BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

KIP Bukan Simbol Kemiskinan: Mahasiswa Kritik Arogansi dan Stigma terhadap Penerima Beasiswa


GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Polemik pernyataan viral yang dinilai merendahkan mahasiswa penerima KIP terus menuai kecaman. Mahasiswa penerima KIP, Radit S. Katili, menilai persoalan ini bukan lagi sekadar salah ucap, melainkan telah menunjukkan cara pandang yang memandang rendah mahasiswa berdasarkan kondisi ekonomi mereka.


Menurut Radit, pernyataan yang menyebut mahasiswa penerima KIP sebagai simbol kemiskinan dan membandingkannya dengan mahasiswa yang membiayai kuliah secara mandiri merupakan bentuk stigma yang tidak pantas lahir dari lingkungan pendidikan.


"Yang membuat kami kecewa bukan hanya ucapannya, tetapi cara berpikir di balik ucapan tersebut. Seolah-olah seseorang memiliki nilai yang lebih tinggi hanya karena berasal dari keluarga yang lebih mampu secara ekonomi. Cara pandang seperti itu sangat bertentangan dengan nilai pendidikan," tegas Radit.

Ia menilai bahwa ribuan mahasiswa penerima KIP selama ini berjuang keras untuk memperoleh pendidikan dan membuktikan kemampuan mereka di bangku kuliah. Karena itu, narasi yang merendahkan penerima bantuan pendidikan dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap perjuangan banyak mahasiswa.


Polemik semakin menjadi sorotan setelah beredar percakapan yang memperlihatkan adanya penyebutan jabatan orang tua berpangkat bintang tiga serta ancaman pelaporan terhadap pihak yang mempertanyakan pernyataan viral tersebut.


"Bagi saya, jabatan orang tua bukan jawaban atas kritik publik. Yang dipersoalkan masyarakat adalah ucapan yang telah menimbulkan keresahan. Membawa-bawa kekuasaan atau kedudukan keluarga tidak akan menghapus dampak dari pernyataan yang sudah terlanjur menyakiti banyak mahasiswa," ujarnya.

Radit menegaskan bahwa mahasiswa tidak membutuhkan ancaman ataupun pamer jabatan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan menghormati mereka yang merasa dirugikan.


"Mahasiswa penerima KIP tidak meminta dikasihani. Kami tidak meminta dipuja. Kami hanya menolak direndahkan. Tidak ada satu pun manusia yang berhak merasa lebih tinggi hanya karena kondisi ekonominya lebih baik dari orang lain."

Ia juga menyoroti bahwa bantuan pendidikan dari negara bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, bantuan tersebut merupakan bukti bahwa negara hadir untuk memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan.


"Yang memalukan bukan menerima KIP. Yang memalukan adalah ketika seseorang merasa bangga merendahkan perjuangan orang lain. Pendidikan seharusnya melahirkan empati dan karakter, bukan kesombongan."

Sebagai mahasiswa dan penerima KIP, Radit mendesak adanya permintaan maaf terbuka kepada seluruh mahasiswa yang merasa dirugikan serta mengajak masyarakat untuk menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan latar belakang ekonomi.


"Kami akan terus bersuara ketika martabat mahasiswa direndahkan. Karena pendidikan adalah hak, bukan privilese yang memberi seseorang hak untuk memandang rendah orang lain," tutupnya.

(JO)

« PREV
NEXT »