BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Forum Pemuda Gorontalo Kritik Keras Pemerintah: Validasi PENAS Diutamakan, Namun Abai dalam Solusi, Lahan Petani Rusak Akibat PETI, Pemerintah Dinilai Tak Punya Hati?


GORONTALO, SuaraIndonesia1.com – Forum Pemuda Gorontalo menyampaikan kritik keras kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Pemerintah dinilai lebih sibuk dengan rangkaian perayaan sebelum maupun sesudah pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS), sementara berbagai persoalan mendasar yang dihadapi petani hingga kini belum mendapatkan penyelesaian yang nyata.


Menurut Forum Pemuda Gorontalo, di balik kemeriahan acara dan berbagai bentuk seremoni, masih tersimpan harapan besar para petani yang belum dijawab oleh pemerintah. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah dugaan pemotongan hasil gabah petani di Kabupaten Gorontalo. Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, potongan tersebut mencapai sekitar 20–30 persen. Jika informasi tersebut benar, maka kondisi ini sangat merugikan petani yang telah bekerja keras sepanjang musim tanam.


Namun, persoalan yang dihadapi petani tidak berhenti pada hasil panen. Kerusakan lahan pertanian akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) juga dinilai semakin mengancam keberlangsungan sektor pertanian di Gorontalo. Lahan produktif yang seharusnya menjadi sumber penghidupan masyarakat perlahan mengalami kerusakan, sementara aktivitas PETI masih terus berlangsung di sejumlah wilayah.


Forum Pemuda Gorontalo menilai bahwa pemerintah justru memperlihatkan sikap yang lebih mengedepankan pencitraan dan saling mencari pengakuan atas keberhasilan menghadirkan PENAS di Gorontalo. Perdebatan mengenai siapa yang paling berjasa dinilai tidak memberikan manfaat langsung bagi petani yang setiap hari menghadapi persoalan nyata di lapangan.


"Yang dibutuhkan petani hari ini bukan perlombaan mencari validasi politik atau panggung pencitraan. Yang dibutuhkan adalah keberanian pemerintah mengambil langkah konkret menyelesaikan persoalan pertanian yang semakin memprihatinkan," tegas Forum Pemuda Gorontalo.

Forum tersebut mempertanyakan dampak nyata setelah pelaksanaan PENAS. Apakah benar telah terjadi perubahan signifikan terhadap kesejahteraan petani? Apakah persoalan pemotongan gabah sudah diselesaikan? Apakah kerusakan lahan pertanian akibat PETI sudah dihentikan? Menurut mereka, fakta di lapangan justru menunjukkan aktivitas PETI masih terus berlangsung di Provinsi Gorontalo, dalam hal ini di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Boalemo, sementara kerusakan lingkungan dan lahan pertanian terus meluas.


Koordinator Forum Pemuda Gorontalo, Zasmin Dalanggo, menyatakan sangat menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai lamban merespons persoalan petani.


"Kami sangat menyayangkan ketika petani membutuhkan kehadiran pemerintah, pemerintah justru terkesan abai. Namun ketika berbicara soal pencitraan dan seremoni, pemerintah tampil paling depan. Kondisi ini tidak boleh terus dibiarkan karena yang dipertaruhkan adalah masa depan pertanian Gorontalo dan kesejahteraan para petani."

Forum Pemuda Gorontalo mendesak Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah nyata, antara lain:


• Mengusut dugaan praktik pemotongan gabah yang merugikan petani;

• Menertibkan, menghentikan, dan memproses hukum aktivitas PETI yang merusak lahan pertanian dan lingkungan;

• Menempatkan kepentingan petani sebagai prioritas utama, bukan sekadar agenda seremonial dan pencitraan.


Forum Pemuda Gorontalo menegaskan bahwa keberhasilan suatu daerah tidak diukur dari banyaknya perayaan atau kegiatan seremonial, melainkan dari kemampuan pemerintah menyelesaikan persoalan masyarakat. Selama petani masih dirugikan, lahan pertanian terus rusak, dan aktivitas PETI tetap beroperasi, maka klaim keberhasilan pembangunan di sektor pertanian patut dipertanyakan. (JO)
« PREV
NEXT »