BOALEMO — Suaraindonesia1, Memperingati Hari Tani Nasional, 24 September 2026. Sekretaris DPC GMNI Boalemo, Julkifli Antu, menyoroti kondisi sektor pertanian di tengah kemarau berkepanjangan yang berpotensi memengaruhi produktivitas lahan dan pendapatan petani.
Menurut Julkifli, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab, ketika sektor pertanian mengalami penurunan produksi, dampaknya tidak hanya dirasakan pada hasil panen, tetapi juga langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat petani.
“Kalau hasil pertanian kerdil, petani mau apa? Ketika tanaman tidak tumbuh maksimal, hasil panen menurun, sementara kebutuhan hidup dan biaya produksi terus berjalan. Pemerintah tidak boleh hanya melihat persoalan pertanian dari sisi program, tetapi harus melihat kondisi nyata yang sedang dihadapi petani,” ujar Julkifli Antu.
Ia menilai pemerintah daerah perlu memastikan program pertanian memiliki respons terhadap perubahan kondisi iklim, terutama berkaitan dengan ketersediaan air, irigasi, sarana produksi, perlindungan petani, serta pendampingan ketika terjadi penurunan hasil panen.
“Hari Tani Nasional jangan hanya menjadi momentum seremonial. Ini harus menjadi ruang evaluasi terhadap program pertanian daerah. Kita harus bertanya, seberapa siap pemerintah melindungi petani ketika kemarau berkepanjangan terjadi?” tegasnya.
Julkifli juga mendorong agar program pertanian tidak berhenti pada bantuan produksi. Menurutnya, ketahanan air, infrastruktur pertanian, akses terhadap pupuk dan benih, harga hasil panen, hingga perlindungan terhadap risiko gagal panen perlu menjadi perhatian pemerintah.
“Petani adalah bagian penting dari kehidupan ekonomi Boalemo. Kalau pertanian terganggu, ekonomi masyarakat juga ikut terganggu. Pemerintah harus hadir sebelum petani benar-benar kehilangan daya untuk bertahan,” tutup Sekretaris DPC GMNI Boalemo.


