BREAKING NEWS
latest
header-ad

468x60

header-ad

Udheng dan Canting Raksasa Batal Ditampilkan di Pawai Budaya HUT ke-27 Provinsi Papua Barat


Manokwari, suaraindonesia1.com, Sabtu (10/10/2026),- "Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council atau WCW) pada 18 Oktober 2014 dimana Yogyakarta telah memenuhi 7 kriteria keunggulan ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia, seperti nilai sejarah, Keaslian, Konservasi, ekonomi, Lingkungan, Global, dan Keberlanjutan” tutur Cito Waluyo, Plt. Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Yogyakarta (IKBY) Manokwari dalam persiapan acara Pawai Budaya menyambut HUT ke 27 Pemerintah Provinsi Papua Barat, yang awalnya akan dilaksanakan Kamis (08/10/2026) tetapi ditunda pelaksanaannya hingga batas waktu yang belum ditentukan.


“Sampai tadi malam, hasil komunikasi dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Bp. Jafar Werfete, intinya disampaikan bahwa masih menunggu petunjuk pimpinan karena direncanakan akan ada modifikasi cuaca antara tanggal 11-14 Oktober 2026 sebagai salah satu solusi untuk mengatasi polusi asap di Manokwari akibat kebakaran dan polusi asap kiriman dari daerah lain, sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada pawai budaya pada hari ini, Sabtu, 10 Oktober 2026. Oleh karena itu, kami putuskan membongkar property yang disiapkan untuk acara tersebut khususnya Udheng atau Ikat Kepala Gaya Mataraman yang oleh sebagian orang disebut sebagai Blangkon dikarenakan kain yang dipakai statusnya adalah pinjaman dan bukan properti asli milik IKBY Manokwari, sehingga harus segera dikembalikan. Begitu pula dengan Bola besar yang tadinya direncanakan untuk replika bola dunia dan papan bertema ukiran papua, maupun replika tifa, yang merupakan pinjaman dari mitra IKBY Manokwari, juga harus segera dikembalikan” ujar Muhammad Subagyo Sugiarto, Ketua IKBY Manokwari.  


“Kita baru saja memperingati Hari Batik Nasional yang mengusung tema “Batik Berlayar” pada 2 Oktober 2026 lalu. Ini relevan dengan fakta bahwa untuk menuju Manokwari dari Yogyakarta, selain dengan pesawat udara, juga bisa menggunakan kapal laut atau perahu layar. Sehingga berkaitan dengan tema dan peringatan tersebut, tadinya direncanakan dalam Pawai Budaya kali ini, IKBY Manokwari menampilkan performance gamelan dan koreografi membatik.”, Sambung Cito. 


“Tim gamelan yang diturunkan oleh IKBY Manokwari adalah Tim Putri sehingga selain P. Sukamto sebagai Pelatih, maka personel lain sementara tidak ditampilkan. Tim gamelan IKBY Manokwari sebagai dibentuk November 2025. Meski sudah mempersiapkan diri dengan baik, tetapi acara pawai budaya yang rencana diikuti oleh sekitar 122 tim batal terlaksana dikarenakan himbauan resmi tertanggal 07-10-2026 dari Pemerintah Provinsi provinsi Papua Barat akibat bencana asap yang melanda Manokwari. Tetapi perwakilan peserta tetap diminta mengambil snack yang terlanjur disiapkan oleh Panitia pada Kamis, 08 Oktober 2026 lalu.”, Sambung Subagyo.


“Padahal kontingen IKBY Manokwari juga telah mempersiapkan replika Tugu Yogyakarta yang merupakan bagian dari ikon Yogyakarta yang sudah sangat dikenal luas, replika canting, contoh batik dengan ragam hias Nitik sebagai batik khas Yogyakarta dimana telah terbukti bahwa batik ini termasuk tertua yang berkembang dengan baik. Edukasi Sejarah tentang batik, busana adat Jawa laki-laki, dan Peta Yogyakarta dilakukan oleh IKBY Manokwari melalui tampilan papan peraga pada mobil hias IKBY Manokwari yang direncanakan tampil di acara tersebut. Visualisasi bola dunia dengan memakai udheng atau blangkon Mataraman khas Yogyakarta sebagai perwujudan bahwa Yogyakarta sebagai Kota Batik telah mendunia. Berdasarkan referensi yang pernah dibaca, Batik nitik memiliki 90 motif, dengan 5 motif diantaranya merupakan motif dasar batik nitik. Beberapa motif klasik batik nitik yang menjadi ciri khas dari Dusun Kembangsongo adalah motif kembang waru, motif nogo sari, motif srengenge, dan motif kembang dangah.” Pungkas Cito.


Seperti yang telah diketahui bahwa motif nitik terdiri dari ribuan titik yang tersusun dan terukur sedemikan rupa sehingga membentuk ruang, sudut, dan bidang geometris. Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, kerangka ragam hiasnya dibuat cecek (cecek pitu, cecek telu), serta dikombinasi dengan ornamen klowong dan tembokan. Berbeda dengan motif batik lainnya yang bisa lebih fleksibel dalam menggambarkannya di kain, nitik sangat rigid, rumit, dan bisa dikatakan kompleks. Meski begitu motif nitik tidak kalah indahnya dengan ragam hias lain seperti lereng, ceplok, dan yang lainnya.


Dikutip dari berbagai sumber, Secara harfiah, membatik diartikan sebagai menggoreskan lilin panas ke atas kain menggunakan canting tulis maupun cap untuk membuat motif yang memiliki makna.


Batik nitik merupakan batik dengan motif yang tersusun dari ribuan titik-titik. Rupanya batik nitik merupakan adaptasi dari anyaman kain tenun Patola India (kain cinde). Kata nitik berasal dari bahasa jawa “nitiki” yang berarti “memberi titik”. Awal mula batik nitik muncul akibat dari penjualan kain tenun patola India yang dimonopoli oleh Belanda pada tahun 1600-an. Akibatnya harga jual dari kain tersebut menjadi lebih mahal. Kenaikan harga kain yang berlipat-lipat ganda mengakibatkan penjualan kain patola menurun di tahun 1700-an. Kemudian perempuan-perempuan di Yogyakarta menginisasi untuk membuat kain batik dengan motif patola sebagai ganti dari kain patola. Dari situlah batik nitik lahir. Masyarakat pada saat itu pun lebih memilih untuk membeli kain batik ketimbang kain impor karena harganya yang jauh lebih murah. Kondisi tersebut membuat batik tulis nitik sukses berkembang di kalangan pribumi kala itu, dari Jawa hingga Sumatera. 


Di Yogyakarta, batik nitik saat ini masih terus eksis di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kalurahan Trimulyo Kapanewon Jetis Kabupaten Bantul, yang produsennya tersebar di beberapa dusun di kalurahan Trimulyo seperti di Dusun Kembangsongo, Dusun Blawong, Dusun Bembem, dll. Produsen batik nitik di Dusun Kembangsongo adalah produsen tertua di kalurahan trimulyo yang mampu terus bertahan hingga terjadi gempa bumi pada tahun 2006 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, pasca terjadinya gempa tersebut mulailah muncul kelompok kelompok produsen batik di berbagai dusun di wilayah kalurahan Trimulyo. (release/cr)

« PREV
NEXT »