Manokwari, suaraindonesia1.com, Sabtu (10-10-2026),- Penundaan pelaksanaan pawai budaya dalam rangka HUT Provinsi Papua Barat pada Kamis,08-10-2026, sebagai dampak bencana asap yang melanda Manokwari, mengakibatkan pengurus Ikatan Keluarga Besar Yogyakarta (IKBY) Manokwari mengalihkan peserta kegiatan yang berasal dari IKBY Manokwari untuk menyaksikan langsung ujicoba prototipe SAKTI-1 di Reremi, Kamis (08-10-2026).
"Sebagaimana diketahui bahwa massa jenis solar lebih tinggi daripada massa jenis bensin. Adapun untuk massa jenis rendemennya solar lebih tinggi daripada massa jenis bensin. Jadi pada saat ujicoba ke-2 dari prototipe SAKTI -1 besutan IKBY Manokwari memang telah dihasilkan minyak pirolisis setara solar setelah mendapat treatment lanjutan dan gas. Mengacu pada referensi yang pernah dipelajari,
disebutkan bahwa idealnya plastik memang dicacah agar mempercepat proses pengolahan sampah plastik dengan teknologi pirolisis," ujar Muhammad Subagyo Sugiarto, Ketua IKBY Manokwari, Kamis, 08-10-2026
"Dari pengalaman IKBY Manokwari pada ujicoba 1 bulan Agustus lalu dengan prototipe yang lebih sederhana, dan dengan memadukan artikel-artikel terkait sebagai referensi yang pernah dibaca serta diskusi yang telah dilakukan secara daring dengan Prof. Dr. Mulya Gusman dari Universitas Negeri Padang selaku akademisi lingkungan hidup dan Denny Camber dari Reynol Energy maupun Budi Trisno Aji dari Bank Sampah Banjarnegara selaku praktisi yang produk hasil pengolahan sampah plastik dengan teknologi pirolisisnya sudah beredar dan dimanfaatkan di masyarakat, makin dipahami bahwa tujuan akhir kegiatan ini adalah mengurangi jumlah sampah plastik yang beredar di masyarakat sehingga makin banyak peralatan ini dibuat dan makin banyak yang memanfaatkan maka makin cepat sampah plastik berkurang secara drastis dengan polusi asap yang makin sedikit," sambungnya.
"IKBY Manokwari mengapresiasi jika langkah ini juga akan diikuti oleh paguyuban lain di Manokwari. Karena saat ini, IKBY Manokwari adalah paguyuban pertama yang merealisasikan pengolahan sampah plastik dengan peralatan teknologi pirolisis. Oleh karena itu makin banyak aktivitis yang melakukan modifikasi pengembangan inovasi terhadap alat sehingga semakin efektif dan makin ekonomis harga alat akibat makin ditekannya biaya pembuatan alat adalah lebih baik untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat," ucap Cito Waluyo,Plt. Sekretaris IKBY Manokwari.
Terpantau mobil IKBY Manokwari di perempatan Haji Bauw pada Sabtu, 10-10-2026, mengangkut sampah plastik yang hendak diolah baik menggunakan peralatan teknologi pirolisis maupun untuk kepentingan pembuatan kerajinan.
"Sampah plastik ini dikumpulkan dari pinggir laut dan jalan menuju pantai marampa oleh beberapa rekan untuk kemudian dijual ke Kami untuk selanjutnya kami olah. Memang saat ini peralatan kami masih dalam tahap pengembangan karena swadana dan belum bisa mencapai target yang diharapkan karena pengembangan ini secara otodidak. Tetapi paling tidak, secara Paguyuban, kami berani memulai dengan tujuan mengurangi sampah plastik liar yang beredar di masyarakat dengan meminimalkan pengolahan sampah plastik lewat pembakaran langsung. Peralatan yang kami gunakan sudah sangat minim menghasilkan asap," ucap Subagyo.
"Ini rangkaian dari gerakan di bidang lingkungan hidup yang di Manokwari dimotori oleh IKBY Manokwari.
Seperti yang sudah diketahui oleh sebagian masyarakat bahwa terkait dengan lingkungan hidup maka IKBY Manokwari menggalakkan
Wayang yang merupakan singkatan dari Warga Sayang Lingkungan, dimana gerakan ini berfokus mengolah sampah plastik _low value_ jadi minyak dan residu dengan peralatan pirolisis. Selain itu, ada juga CANDI, yang merupakan singkatan dari Creative and Design Industries, dimana gerakan ini berfokus mengolah sampah plastik menjadi kerajinan/benda Seni. Bahkan residu hasil pengolahan dengan pirolisis tadi yang apabila kemudian mendapatkan perlakuan tambahan tertentu maka dapat dibuat menjadi kerajinan misalnya asbak maupun benda seni misalnya patung," sambung Cito.
"Adapun harapannya ini bisa menggerakkan Pemerintah untuk membantu pengadaan mesin dengan kapasitas yang lebih besar sehingga kemampuan kami menerima sampah dan mengolah sampah bisa lebih besar. Selain itu, dukungan operasional untuk organisasi-organisasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan sehingga bisa membeli sampah plastik dari masyarakat, membuka lapangan kerja untuk petugas pemilah dan pengolah sampah plastik. Tentunya ini membantu pemerintah mewujudkan terciptanya lapangan kerja. Kami berharap adanya pengadaan untuk peralatan sederhana seperti yang kami miliki yang disebar ke semua wilayah padat penduduk untuk mengurangi sampah plastik liar yang bermuara di TPA Arfai, parit, sungai, dan laut di ManSubagy," pungkas Subagyo. (release/cr)




