Oleh: Verdiansyah
GORONTALO, suaraindonesia1.com, OPINI — Di tengah zaman modern yang semakin berkembang, relasi antara alam, Tuhan, dan manusia memang selalu dianggap sebagai wacana belaka. Alam dipahami hanya sebagai sumber daya, Tuhan disematkan dalam ritual formal, sementara manusia menempatkan dirinya sebagai pusat semesta. Pandangan ini sangat tidak sesuai atau keliru secara filosofis, dan sangat sensitif secara ekologis dan moral. Kerusakan lingkungan, serta dilema spiritual yang kita alami hari ini merupakan dampak langsung dari tercerabutnya kesadaran relasional antara ketiga entitas tersebut.
Hampir dari semua tradisi golongan agama dan filsafat klasik, alam sangat jarang diposisikan sebagai objek mati, atau bahkan tidak pernah sama sekali, alam adalah tanda (ayat), medium penyambung, sekaligus ruang pembelajaran bagi manusia untuk mengenali kebesaran Tuhan. Alam hadir sebagai algojo kehendak ilahi yang mengandung hukum keseimbangan. Ketika manusia merusak alam, pada sejatinya ia sedang melanggar hukum moral yang lebih luas. Hukum kosmik yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai penjaga (Khalifah).
Tetapi, modernisasi khususnya yang dibentuk oleh rasionalitas kapitalistik telah mengakibatkan pergeseran relasi. Alam direduksi menjadi komoditas, Tuhan dipisahkan dari ruang publik, dan manusia selalu diagungkan sebagai subjek rasional yang bebas akan nilai. Cara berpikir ini melahirkan antroposentrisme ekstrem, di mana prestasi diukur dari sejauh apa manusia bisa menaklukkan alam, bukan justru berdamai. Sehingga, eksploitasi dianggap sah selama menghasilkan pertumbuhan ekonomi, meskipun meninggalkan jejak kehancuran baru secara ekologis, dan penderitaan sosial.
Dalam konteks ini, relevansi Tuhan sering dipertanyakan. Sebagian menganggap Tuhan tidak lagi memiliki peran dalam dunia yang dapat dijelaskan oleh sains dan teknologi. Padahal, persoalannya bukan pada absennya Tuhan, melainkan pada kegagalan manusia membaca makna kehadiran-Nya. Tuhan tidak hadir sebagai pesaing rasionalitas manusia, melainkan sebagai sumber etika, kesadaran batas, dan tanggung jawab moral. Ketika manusia kehilangan orientasi ketuhanan, ia kehilangan kompas etis dalam mengelola kekuasaan dan pengetahuan.
Relasi antara manusia dan Tuhan seharusnya tidak stagnan pada dimensi yang abstrak. Iman harus bersikap dalam tindakan konkrit, hanyalah spiritualisme kosong. Begitu sebaliknya, kepedulian terhadap alam tanpa kesadaran transendental beresiko terjebak pada harmonisasi atau romantisme ekologis yang lembek atau rapuh. Semuanya harus berjalan beriringan seirama.
Alam, dalam posisi ini, menjadi ruang etis tempat manusia menguji integritas imannya. Cara manusia menambang, menebang hutan, mengelola air, dan memproduksi pangan adalah refleksi langsung dari cara ia memahami Tuhan dan dirinya sendiri. Jika manusia memandang Tuhan sebagai Yang Maha Adil, maka ketidakadilan ekologis—di mana segelintir pihak menikmati keuntungan sementara banyak pihak menanggung dampak kerusakan—menjadi kontradiksi moral yang serius.
Oleh karena itu, relevansi alam, Tuhan, dan manusia hari ini bukan sekadar isu teologis atau ekologis, melainkan isu peradaban. Kita membutuhkan cara pandang baru (atau mungkin cara pandang lama yang dihidupkan kembali) yang menempatkan manusia sebagai makhluk relasional: terikat pada alam dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kesadaran ini penting untuk membangun masa depan yang berkelanjutan, adil, dan bermakna.
Pada akhirnya, krisis yang kita hadapi bukan hanya krisis lingkungan, tetapi krisis makna. Alam rusak karena manusia lupa batas, Tuhan terpinggirkan karena manusia mabuk kuasa, dan manusia sendiri terasing karena memutus relasi dengan keduanya. Mengembalikan relevansi alam, Tuhan, dan manusia berarti mengembalikan keseimbangan hidup—sebuah tugas moral yang tidak bisa lagi ditunda.
Reporter: Jhul-Ohi





