Oleh: Coach Andre Hariyanto, Master Trainer AR Learning Center dan Penulis Buku Mutiara Hikmah
MALANG, SuaraIndonesia1.com — Menjadi penulis, jurnalis, dan wartawan yang kompeten tidak cukup hanya dengan menghasilkan tulisan yang menarik dan enak dibaca. Kompetensi sejati harus dibangun melalui kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, serta integritas dalam setiap proses berkarya.
Menurut saya, karya terbaik adalah karya yang lahir dari kemampuan, pemahaman, pengalaman, dan pemikiran sendiri. Setiap penulis harus berani menunjukkan kualitas dirinya melalui tulisan yang orisinal, autentik, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kompetensi Tidak Dibangun dari Kebiasaan Menyalin
Kebiasaan melakukan copy paste tanpa mencantumkan sumber atau mengakui karya orang lain sebagai hasil karya sendiri merupakan tindakan yang bertentangan dengan integritas dan etika penulisan. Seorang penulis profesional seharusnya mampu mengolah informasi, memahami persoalan, melakukan verifikasi, serta menyampaikan gagasan dengan bahasanya sendiri.
Dalam dunia jurnalistik, kejujuran bukan sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab profesi. Wartawan dituntut untuk menghasilkan pemberitaan yang akurat, berimbang, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Karena itu, proses menghasilkan karya harus menjadi bagian dari pembelajaran. Jangan hanya mengejar hasil akhir, tetapi pahami pula bagaimana sebuah tulisan disusun, informasi diperoleh, fakta diperiksa, dan kesimpulan dirumuskan.
AI Boleh Menjadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Kemampuan
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memberikan kemudahan dalam berbagai bidang, termasuk penulisan. Namun, penggunaannya perlu disertai sikap kritis, kejujuran, dan tanggung jawab.
Menurut pandangan saya, penulis, jurnalis, dan wartawan perlu mengutamakan kemampuan berpikir serta keterampilan menulis secara mandiri. AI sebaiknya tidak dijadikan jalan pintas untuk menggantikan proses belajar, pemahaman materi, maupun kemampuan peserta dalam membuktikan kompetensinya.
Dalam pelatihan, pendidikan, dan ujian kompetensi, peserta harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan. Apabila tugas mensyaratkan karya mandiri tanpa bantuan AI atau pihak lain, ketentuan tersebut wajib dipatuhi. Tujuannya agar hasil penilaian benar-benar mencerminkan kemampuan peserta yang sesungguhnya.
Penggunaan teknologi tidak selalu salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang menggunakannya secara tidak jujur, melanggar ketentuan, atau mengakui hasil pekerjaan pihak lain sebagai kemampuan pribadi.
Integritas Adalah Bukti Kompetensi Sejati
Kompetensi tidak semata-mata dibuktikan melalui sertifikat, gelar, atau pengakuan. Kompetensi juga terlihat dari kemampuan seseorang menghasilkan karya berkualitas, memahami apa yang ditulis, menjelaskan proses pembuatannya, dan mempertanggungjawabkan isi karyanya.
Seorang penulis yang kompeten tidak takut menunjukkan hasil pemikirannya sendiri. Ia bersedia belajar dari kesalahan, menerima kritik, memperbaiki tulisan, dan terus meningkatkan keterampilannya.
Begitu pula seorang jurnalis dan wartawan. Kepercayaan publik tidak dibangun hanya melalui banyaknya berita yang diterbitkan, tetapi juga melalui akurasi informasi, independensi, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, serta keberanian menjaga kebenaran.
Oleh sebab itu, marilah membangun budaya berkarya yang jujur, mandiri, dan bertanggung jawab. Hargai karya orang lain, cantumkan sumber ketika menggunakan referensi, serta patuhi aturan dalam setiap proses pendidikan dan pelatihan.
Karya terbaik bukan sekadar tulisan yang terlihat sempurna, melainkan karya yang dihasilkan melalui proses yang jujur, pemikiran yang matang, dan kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan hanya ingin terlihat kompeten. Teruslah belajar, berlatih, dan buktikan kompetensi melalui karya nyata.
Rep: JO


