KEPULAUAN YAPEN — Suaraindonesia1.com. Suasana penuh haru, syukur dan kebersamaan mewarnai kegiatan penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura Kelompok 20 di Kampung Ketuapi, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen. Senin (24/08/2026
Setelah menjalani masa pengabdian selama kurang lebih 1 bulan 10 hari, mahasiswa KKN Kelompok 20 bersama Pemerintah Kampung Ketuapi dan masyarakat menggelar ibadah syukuran penutupan kegiatan KKN, yang dirangkaikan dengan makan bersama sebagai ungkapan syukur atas seluruh proses pengabdian yang telah dilalui.
Namun, sebelum ibadah syukuran dimulai, suasana haru terlebih dahulu terasa melalui prosesi pemberian cenderamata sebagai tanda kasih, kenangan dan ucapan terima kasih dari aparat kampung, masyarakat Kampung Ketuapi serta warga Jemaat GKI Bethania Mariadei kepada mahasiswa dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Kelompok 20.
Pemberian cenderamata tersebut dilakukan secara simbolis oleh Pdt. Marthen Kalo, S.Th., kepada Dosen Pendamping KKN Kelompok 20, Evelin Agustina Marani, S.IP., M.Sos. Cenderamata tersebut menjadi simbol penghargaan dan ungkapan terima kasih atas kebersamaan yang telah terbangun selama mahasiswa melaksanakan pengabdian di Kampung Ketuapi.
Bukan sekadar sebuah pemberian, cenderamata itu menjadi kenangan yang menyimpan cerita tentang perjumpaan, pelayanan, kerja sama dan kebersamaan antara mahasiswa KKN dengan masyarakat.
Selanjutnya, cenderamata kedua diberikan oleh Plt. Kepala Kampung Ketuapi, Derek Payai, kepada perwakilan mahasiswa, yaitu Ketua KKN Kelompok 20 Kampung Ketuapi, Muhammad Afif Aqilah. Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi Pemerintah Kampung Ketuapi kepada seluruh mahasiswa KKN Kelompok 20 yang selama berada di kampung telah mengambil bagian dalam berbagai kegiatan dan program yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ibadah Syukuran Jadi Momentum Perpisahan Usai prosesi pemberian cenderamata, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah syukuran penutupan KKN. Ibadah menjadi momentum untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama mahasiswa menjalankan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian.
Dalam suasana kekeluargaan, mahasiswa, pemerintah kampung, aparat kampung dan masyarakat bersama-sama mengikuti ibadah hingga selesai. Momen tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi atas perjalanan mahasiswa selama berada di Kampung Ketuapi. Berbagai pengalaman, suka dan duka, tantangan, serta kebersamaan yang dilalui selama KKN menjadi bagian penting yang tidak akan mudah dilupakan.
Kehadiran mahasiswa selama kurang lebih satu bulan sepuluh hari tidak hanya meninggalkan program kerja, tetapi juga membangun hubungan sosial dan kekeluargaan dengan masyarakat.
Makan Bersama, Tutup KKN dengan Kekeluargaan, Setelah ibadah syukuran, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama mahasiswa KKN Kelompok 20 dan masyarakat Kampung Ketuapi.
Suasana kekeluargaan begitu terasa. Mahasiswa dan masyarakat duduk bersama, berbagi makanan, cerita dan pengalaman. Tidak ada lagi sekat antara mahasiswa dan masyarakat karena selama masa KKN telah terbangun hubungan yang erat melalui berbagai kegiatan bersama.
Makan bersama menjadi simbol sederhana namun bermakna bahwa pengabdian tidak hanya tentang program yang diselesaikan, tetapi juga tentang hati yang dipertemukan melalui kebersamaan. Bagi mahasiswa KKN Kelompok 20, Kampung Ketuapi bukan sekadar tempat melaksanakan kewajiban akademik. Kampung ini telah menjadi ruang belajar tentang kehidupan masyarakat, pelayanan, gotong royong, tanggung jawab dan arti sebuah keluarga di tanah rantau.
Sementara bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa menjadi warna tersendiri dalam kehidupan kampung selama masa pengabdian. Penutupan KKN akhirnya bukan menjadi akhir dari sebuah hubungan, melainkan awal dari kenangan yang akan terus dibawa oleh mahasiswa ketika kembali ke kampus.
Dari Kampus untuk Masyarakat. Dari Ketuapi untuk Kenangan. Dari Pengabdian untuk Sebuah Persaudaraan yang Tak Berakhir.
(Redaksi Suaraindonesia1.com)


