Kepulauan Yapen-Suaraindonesia1.com. Tidak semua perjalanan berakhir dengan kenangan yang mudah dilupakan. Ada perjalanan yang meninggalkan jejak di hati, menghadirkan rasa haru, bahkan membuat air mata jatuh tanpa mampu dibendung. Begitulah kisah 21 mahasiswa KKN Kelompok 20 Universitas Cenderawasih Jayapura selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Ketuapi, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen.
Selama satu bulan sepuluh hari, para mahasiswa tidak hanya datang membawa program kerja. Mereka datang membawa semangat untuk belajar, mengabdi, berkarya, dan hidup bersama masyarakat. Namun tanpa mereka sadari, Kampung Ketuapi justru memberikan sesuatu yang jauh lebih besar: keluarga dan kenangan yang akan mereka bawa sepanjang perjalanan hidup.
Senin,24 Agustus 2026, menjadi salah satu momentum yang penuh haru bagi mahasiswa KKN Kelompok 20. Setelah melewati hari-hari bersama masyarakat, cerita tentang Ketuapi tidak lagi sekadar cerita tentang sebuah tempat pengabdian, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Sinta A. Purba, mahasiswa Fakultas Hukum yang mewakili KKN Kelompok 20, mengenang hari pertama mereka tiba di Kampung Ketuapi.
“Awalnya kami tiba di Kampung Ketuapi, kami sangat senang sekali. Dari awal kami datang, kami disambut dengan tari-tarian. Sambutan itu membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat Ketuapi,” tuturnya.
Namun ketika menceritakan pengalaman selama berada di Ketuapi, suara Sinta mulai bergetar. Air mata perlahan membasahi wajahnya.
Ia mengaku, selama satu bulan sepuluh hari berada di tengah masyarakat, ada satu hal yang paling membekas dalam hati mereka: kebaikan masyarakat Kampung Ketuapi.
“Selama kami berada satu bulan sepuluh hari di sini, yang kami rasakan adalah masyarakat Kampung Ketuapi sangat baik sekali,**” ucap Sinta dengan mata berkaca-kaca.
Menurutnya, masyarakat Ketuapi sangat terbuka dan menerima kehadiran mahasiswa. Mereka tidak pernah merasa menjadi orang asing. Sebaliknya, masyarakat justru hadir dan berjalan bersama mahasiswa dalam setiap kegiatan.
“Masyarakat sangat welcome dengan kehadiran kami mahasiswa KKN Kelompok 20 di Kampung Ketuapi. Pada saat kami bekerja, kami tidak pernah merasa bekerja sendiri. Masyarakat selalu membantu kami dalam setiap pekerjaan,” katanya.
Kebaikan itu bahkan hadir dalam bentuk-bentuk sederhana yang justru menjadi kenangan paling berharga. Ada masyarakat yang mengantarkan makanan, menyediakan minuman, menemani mahasiswa bekerja, hingga ikut turun langsung membantu menyelesaikan berbagai kegiatan.
Bagi mahasiswa, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka yang sedang jauh dari keluarga dan menjalani pengabdian di sebuah kampung, perhatian kecil itu terasa begitu besar.
Sepiring makanan menjadi tanda kasih. Segelas minuman menjadi bentuk kepedulian. Kehadiran masyarakat menjadi kekuatan ketika lelah mulai datang.
Karena itu, ketika waktu pengabdian hampir berakhir, yang terasa bukan hanya kebahagiaan karena program kerja telah diselesaikan, tetapi juga kesedihan karena harus meninggalkan orang-orang yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dengan suara terbata-bata, Sinta menyampaikan pesan khusus kepada seluruh masyarakat Kampung Ketuapi.
“Buat semua masyarakat Kampung Ketuapi, terima kasih sudah banyak membantu kami selama berada di Kampung Ketuapi. Biarlah Tuhan yang mempunyai hidup ini dapat memberkati Bapak dan Ibu yang telah membantu kami. Bantuan Bapak dan Ibu tidak akan kami lupakan selama perjalanan hidup kami.”
Kalimat itu menjadi gambaran betapa dalamnya hubungan yang terbangun selama KKN.
KKN bagi mahasiswa Kelompok 20 akhirnya bukan lagi sekadar kewajiban akademik. KKN berubah menjadi perjalanan hati.
Mereka datang sebagai mahasiswa.
Mereka pulang membawa cerita.
Mereka datang sebagai orang asing.
Mereka pulang dengan membawa nama-nama masyarakat Ketuapi dalam ingatan.
Mereka datang untuk mengabdi.
Namun justru masyarakat Ketuapi yang mengajarkan mereka tentang arti ketulusan, kebersamaan, gotong royong, dan kasih tanpa pamrih.
Selama berada di Ketuapi, KKN Kelompok 20 juga mengembangkan program kerja dari delapan program awal menjadi 15 program kerja yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan aspirasi masyarakat. Keberhasilan menyelesaikan program bukan hanya karena kerja keras mahasiswa, tetapi juga karena dukungan masyarakat Kampung Ketuapi yang selalu hadir di setiap langkah.
Kini, ketika langkah mahasiswa KKN Kelompok 20 mulai meninggalkan Kampung Ketuapi, mungkin yang tersisa hanyalah rumah-rumah, jalan kampung, suara masyarakat, dan tempat-tempat yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka.
Tetapi bagi 21 mahasiswa itu, Ketuapi tidak akan pernah benar-benar mereka tinggalkan. Sebab ada kenangan yang akan selalu pulang bersama mereka. Ada wajah-wajah masyarakat yang akan selalu mereka ingat. Ada kebaikan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Dan ada air mata yang menjadi bukti bahwa selama satu bulan sepuluh hari, mereka bukan hanya menjalankan KKN—mereka telah menemukan sebuah keluarga baru di Kampung Ketuapi.
Dari Ketuapi, untuk Ketuapi, untuk Papua.
Terima kasih Kampung Ketuapi.
Sampai kapan pun, kebaikanmu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.
(Redaksi Suaraindonesia1.com)


