BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Korwil MBG Tegaskan Siswi SMA Urfas Muntah Bukan Akibat MBG


WAROPEN-Suaraindonesia1.com. Koordinator Wilayah (Korwil) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Waropen, Yance Rabrageri, bersama pengurus MBG Kabupaten Waropen memberikan klarifikasi terkait seorang siswi SMA Urfas yang sempat dilarikan ke Puskesmas Urfas setelah mengonsumsi makanan MBG, Rabu (30/9/2026).


Yance menegaskan, berdasarkan pemeriksaan medis di Puskesmas Urfas, siswi tersebut diketahui mengalami malaria mix. Menurut keterangan yang diterima pihak MBG dari dokter, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh makanan MBG.


Klarifikasi itu disampaikan Yance menyusul informasi yang beredar bahwa seorang siswi mengalami muntah hingga kejang-kejang setelah mengonsumsi makanan MBG.


“Setelah kami mendapat informasi, kami langsung turun ke Puskesmas Urfas. Setelah diperiksa dokter, korban diketahui mengalami malaria mix. Jadi, bukan karena makanan MBG,” jelas Yance.


Menurut Yance, pihaknya langsung mendatangi Puskesmas Urfas setelah menerima informasi mengenai kondisi siswi tersebut. Dari hasil pemeriksaan dokter, siswi tersebut disebut telah mengalami sakit sejak dari rumah sebelum berangkat ke sekolah.


Ia mengakui bahwa siswi tersebut memang sempat muntah dan mengalami kejang-kejang setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, berdasarkan keterangan medis yang diterima pihaknya, kondisi tersebut berkaitan dengan penyakit malaria yang dialami korban.


“Memang korban setelah makan MBG kemudian muntah dan mengalami kejang-kejang. Tetapi setelah diperiksa dokter, penyebabnya adalah malaria mix. Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan makanan MBG,” tegasnya.


Yance menambahkan, kondisi korban saat itu cukup berat karena mengalami malaria yang disebut cukup tinggi sehingga menyebabkan kejang-kejang.


Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan pemeriksaan yang menjadi dasar klarifikasi pihak MBG, makanan yang dikonsumsi siswi tersebut bukan merupakan pemicu kondisi medis yang dialaminya.


“Hasil pemeriksaan dokter Puskesmas sangat memuaskan kami. Korban memang sudah sakit malaria mix dari rumah. Saat mengonsumsi MBG, korban kemudian muntah dan mengalami kejang-kejang,” ujarnya.


Menyikapi informasi yang mengaitkan kejadian tersebut dengan dugaan keracunan makanan MBG, Yance meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum adanya hasil pemeriksaan medis.


Ia juga mengingatkan masyarakat agar informasi terkait dugaan keracunan MBG tidak langsung disebarluaskan melalui media sosial tanpa dasar pemeriksaan yang jelas.


“Jangan sembarangan menaikkan berita keracunan MBG kalau belum ada bukti atau hasil pemeriksaan dokter. Sebaiknya kita cek dulu kebenarannya, kemudian baru kita naikkan,” tegasnya.


Yance mengatakan pihak MBG terbuka terhadap kritik dan evaluasi dari masyarakat. Apabila dalam pelaksanaan program ditemukan kesalahan yang memang berasal dari pihak MBG, pihaknya menyatakan siap bertanggung jawab dan melakukan perbaikan.


“Kalau memang MBG ada kesalahan, kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Waropen. Dari setiap kesalahan dan kekurangan, kami akan lebih jeli lagi,” katanya.


Ia memastikan pengawasan terhadap proses penyediaan makanan MBG akan terus diperketat, mulai dari dapur, proses memasak, kebersihan hingga tahapan lainnya sesuai standar operasional prosedur (SOP).


“Intinya kami tidak ingin memberikan MBG yang membuat masyarakat sakit. Karena itu, mulai dari dapur, proses memasak, kebersihan dan semuanya akan kami perhatikan sesuai SOP,” ujarnya.


Yance juga menyebutkan bahwa orang tua siswi mengakui anaknya memang telah mengalami sakit sebelum berangkat dari rumah.


Meski demikian, sebagai Korwil MBG Kabupaten Waropen, Yance tetap menyampaikan permohonan maaf kepada siswi dan keluarganya atas kejadian tersebut.


“Kami tetap menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan orang tua. Yang terpenting kondisi korban segera mendapat penanganan dan bisa kembali sehat,” pungkasnya.

« PREV
NEXT »