BOLMONG SELATAN, suaraindonesia1.com – Warga petani di Desa Nunuka Raya, Kecamatan Tomini, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (BOLSEL), menahan pengangkutan material batu hitam yang diduga akan ditambang dari kawasan Gunung Data Hulu. Aksi penahanan ini dilakukan karena kekhawatiran rusaknya infrastruktur jalan tani yang vital bagi masyarakat.
Menurut penuturan sejumlah petani, material batu hitam tersebut rencananya akan diangkut menggunakan kendaraan bermotor yang telah dimodifikasi. Mereka khawatir, intensitas pengangkutan yang diduga akan dilakukan secara besar-besaran akan merusak struktur jalan tani sepanjang jalur menuju gunung. Jalan tersebut merupakan akses utama bagi petani untuk mengangkut hasil pertanian.
“Kami menahan karena jalan tani akan rusak. Keyakinan kami, nanti material yang diangkut akan sangat banyak dan menggilas jalan yang kami rawat bersama,” ujar salah seorang perwakilan petani.
Tidak hanya soal jalan, konflik juga muncul terkait penggunaan lahan. Petani melaporkan adanya lahan produktif mereka yang ditanami palawija, seperti rica (cabai), yang dipaksakan untuk dilalui oleh kendaraan pengangkut. Meski telah ditegur secara langsung, pengemudi dan pihak terkait diduga tidak mengindahkan protes warga.
“Lahan kami yang ditanami rica dipaksakan lewat. Sudah kami tegur, tapi tidak dihiraukan. Ini merugikan kami,” tambah petani lain.
Merespons hal ini, para petani menyampaikan permohonan tegas kepada Pemerintah Daerah Bolsel dan Aparat Penegak Hukum (APH), dalam hal ini Kepolisian Resor (Polres) Bolsel, untuk segera turun tangan. Mereka meminta tindakan nyata guna menghentikan aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan dan mata pencaharian warga.
“Kami memohon ada sikap tegas dari pemerintah daerah dan Polres Bolsel. Jangan sampai hak-hak kami sebagai petani terabaikan,” tutur mereka.
Material Diduga Siap Diangkut
Hasil pantauan awak media di lokasi, terlihat tumpukan karung-karung yang diduga berisi material batu hitam. Material tersebut tampak siap untuk diturunkan ke area perkampungan. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, metode pengangkutan yang digunakan adalah dengan sistem sling atau tali untuk menurunkan karung-karung tersebut agar lebih mudah mencapai pemukiman.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan atau pengangkut material maupun dari Pemerintah Daerah Bolsel dan Polres Bolsel terkait konflik ini. Warga berharap agar permasalahan ini segera diselesaikan secara hukum dan berdialog, demi kelestarian lingkungan serta keberlanjutan pertanian di Desa Nunuka Raya.
Reporter: Jhul-Ohi


