun solidaritas masyarakat, memperkuat keberanian pemuda dan mahasiswa untuk bersikap kritis, serta menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga tanah dan ruang hidup adalah bagian dari menjaga masa depan bersama.


Hormat dan solidaritas setinggi-tingginya untuk para petani lokal, masyarakat kecil, dan seluruh rakyat yang sampai hari ini tetap bertahan menjaga tanah, alam, dan kehidupan di tengah tekanan kekuasaan dan kepentingan modal yang terus membesar. (JO)
« PREV
NEXT »