Penulis: Rian Maulana (Badan Koordinasi Nasional) PERMIKOMNAS RI
JAKARTA, SuaraIndonesia1.com – Rocky Gerung selama bertahun-tahun dikenal publik sebagai salah satu pengkritik pemerintah yang menggunakan istilah “akal sehat” sebagai bagian dari gaya argumentasinya. Bahkan, julukan “Presiden Akal Sehat” pernah begitu melekat pada dirinya di ruang publik. Namun, memasuki era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, muncul pertanyaan baru: apakah ketajaman kritik Rocky Gerung terhadap kekuasaan masih berada pada level yang sama seperti sebelumnya?
Pertanyaan tersebut bukan muncul tanpa alasan. Sejumlah pemberitaan dan pengamatan publik dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan adanya perubahan dalam hubungan Rocky dengan lingkungan politik Prabowo. Pada April 2026, Rocky terlihat hadir di Istana dan bersalaman dengan Presiden Prabowo serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Pertemuan atau interaksi dengan penguasa tentu bukan persoalan dalam demokrasi. Seorang intelektual maupun pengkritik pemerintah tetap memiliki hak untuk berdialog dengan siapa pun. Namun, kedekatan tersebut secara alamiah dapat menimbulkan pertanyaan publik mengenai posisi dan independensinya.
Dari Pengkritik Kekuasaan Menjadi Mitra Dialog?
Pada era pemerintahan sebelumnya, Rocky Gerung dikenal sangat aktif mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Karena itu, sebagian publik kemudian membandingkan gaya kritik tersebut dengan sikapnya terhadap pemerintahan Prabowo.
Namun, menyebut Rocky telah “diam” juga tidak sepenuhnya tepat. Pada Januari 2026, misalnya, Rocky masih mempertanyakan konsep Prabowonomics dan menekankan bahwa kebijakan ekonomi seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga aspek moral dan keadilan sosial.
Bahkan pada September 2026, Rocky kembali mendorong Presiden Prabowo melakukan perubahan besar dalam pemerintahan dan mengkritisi cara pemerintah menerjemahkan konstitusi ke dalam kebijakan, termasuk program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Artinya, persoalannya bukan apakah Rocky masih mengkritik pemerintah atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah seberapa konsisten standar kritik tersebut diterapkan kepada setiap pemerintahan?
Apakah “Akal Sehat” Memiliki Standar yang Sama?
Inilah bagian yang layak diperdebatkan.
Jika “akal sehat” digunakan sebagai prinsip untuk menguji kekuasaan, maka prinsip tersebut semestinya tidak bergantung pada siapa yang sedang menjadi presiden. Pemerintahan yang berbeda tetap harus mendapatkan ukuran kritik yang sama: bagaimana kebijakannya dibuat, bagaimana anggarannya digunakan, bagaimana konstitusi diterapkan, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat.
Apakah Kritikan Itu Bertuan?
Rocky sendiri pada 22 September 2026 menegaskan bahwa dirinya tidak sedang membela Prabowo. Ia mengatakan bahwa yang dibelanya adalah pemahaman terhadap konstitusi, sekaligus mengakui bahwa Presiden maupun kabinet juga belum tentu sempurna dalam memahaminya.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bahwa Rocky tidak secara terbuka menempatkan dirinya sebagai pembela pemerintah. Akan tetapi, publik tetap berhak menguji konsistensi antara pernyataan tersebut dengan kritik-kritik yang disampaikannya dari waktu ke waktu.
Dengan kata lain, kritik terhadap Rocky bukan harus berupa tuduhan bahwa ia telah berubah menjadi pendukung Prabowo, melainkan pertanyaan mengenai konsistensi standar berpikirnya.
Apakah Rocky Gerung Juru Bicara Presiden Secara Tersirat?
Pertanyaan ini menarik, tetapi perlu dibedakan antara peran formal dan peran informal.
Secara formal, tidak terdapat bukti bahwa Rocky Gerung merupakan juru bicara Presiden Prabowo. ANTARA pada September 2025 bahkan telah memeriksa klaim bahwa Rocky ditunjuk menjadi juru bicara Presiden dan menyatakan klaim tersebut tidak benar karena tidak ada informasi resmi mengenai pengangkatan Rocky sebagai jubir.
Jadi, menyebut Rocky sebagai “Juru Bicara Presiden” secara faktual tidak tepat.
Namun, istilah “juru bicara secara tersirat” dapat digunakan sebagai pertanyaan atau metafora politik, bukan sebagai fakta. Misalnya, publik dapat mempertanyakan apakah argumentasi Rocky pada isu tertentu secara tidak langsung membantu menjelaskan atau membela kebijakan pemerintah.
Tetapi kesimpulan semacam itu harus didasarkan pada contoh konkret, bukan hanya pada pertemuan Rocky dengan Prabowo atau perubahan gaya komunikasinya.
Kritik Tidak Harus Berarti Permusuhan
Demokrasi sebenarnya tidak mensyaratkan seorang intelektual harus selalu bermusuhan dengan pemerintah agar dianggap kritis.
Seorang kritikus dapat berdialog dengan presiden, bertemu pejabat, bahkan memberikan masukan kepada pemerintah tanpa otomatis kehilangan independensinya. Sebaliknya, kedekatan dengan kekuasaan juga tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang telah menjadi bagian dari kekuasaan.
Karena itu, ukuran yang lebih penting bukanlah “Rocky bertemu Prabowo atau tidak?”, melainkan:
Apakah ia tetap menggunakan standar kritik yang sama ketika kebijakan yang dipersoalkan berasal dari pemerintahan yang sekarang?
Pertanyaan tersebut jauh lebih substantif dibanding sekadar memperdebatkan siapa yang duduk satu meja dengan siapa.
“Presiden Akal Sehat” Juga Perlu Dikritik
Pada akhirnya, julukan “Presiden Akal Sehat” seharusnya tidak membuat Rocky Gerung kebal dari kritik.
Jika seseorang menggunakan “akal sehat” sebagai dasar untuk menguji kekuasaan, maka publik juga memiliki hak menggunakan prinsip yang sama untuk menguji orang tersebut.
Tidak ada figur yang seharusnya menjadi pemilik tunggal “akal sehat”. Demokrasi justru membutuhkan masyarakat yang mampu mempertanyakan pemerintah sekaligus mempertanyakan para pengkritik pemerintah.
Rocky boleh tetap mengkritik Prabowo. Rocky juga boleh memberikan apresiasi terhadap kebijakan tertentu. Yang perlu dijaga adalah transparansi argumentasinya: ketika ia mendukung suatu kebijakan, apa alasannya; ketika ia mengkritik, apa ukurannya; dan apakah ukuran tersebut konsisten terhadap semua kekuasaan?
Dengan demikian, pertanyaan tentang Rocky Gerung di era Prabowo bukan semata-mata “Apakah dia sudah menjadi juru bicara Presiden?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah “akal sehat” masih menjadi prinsip yang independen, atau perlahan berubah menjadi sekadar posisi politik yang mengikuti siapa yang sedang berkuasa?
Jawaban atas pertanyaan tersebut pada akhirnya bukan milik Rocky seorang. Publiklah yang dapat menilainya melalui rekam jejak pernyataan, kritik, dan argumentasinya dari waktu ke waktu.
Rep: JO


